Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Maaf, Saya Tidak Akan Mendoakanmu Bercerai!

Konten [Tampil]

mendoakan agar cerai

Tadi siang saya membaca sebuah keluh kesah di grup Single Mom Indonesia. Keluhan tersebut berasal dari seorang istri yang mengeluhkan suaminya yang kasar dan pemalas.

Saya lupa sih cerita selengkapnya, dan sepertinya tulisan tersebut juga sudah dihapus lagi sama empunya. Intinya diujung ceritanya si mom tersebut minta doa agar bisa bercerai daripada mati di tangan suaminya.

Dari sekian banyak komentar yang nyuruh segera urus surat cerai, ada satu komentar kontra yang mana memberikan saran agar si mom tersebut menunda keinginan bercerainya, sampai ekonominya membaik.

Komentar itu akhirnya diserang beberapa orang, dan bikin saya kasian lalu membela si pemberi komentar. Dan di bawahnya saya ikut berkomentar. Kira-kira begini,

"Peluk Mom. Tapi maaf, saya nggak mau mendoakan Mom biar cerai. Saya terlebih dahulu mendoakan dengan tulus, agar Mom bisa mandiri, tenang dan kuat. Karena tanpa itu, ibarat mom keluar dari kamar neraka satu, masuk ke kamar neraka lainnya."


Bercerai itu Mudah, Sesudah Bercerai itu yang Penuh Tantangan

Saya sedih sih kebanyakan orang zaman now itu, apa-apa, cerai!.

cerai itu mudah

Liat orang mengeluh tentang rumah tangganya sedikit, suruh cerai!

Apalagi mengeluh banyak tentang rumah tangga ya? hahaha.

Masalahnya kan sebenarnya tuh poinnya bukan cerai, tapi setelah bercerai.

Di grup Single Mom Indonesia tersebut misalnya, selain masalah dengan suami yang katanya toksik, masalah mantan suami nggak mau nafkahi anak, serta masalah dengan ortu sendiri, khususnya ibu, menjadi top curhatan para single mom.

Iya, banyak yang struggle kebingungan, stres dan merasa hampa serta lelah menjalani kehidupan setelah bercerai. Lantaran merasa sendiri, ada masalah apapun dipikul sendiri, masalah anak dihadapi sendiri. Belum lagi harus mencari nafkah untuk membiayai anak-anaknya.

Karena mostly para suami lepas tanggung jawab setelah bercerai dan anak ikut ibunya. Saya mencoba mengerti pikiran para mantan suami, meskipun itu salah ya.

Salah satunya adalah mereka takut uang yang dikasih ke mantan istri dengan tujuan buat anak, malah dipakai oleh mantan istrinya.

Selain alasan lain misal si mantan suami akhirnya menikah lagi, dan keuangannya jadi harus memenuhi keluarga barunya.

Nyatanya, hal-hal begini kayaknya luput dari pemikiran banyak istri, sebelum memutuskan bercerai.

Ada juga yang menganggap, istri ikut cari uang, seharusnya nggak perlu takut dengan perceraian, toh bisa cari uang sendiri.

Mereka lupa, kalau semua wanita bisa cari uang sendiri, tapi nggak semua wanita bisa cari uang sendiri untuk membiayai diri dan anak-anaknya.

Ini yang paling sering saya alami.

Sering banget, ketika udah nggak tahan dengan kondisi beban yang saya pikul, curhatlah saya demi melapangkan hati sejenak.

Yang ada adalah, DM saya bakalan penuh, di mana kebanyakan pesan menyarankan saya untuk bercerai. Alasannya, saya bisa cari uang sendiri.

Iya, bener, Alhamdulillah saya masih bisa cari uang sendiri, tapi percayalah, saya bertahan nggak ribut urus surat cerai, karena masih ada konstribusi papinya anak-anak, khususnya dalam biaya hidup.

Kalau saya udah bisa mandiri, percayalah, nggak ada alasan untuk saya curhat di medsos, karena saya nggak punya masalah pelik.

Yang pelik itu kan karena saya nggak tahan hidup dengan manusia seperti itu, tapi saya belum sanggup membiayai anak-anak sendiri.

Dan percayalah, ini adalah masalah 10001 mom atau istri di dunia ini.

Salah satunya di grup SMI tersebut, kebanyakan istri yang belum urus surat cerai, karena bingung, urus surat cerai aja nggak punya biaya. Pegimana setelah cerai?

I know, Allah itu Maha Kaya, tapi liat dong banyak anak yang akhirnya menguburkan mimpinya, karena ortunya bercerai dan nggak ada lagi yang membiayai sekolah anak tersebut.

Dan percayalah, anak-anak seperti itu, bukan melulu karena ibunya malas, hanya memang karena mungkin rezeki anak ada di ayahnya, tapi diembat sendiri sama ayahnya.

Nafkah hidup dan pendidikan anak bukanlah satu-satunya tantangan setelah bercerai, kebanyakan istri atau wanita yang bercerai, mau nggak mau memilih pulang ke rumah ortu.

Lalu memaksa ortu untuk mengerti kondisinya.

Ya susah!

Ortu udah puluhan tahun melahirkan dan mengasuh kita, iya kalau mereka orang berada, mungkin selaam mengasuh kita, mereka nggak terlalu capek.

Tapi, bagaimana kalau ternyata ortu bukanlah orang berada, ketika anak perempuannya menikah, mereka menarik nafas lega, setidaknya sudah ada yang mengambil tugas dan tanggung jawab mereka terhadap anak perempuannya.

Lalu, setelah mereka bebas dan menikmati hidup tanpa dibebani anak lagi. Tiba-tiba anak perempuannya pulang, ketambahan bawa cucu pulak.

Bahkan ketika anak perempuannya bisa bekerja menghasilkan uang, tapi anaknya disuruh ibunya yang jagain, tentunya ibu yang udah bertahun-tahun bisa santai menikmati hidup, lalu tiba-tiba harus mengurus cucu lagi. Bukanlah sebuah hal yang salah, jika akhirnya orang tua merasa stres akan hal itu.

Belum lagi omongan tetangga.

Di mana, orang tua zaman dulu tuh, apalagi yang kesehariannya di rumah saja, tentu saja sangat peduli dengan tetangga. 

Lalu, anaknya gagal dalam pernikahan dan pulang ke rumah ortu.

I know, tak ada yang salah dengan itu, bukan keinginan siapapun jika rumah tangganya akhirnya gagal. Masalahnya kan ortu juga punya masalahnya sendiri, salah satunya masalah jadi terbebani oleh omongan tetangga.

Intinya, bukan semata salah ortu, khususnya ibu, ketika anak perempuannya memilih menyerah pada rumah tangganya, apalagi rumah tangga itu adalah pilihannya sendiri, lalu pulang dan membebani ortu lagi.

Mengurus anak itu capek loh, jadi ortu itu melelahkan, wajar banget jika ortu akhirnya merasa terbebani setelah anaknya cerai dan pulang ke rumah.

Yang perlu diperhatikan juga nih ya, selepas bercerai, kondisi mental single mom itu nggak bsia langsung happy melulu. Yang namanya perceraian, semenyakitkan apapun penyebabnya, bahkan menceraikan suami yang kasar, tukang selingkuh sekalipun, tentunya tetap menyisakan sebuah mental yang tidak baik-baik saja.

Itulah yang menjadi masalah besar ketika single mom pulang ke rumah ortu selepas bercerai. Dengan kondisi mental yang masih dalam tahapan berjuang untuk memproses rasa gagalnya. Tentu saja kondisi emosi sangat tidak stabil.

Hasilnya bisa menyebabkan permasalahan dengan orang tua, baik salah paham atau tersinggung dengan perkataan ortu, lalu meledak.

Atau bisa juga single mom jadi malas beraktifitas, tiduran saja di kamar, nggak ada gairah ngapa-ngapain. 

Dan hal ini tentunya bakalan jad masalah khususnya kalau ortu nggak punya pembantu, sudahlah kerjaan dia makin bertambah setelah anak perempuannya bercerai, ketambahan dengan sikap malas si anak perempuan tersebut sebagai dampak dari depresi selepas perceraian, kelar sudah.

Sedihnya juga, banyak single mom yang meletakan kebahagiaannya di bahu orang tua. Sering banget tuh baca curhatan di grup MHI yang intinya banyak anak perempuan yang kembali ke rumah ortu, selepas bercerai, lalu akhirnya stres dengan perceraiannya. Dan kesal karena ortunya terkesan tidak mengerti dirinya.

Dia ingin ortunya mengerti kondisinya karena saat itu dia sangat butuh support sistem. Off course ini benar adanya.

Tapi masalahnya kan kita ini bukan anak kecil lagi, apalagi jika waktu depresi pasca bercerai kita berlarut-larut tanpa ujung. Seminggu aja melihat anak perempuannya yang bercerai hanya bermalas-malasan di kamar, anaknya bahkan diurus ortunya, sudah cukup bikin ortu kesal melihatnya, apalagi sampai bulanan?.

Dan yang jadi poinnya kan, permasalahan mental itu, nggak akan bisa sembuh dengan waktu, tapi dengan usaha pribadi yang ingin sembuh dan lebih baik.


Kisah Nyata Single Mom yang Pulang Ke Rumah Ortunya

Semua tulisan saya ini, tidak semata-mata hanya opini pribadi dan curhat para single mom di grup MHI. Tapi juga berdasarkan pengamatan dan cerita langsung dari seorang mantan single mom.

kehidupan pasca cerai

Jadi ceritanya, ada seseorang yang saya kenal bercerita kepada saya, tentang perjalanannya mengapa dia cerai, sampai masa-masa dia berdamai dengan perceraiannya.

Kita sebut saja, namanya Luna.

Si Mbak Luna ini, terpaksa bercerai dari suaminya setelah sang suami meminta izin untuk menikah lagi, dengan alasan keuangan.

FYI, ketika menikah, mereka adalah pasangan yang saling mencintai dengan mandiri. Jadi, pernikahan mereka, tidak mengizinkan campur tangan ortu terlalu mendalam.

Setelah menikahpun, si Luna benar-benar berbakti sama suaminya, dan memang suaminya ini sayang banget sama dia. Mereka adalah pasangan yang asyik, dan sudah memiliki anak perempuan.

Gaya hidup mereka sama, sama-sama suka dunia gemerlap. Sayangnya, karena gaya hidup tersebut, keuangan mereka jadi tidak memadai. 

Dari situlah masalahnya, suatu hari si suami akhirnya berkenalan dengan seorang single mom kaya, dan seiring waktu single mom ini, jadi sering bantuin suaminya.

Akhirnya lama-lama suaminya ingin memperistri si single mom tersebut. Dia lalu membujuk si Luna untuk menyetujui, dengan harapan masalah keuangan mereka jadi selesai dengan uang si wanita itu.

Awalnya, si Luna akhirnya setuju, sayangnya setelah dijalanin, ternyata hatinya berontak, ada masa ketika dia harus menahan hati mengizinkan suaminya menemani si single mom.

Dan ujungnya bisa ditebak, setelah dia terlunta-lunta tanpa arah, membalas perlakuan suaminya dengan berselingkuh juga. Pergi dari rumah membawa anaknya dan menginap di hotel, sampai menghabiskan semua isi kartu kreditnya sampai akhirnya makin bermasalah terhadap keuangan.

Pada akhirnya keluarga mengetahui masalahnya, dan oleh keluarga, khususnya bapaknya dipaksa pulang ke rumahnya.

Dan tak menunggu waktu lama, bercerailah mereka, setelah mediasi yang dilakukan bapaknya ke suaminya gagal.

Maka dimulailah kehidupan si Luna sebagai single mom atau janda.

Dia lantas pulang ke rumah ortunya, membawa serta anak perempuannya. Harusnya kan dia lega, bisa lepas dari suami toksik yang tidak sejalan dan pengkhianat itu.

Tapi nyatanya enggak bisa.

Dia depresi, sulit menerima perpisahan, meski itu adalah pilihannya, bahkan dia yang menggugat cerai mantan suaminya itu.

Jadinya ya gitu, di rumah kerjaannya tidur saja, ditambah ada anak perempuannya yang juga tidak pernah dididik menjadi seseorang yang mandiri. Bahkan anak perempuan itu sudah SMP, tapi nggak bisa apa-apa. Mau makan saja harus diambilin dan dibawakan ke kamar.

Karena ibunya lagi stres, terpaksa eyangnya yang sudah tua yang mengurusnya.

Hari berganti minggu, bahkan sampai berganti bulan, kenyataannya keadaannya tidak juga membaik. Boro-boro membaik, dia bahkan akhirnya kehilangan pekerjaan, saking nggak konsen dalam bekerja dan marah-marah ke customer

Setelah kehilangan pekerjaan, dia akhirnya terobsesi harus dapat uang banyak. Pertama, dia dendam dengan wanita yang kaya yang menjadi penyebab rumah tangganya karam.

Kedua, meski tinggal di rumah ortu, tapi bapaknya memperlakukan dia sebagai orang dewasa, jadi dia diminta untuk bantu bayar kebutuhan di rumah itu. 

Sementara ibunya juga makin hari makin kesal melihat sikap anak perempuannya itu. Di kamar sepanjang hari, bangun-bangun langsung cari makan, nggak pernah bantuin ini itu, kalau ada uang dia makan sendiri di kamar tanpa menawarkan yang lain.

Sebenarnya itu bukan salahnya semata, dalam saat itu, si Luna sedang memproses statusnya dan mencoba berdamai dengan perceraiannya.

Nyatanya, bahkan yang punya pekerjaan tetap, punya rumah ortu yang bisa menjadi pelindungnya. Punya ortu yang bisa jagain anaknya ketika dia bekerja. Toh tidak menjamin, kehidupannya setelah bercerai jadi lebih baik.

Butuh waktu bertahun-tahun dengan banyak drama yang terjadi, antara dia dengan ortunya, dia dengan saudaranya yang masih tinggal di rumah tersebut. Bahkan dengan pembantu di rumah tersebut.

Sikap malasnya yang disebabkan rasa depresinya yang membuatnya seperti itu. Bergaul dengan suami orang? bukan sekali dua kali. Sampai-sampai ibunya sakit-sakitan, saking sedih dan mungkin kepikiran dengan omongan tetangga akan anak perempuannya yang bawa pulang lelaki berbeda.

Sampai akhirnya doa ibunya dikabulkan, berkenalanlah dia dengan seorang duda cerai beranak, sampai akhirnya bisa menikah.

Apakah hidupnya tenang?

Tidak juga, menikah dengan duda cerai banyak anak, apalagi anak sudah dewasa semua, bukanlah hal yang mudah.

Apalagi si Luna ini akhirnya tidak punya pekerjaan lagi. Usaha apapun selalu gagal, akhirnya bergantung sepenuhnya ke suami barunya. Apalagi bawa anak perempuan yang butuh biaya pendidikan.

Tapi setidaknya, beban ortunya jadi berkurang, karena anak perempuannya sudah ada yang menjaganya kembali. 


Maaf, Saya Tidak Akan Mendoakanmu Bercerai!

Dari cerita nyata di atas, saya memutuskan, untuk meminta maaf ke para istri yang minta doa agar bisa bercerai.

jangan cerai

Maaf, saya tidak akan mendoakan untuk bercerai, setidaknya belum.

Karena, ketika wanita berstatus istri punya masalah rumah tangga, yang dibutuhkan itu tidak selalu cerai, tapi bagaimana bisa menjadi tenang dan mandiri dalam menghadapi hidup.

Karenanya, alih-alih sibuk ke pengadilan mengurus surat cerai, mending fokus menjadi wanita yang punya penghasilan dan rumah sendiri.

Beda lagi kalau setelah bercerai rumah adalah milik istri ya, setidaknya ada tempat menyendiri menikmati rasa depresi akibat kegagalan dalam rumah tangga.

Karena, akan sangat sulit dilakukan, jika kita berada di rumah ortu, apalagi kalau ortu bukan orang berpunya, sehingga kehadiran anak perempuannya kembali, seolah kembali memberikan beban yang baru saja bisa dilepas ke suami anaknya.

Cerita di atas juga bukan sebagai kisah untuk menakut-nakutin para istri yang ingin bercerai. Tidak ya.

Saya hanya ingin mengajak banyak istri, untuk memikirkan sampai menyadari bagaimana kehidupan setelah bercerai itu.

Tidak semua wanita bisa dengan mudah menemukan kebahagiaannya setelah bercerai. Yang ada, setelah bercerai kondisinya jauh lebih buruk.

Si Luna di atas itu ya, sampai sekarang harus mengkonsumsi berbagai jenis obat, demi mengobati sakit lambung yang muncul dan memburuk setelah perceraiannya.

Karena itulah, akan lebih baik jika menyikapi masalah rumah tangga, dengan sibuk memperbaiki diri. Bikin diri sendiri menjadi wanita yang kuat dan mandiri.

Bisa memeluk depresinya sendiri, bisa punya penghasilan untuk menafkahi diri dan anak-anak, berjaga-jaga jika ayahnya tidak mau menafkahi anaknya setelah bercerai. Dan sebisa mungkin, jangan tinggal bersama ortu maupun keluarga setelah bercerai, karenanya akan lebih baik kalau memastikan dulu, punya tempat tinggal sendiri bersama anak, selepas bercerai.

Akan lebih baik, jika sudah punya rumah sendiri, dan ketika cerai rumah bisa ditinggali oleh mantan istri dan anak-anak.

Jadi begitulah maksudnya, saya ogah mendoakan para istri yang nggak bahagia, untuk bisa bercerai. Saya akan memilih mendoakan semua wanita menjadi sosok yang kuat dan bisa self healing dengan baik.

Sehingga ketika bercerai, cita-cita sebelum cerai dan tujuan itu bakal terlaksana. Iya kan, semua wanita yang bercerai, tentunya dengan harapan bisa lebih bahagia kan?.

Nah, kalau wanita hanya nekat bercerai tanpa adanya modal terlebih dahulu, itu tuh ibarat keluar dari neraka satu, masuk ke neraka lain. Dan masalahnya kalau neraka pernikahan, masih ada happy-nya, ketika suami masih ada manis-manisnya, atau melihat anak yang bahagia karena masih punya orang tua secara lengkap.

Nah setelah bercerai, banyak yang sulit merasa bahagia, meskipun mereka sudah terlepas dari yang katanya pasangan toksik itu.

Kalau sudah demikian, cita-cita bercerai agar anak bahagia dan nggak stres liat ortunya nggak akur, ya cuman di angan-angan. 

Tapi mungkin ada yang bilang, kalau enggak bisa, gimana cara bisa benar-benar tenang, ada pasangan toksik di depan kita?.

Well, ini jadi masalah juga sih ya.

Karena berbeda dengan kondisi saya, yang meskipun bertahan tapi nggak ada lagi komunikasi yang intens, tapi kami terpisah tempat. Jadi, saya hanya terikat buku nikah, tapi nggak perlu sakit hati oleh sikap suami yang kurang berkenan di hati setiap hari.

Kalau kami hidup serumah, mungkin memang berat banget untuk dijalanin, karena ibarat musuh kita ada di depan mata kita, gimana cara bisa fokus ke diri sendiri kan ye?.

Namun nih ya, kalau dipikir-pikir lagi, jika memang tidak ada jalan lain, ya udah niatkan saja untuk memperbaiki diri. Bukan untuk latihan atau persiapan bercerai, hahaha.

Siapa tahu, emang masih jodoh kan ya, di mana ketika akhirnya kita berhasil menjadi wanita yang mandiri, dan kuat. Eh ternyata suami jadi jatuh cinta pada kita lagi. Dan kita pun bisa dengan mudah berkomunikasi dengan suami, sehingga bisa memperbaiki bagaimana jalan dan tujuan rumah tangga itu.

Bukankah itu jauh lebih baik ya?.

Meski Allah tidak mengharamkan perceraian, tapi Allah membenci perceraian.

Bukankah itu berarti bahwa mempertahankan pernikahan itu lebih diberkahi Allah?.

Apalagi nih ya, disadari atau tidak, dipungkiri atau tidak, sedikit banyak sikap pasangan kita itu, ya juga pengaruhnya dari kita.

Ditambah, meski suami punya sikap atau karakter yang buruk, dan sulit baginya untuk meninggalkan karakter itu, atau membuatnya berubah. Bukankah Allah Maha Pembolak Balik hati hamba-Nya.

Kalau Allah berkehendak, siapapun bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi. Bahkan sering kan kita lihat, orang yang awalnya bandel, eh semakin bertambah usia, Alhamdulillah diberi hidayah untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Apalagi, kalau kita sudah menjadi wanita yang baik, dalam versi umum ya, bukan versi kita sendiri. 

FYI, kita pasti menyadari, betapa ketika tidak cocok dengan sikap suami, atau merasa disakiti suami, seolah yang salah itu suami, seolah kita yang paling baik, seolah suami cuman buruk-buruknya aja.

Padahal, masa iya sih sikap suami semua buruk?

Dia juga kan manusia, mana ada manusia yang buruk selalu hatinya? 


Kesimpulan dan Penutup

Etdah, padahal ini tulisan ngasal, ngasal curhat curcolan, hahaha. Tapi pakai penutup dan kesimpulan segala, wakakakaka.

Soalnya setelah saya pikir-pikir, keknya tulisan saya kali ini ngalor ngidulnya kebangetan, hahaha. Mungkin banyak orang yang bingung menangkap, apa sih yang sebenarnya ingin saya sampaikan? Kok rasanya bertele-tele ke sana ke mari aja.

Makanya saya simpulkan aja, bahwasanya dari tadi saya nulis membahas sana sini itu, tiada lain dan tiada bukan, mengajak para wanita untuk bijak memutuskan jalan hidupnnya.

Nggak selalu, dikit-dikit cerai, apalagi akta cerai itu bukan surat obligasi yang menghasilkan uang, hehehe.

Jadi sebelum bercerai, sebaiknya pahami dulu bagaimana kehidupan after divorce-nya. Yang mana, masih banyak eh bahkan bisa dibilang lebih banyak tantangannya buat wanita, apalagi kalau udah punya anak, apalagi anaknya masih kecil dan lebih dari satu.

Jangan sampai buru-buru bercerai, lalu pulang ke rumah ortu, lalu baper karena merasa ortu nggak bsia ngertiin dan support kondisi anaknya yang memilih bercerai. Lalu setelah cerai bingung mau ngapain, bahkan kehilangan pekerjaan hanya karena enggak bisa fokus dalam bekerja.

Jadi, persiapkan dulu ya kehidupan setelah bercerai, bahkan sebelum kita mengumpulkan data buat ngajuin gugutan cerai.

Biar cita-cita bercerai demi kebahagiaan bisa diwujudkan dengan baik. 


Surabaya, 30 Maret 2024

Post a Comment for "Maaf, Saya Tidak Akan Mendoakanmu Bercerai!"