Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Biaya Sekolah TK Semakin Mahal Plus Iuran Sosialita Ortu Murid

Konten [Tampil]

mahalnya biaya sekolah tk

Izinkan saya mengeluh untuk kesekian kalinya, tapi jujur rasanya saya udah nggak sabar menantikan kelulusan si Adik dari sekolah TKnya, yang akhirnya dilaluinya dengan fantastis.

Kalau dihitung-hitung, biaya sekolah si Adik yang cuman duduk di bangku TK mencapai hingga belasan juta loh. 

Padahal, si Adik hanya bersekolah di TK yang terbilang masih menjangkau masyarakat kelas menengah. 


Biaya Sekolah TK Adik Dayyan yang Lumayan Mahal

Melonjaknya biaya sekolah TK si Adik, dikarenakan oleh beberapa hal.

biaya sekolah tk mahal

Di Salah satunya, karena si Adik terpaksa pindah sekolah, setelah naik ke kelas TK B. Sehingga menjadikan kami harus membayar 2 kali uang gedung sekolah, di TK yang berbeda.

Ketika pindah ke Surabaya, satu hal yang saya garis bawahi adalah, harus mencari TK yang biayanya jangan terlalu jauh dari TK di Sidoarjo.

Dan ketemulah TK si Adik yang sekarang.

Saat survey pertama kali, saya benar-benar memastikan, berapa biaya yang akan kami keluarkan. Dan setelah dijelaskan panjang lebar, saya pikir okelah, biayanya masih bisa kami tanggung.

Apalagi si Kakak juga bersekolah di yayasan tersebut, jadi saya pikir semua akan baik-baik saja.

Namun, semua perasaan baik-baik saja mulai terusik ketika akhirnya si Adik masuk TK B tersebut, dan karena mendekati bulan Agustus, ternyata ada banyak lomba yang harus diikuti, salah satunya menghias kelasnya.

Dan begitulah, pada akhirnya semua biaya hias kelas tersebut harus ditanggung oleh ortu murid, dan dari situ juga berkembang dengan diadakan iuran komite sekolah TK.

Saat di TK A di Sidoarjo, kami juga harus membayar iuran komite sekolah, seharga 20ribu. It's oke sih ya, toh dana itu bisa jadi tabungan kebutuhan sekolah anak-anak jika dibutuhkan.

Dan entah karena memang di sekolah sebelumnya si Adik masih TK A, atau memang ortunya nggak kebanyakan acara yang dipaksakan, Alhamdulillah iuran yang kami keluarkan ya cuman komite 20ribuan sebulan itu.

Di TK si Adik sekarang, awalnya ada komite 20ribu. 

Saya lega dan menganggap wajar, karena memang di sekolah TK A sebelumnya, iuran komite sekolah si Adik ya 20ribuan juga.

Namun, tidak berselang lama, saya terkejut ketika akhirnya ada kenaikan iuran komite jadi 40ribu rupiah per bulan.

Uwowww. 


Iuran Kegiatan Ortu Murid Menambah Beban Biaya Pendidikan

Yang lebih mengejutkan adalah ketika saya melihat rincian penggunaan iuran komite tersebut. Salah satunya ada biaya seragam kaos buat ibu sampai 1,3 jutaan. Seragam anak perpisahan, tali asih beli emas, acara buka bersama, parcel dll.

iuran sosialita memberatkan

Well, i know ini memang bagus sih buat kekompakan murid dan ortunya. Dan sebagai rasa terima kasih kepada guru yang sudah mendidik anak-anak TK. 

Tapi jujur itu juga berat buat saya khususnya di masa-masa sekarang.

I mean, tidak bisakah saya dikasih nafas megap-megap untuk biaya sekolah anak yang menurut saya juga enggak murah loh.

Kegiatan si Adik di TK B ini, hampir 4 jutaan, kayaknya sih bisa nyampe sih, ditambah pengeluaran lain-lain yang diharuskan murid bawa lagi.

Berbeda dengan ketika di TK A dulu, ada kegiatan baksos dan lainnya, semuanya disiapkan sekolah loh, bahkan konsumsi murid pun disiapkan sekolah.

Tapi, jika itu sekolah yang mengharuskan, buat saya mau nggak mau ya harus diusahakan. Bahkan ketika si Adik diwajibkan bawa beras buat zakat fitrah, padahal saya lagi pusing 7 keliling mengirit-ngirit beras dan lainnya agar cukup sampai dikasih uang belanja lagi atau dapat pemasukan lagi.

I know, zakat fitrah itu wajib, tapi kan waktunya sampai sebelum lebaran, dan kami sudah terbiasa membayar zakat mendekati lebaran, ketika dana yang masuk sudah bisa dibuat bernafas lega.

Tapi, lagi-lagi saya akhirnya nggak mempermasalahkan. Toh saya mengerti, anak-anak disuruh kumpulin beras sekarang, juga sembako buat baksos, ya biar anak-anak bisa praktik langsung tentang zakat dan berbagi dengan seksama.

Meski hampir nangis, eh salah sih, saya bahkan udah nangis saking bingung gimana nih ngatur uang, sementara sekarang tuh lagi paceklik banget buat kami. Tapi akhirnya toh saya usahakan dan Alhamdulillah bisa.

Walaupun saya ngumpulinnya ya pas sesuai permintaan, cuman lebih dikit sih, nggak kayak yang lain kumpulin 5 kg, meski diminta 3 kg.

Nah, kirain kan saya udah bisa bernafas lega, sampai akhirnya saya melihat chat dari salah satu wali murid yang nagih uang iuran kado lahiran dan iuran buka bersama.

Masya Allaaaahhh, nangis beneran saya.

Antara kesal, dan bete.

Nggak tahu harus nyalahin siapa, pengen nyalahin diri sendiri, kok nggak bisa punya uang banyak kayak ortu lainnya yang nggak pernah ngeluh diminta iuran berapapun itu. Tapi kok rasanya saya dzalim sama diri sendiri.

Karenanya saya merasa udah berusaha maksimal juga loh cari duitnya, emang kondisi dan rezeki saya aja yang masih begini.

Lalu akhirnya, saya berpikir entah kenapa kebersamaan ortu murid itu malah mencekik ortu lainnya nggak sih, hiks.

Maksud saya begini.

Di tengah ekonomi yang lagi sulit seperti sekarang, terutama buat saya ya, kalau ortu lainnya emang kaya-kaya semua, duitnya buanyak, jadi nggak masalah mau kumpulin iuran puluhan juta juga.

Nggak bisakah para ortu murid itu memilah mana yang penting buat anak, mana yang enggak?.

Kalau seandainya tidak urgent, tidak bisakah diadakan hanya untuk ortu yang mau saja?

Karena, tidak semua ortu yang menyekolahkan anaknya di TK tersebut untuk gengsi ya, saya menyekolahkan si Adik di TK tersebut karena ada embel-embel Islamnya, which is sudah saya tanyakan secara detail di awal sebelum menyetujui masuk di TK tersebut.

Kalau biaya yang wajib itu, ya masih bisa kami sanggupi, meskipun ngos-ngosan.

Tapi kalau untuk biaya yang tidak penting, apakah harus ortu murid dibebankan lagi untuk hal yang demikian?

I know itu untuk kepentingan anak-anak, tapi kan kebutuhan anak bukan cuman sekolah dan lifestyle sekolah berkedok untuk anak itu?

Jika memang ortu muridnya pengen buka bersama, ya udah ajak aja yang mau. Yang nggak mau di mana kebanyakan tuh bukannya nggak mau, tapi memang bisa jadi sedang berjuang untuk irit di tengah badai ekonomi seperti sekarang.

Termasuk juga masalah tali asih dan lainnya.

Bukankah itu jadi masuk ke biaya wajib? di mana sebenarnya biaya sekolah anak bukan cuman yang tertulis, tapi juga kami harus membayar lagi buat wajib ngasih guru-gurunya?

Sekali lagi, ini bukan masalah pelit ataupun gimananya.

Itulah mengapa, saya sangat mendukung pemberian kado atau lainnya itu bersifat personal saja, biar enggak memberatkan ortu murid yang uangnya masih harus dipakai untuk kebutuhan lainnya.

Terlebih untuk masalah kebutuhan yang sebenarnya masuk sosialita, kayak buka bersama, seragam bersama dan lainnya.

Apalagi, dengan kenyataan sebagai TK B tentunya kita masih harus berhadapan dengan biaya masuk SD yang nggak murah juga?

Ah sudahlah, serius saya gemas dengan orang-orang yang senang banget menyusahkan ortu lainnya, dan sekolah yang seolah tutup mata akan hal itu.

Jika memang hal itu diwajibkan, kenapa nggak dimasukan ke biaya wajib sekolah sekalian sih?

Kayak SD si Kakak yang dulu, SPP dan uang gedungnya mahal, tapi saya nggak pernah sama sekali sakit hati dan kebingungan kayak sekarang.

Apalagi ditambah dengan ironisnya, ini adalah sekolah Taman Kanak-Kanak dong!

Sungguh nyesek TK menghabiskan biaya belasan juta, padahal sudah pilih sekolah yang golongan menengah.

Semoga saya Diknas tegas menindaki semua iuran berkedok inisiatif wali murid ini, agar sekolah juga mempertimbangkan tindakan tegas terkait hal ini.

Jika memang hal tersebut wajib, masukan aja sekalian di biaya sekolah anak, jadi kan para ortu akan mengira-ngira sejak awal, mampu nggak dia menyekolahkan anak di sekolag tersebut.

Demikianlah.


Surabaya, 25 Maret 2024

Sumber: pengalaman dan opini pribadi

Gambar: Canva edit by Rey

1 comment for "Biaya Sekolah TK Semakin Mahal Plus Iuran Sosialita Ortu Murid"

  1. Sekarang apa2 pake duit. Hal yg gak masuk akal juga dkit2 iuran untuk wali murid. Bukber, lahiran, kan gakda urusan dg orngtua atau murid itu sndiri. Kalo mau ngajak jenguk ya gurunya aja ngajak anak2 muridnya gratis.
    Kalo orngtua murid mau jenguk ya biarin. Masing2 bukan diminta iuran haha gak kamsud banget. Ikutan greget

    ReplyDelete