Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Tentang Cinta Dari-Nya yang Tak Terbatas untuk Semuanya

Konten [Tampil]
cinta tak terbatas

Kalau ngomongin tentang cinta secara universal, seketika bikin mood naik turun ya, ada happy, tapi juga ada sedih.

Tapi, hal ini terasa menarik sih buat saya untuk dibahas, karena kalau dipikir-pikir, hidup saya tuh selalu melibatkan cinta di dalamnya *halah.

Meski dalam perjalanan kehidupan, cinta itu beragam bentuknya. Ada yang memberikan kebahagiaan, ada pula menyumbang luka, terutama luka batin yang mendalam. 


Cerita Melepas Cinta Demi Kakak

Sebagai anak tengah dari 3 bersaudara sebelum almarhum adik saya berpulang. Jujur kehidupan saya sangat tidak mudah.

Terabaikan tepat setelah adik saya lahir ketika usia saya 6 tahun. Bukan salah ortu sepenuhnya sih, memang kondisinya aja yang menjadikan seperti itu.

Tapi, sepengertiannya saya saat ini, tidaklah seperti ketika melewati masa-masa menyedihkan menjadi anak nomor terakhir dalam perhatian ortu.

Ye kan, adik saya laki, menjadi top perhatian ortu, lalu kakak saya perempuan, dan sebagai sulung tentunya diletakan banyak harapan ortu, beserta modalnya.

Sementara saya, anak perempuan yang mungkin cuman dianggap sebagai pelengkap. Toh sudah ada kakak saya yang juga sama-sama anak perempuan. Jadilah semua perhatian dan cinta buat saya, berada di posisi paling akhir.

Seringnya dapat cuman 'ampas'nya doang, hehehe.

Uniknya, sebagaimana perhatian ortu ke kakak melebihi perhatian mereka ke saya, toh tidak menjadikan kakak perempuan saya puas.

Dia tetap merasa bahwa kasih sayang ortu ke dirinya adalah prioritas paling akhir. Dan perasaan tersebut di bawah sampai besar.

Sedih sih, dituduh menghabiskan cinta ortu, sementara di mata saya, ortu jauh lebih mempedulikan kakak, mungkin karena dia anak pertama yang menjadi harapan keluarga kan.

Keadaan semakin bertambah menjadi beban yang berat di hati seorang adik yang 'nggak enakan' ini, setelah kami dewasa dan mengenal cinta lawan jenis.

Seorang lelaki jatuh cinta pada saya, tapi sayanya nggak suka. Karena patah hati, si lelaki akhirnya menikahi kakak saya.

Sayangnya, perasaan si lelaki masih selalu berpihak pada saya. Sampai akhirnya sudah tunangan, menikah bahkan punya anak.

Melihat hal demikian, kakak saya semakin sedih. Dan menganggap saya selalu merebut cinta darinya. ya cinta ortu, cinta pasangannya.

Dan karena itulah, menjadi salah satu alasan saya pergi menjauh. Agar kakak bisa merasakan semua cinta ortu ke dirinya, dan cinta pasangannya ke dirinya. Tanpa harus ada perasaan terkontaminasi atas kehadiran saya.


Ketika Cinta Tulus Tidak Abadi

Allah Maha besar, ketika cinta yang ditujukan ke saya, dengan rela saya berikan ke kakak. Allah gantikan dengan cinta yang tak kalah besar dari seorang lelaki yang akhirnya Dia kabulkan menjadi jodoh saya.

Lelaki tersebut, dulunya penuh cinta. 

Dialah dunia, ortu, sahabat, kakak dan segalanya buat saya.

Kesabarannya benar-benar sukses membuat saya merasa kembali menemukan cinta yang secara suka rela berikan ke kakak saya.

Cinta ortu, si lelaki itu amat sangat bertanggung jawab kepada saya, bahkan sejak sebelum kami menikah. Cinta sebagai pasangan, si lelaki tersebut dulunya meratukan saya jauh di atas ibu dan keluarganya.

Dialah salah satu alasan saya bisa hidup dengan normal, memenuhi semua hal yang kurang tentang cinta sejak masa kecil.

Dari lelaki itu, saya merasakan semua hal yang belum pernah sempat saya dapatkan sejak kecil dulu. Meski kehidupan yang kami jalankan sangat sederhana, entah mengapa saya merasa sangat lengkap ketika itu.

Sampai akhirnya saya tersadarkan, bahwa tidak ada cinta tulus yang abadi dengan cinta-Nya kepada hamba-Nya  

Si lelaki itu akhirnya menyerah pada keadaan dan perlahan tapi pasti cintanya pun menghilang.


Allah Gantikan Dengan Cinta Tak Terbatas

Sesakit apapun hati ini ketika memaknai cinta dalam kehidupan, toh ujungnya saya selalu bisa memaknai, bahwa tak ada cinta manusia yang abadi dan tulus, selain cinta sang pencipta terhadap mahluk ciptaan-Nya.

cinta allah ke hamba-nya

Bahkan, cinta ortu ke anakpun masih juga dibatasi syarat, apalagi cinta orang lain ke lainnya.

Dan sudah semestinya lah, hanya kepada-Nya kita sebagai manusia bergantung dan berharap cinta yang tulus dan abadi.

Bisa terlihat dari perjalanan hidup kita, bahwa sesulit dan sesakit apapun hidup, toh pada akhirnya kita akan selalu merasakan cinta-Nya dari hal mana saja.

Seperti keadaan saya saat ini, yang dalam pandangan nyata saya adalah manusia sebatang kara di tengah belantara dunia ini.

Masih punya ortu, setidaknya mama, tapi bagaikan anak yatim piatu karena mama seolah sudah mencoret saya dari list anaknya, sehingga tak pernah ada balasan percakapan selama bertahun-tahun.

Cinta yang hilang dari ortu dan keluarga, membuat saya mengharapkan cinta dari pasangan. Kenyataannya pun berakhir dengan kekecewaan. 

Seharusnya saya menangis sedih, meratapi nasib yang tak pernah bisa merasakan cinta abadi meskipun kadang merasa, semua hal sudah saya lakukan.

Tapi lihatlah, Allah hapus kesedihan saya dengan mengirimkan cinta dari arah mana saja sesuai kebutuhan saya.

Dari kedua anak lelaki tampan, yang sangat pengertian dan jadi pengobat lara di hati. Dari teman-teman baik yang saya kenal, maupun cuman kenal di media sosial dan tak pernah bertemu.

Mereka yang selalu mengirimkan semangat secara langsung maupun tidak.

Dan pada akhirnya, saya bisa melihat, bukan teman-teman yaang baik hati melengkapi kebutuhan cinta dan mengobati luka batin saya.

Tapi cinta Allah yang abadi yang dikirimkan lewat anak-anak dan teman-teman dari mana saja.

Tak ada yang kurang dari hidup ini, ada teman-teman yang selalu melengkapi. Mereka semua adalah dimensi nyata dari cinta sang pencipta kepada hamba-Nya.

Secara nyata, ada banyak hal-hal yang kadang di luar nalar terjadi pada saya. 

Misal, ketika saya sebagai single fighter mom sakit, tak ada seorang pun keluarga yang peduli, bahkan papinya anak-anak pun tidak peduli. Tapi nyatanya saya tidak terlantar, ada banyak teman-teman yang membantu dari segala arah.

Baik bantuan moral maupun fisik yang sesuai dengan kebutuhan saya.

Cinta-Nya juga selalu saya rasakan di setiap ujian yang dikirimkan ke saya, di mana selalu ada akhir penyelesaian yang manis untuk ujian tersebut.

Maka, nikmat Allah mana lagi yang bisa saya dustakan?


Surabaya, 23 Maret 2024

#KEBBerbagiCeritaRamadan

Post a Comment for "Tentang Cinta Dari-Nya yang Tak Terbatas untuk Semuanya"