Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Mudik, Antara Silaturahmi, Ajang Pamer Dan Dibanding-bandingkan

Konten [Tampil]

mudik dan ceritanya

Lebaran sebentar lagi.

Udah, nggak usah dinyanyiin, ini bukan lagu, saya cuman lagi mau bahas mudik dan segala hal tentangnya, hahaha.

Yang namanya lebaran ya, identik banget sama mudik, bahkan beberapa orang sudah mengatur rencana mudik ini sejak setahun sebelumnya.

Ada yang nabung buat dana mudik, ada pula yang sibuk cari info mudik gratis, hehehe.

Andai gitu ada program mudik gratis naik pesawat Jawa - Sulawesi *eh **ngelunjak, wakakakaka.

Sebagai manusia yang tinggal jauh dari ortu, dan menetap di lokasi yang berbeda dengan ortu, tentu saja saya juga mengalami yang namanya mudik beserta hal-hal tentang mudik.

Bahkan nih ya, sebelum bapak saya meninggal, rasanya goal hidup saya tuh cuman 1, mudik! hahaha.

Kalau orang lain kan, apalagi kalau udah nikah ya, goal-nya jadi ganti, entah itu punya rumah, kendaraan, nabung dana pendidikan anak dan lainnya.

Nah, berhubung saya jauh dari ortu, dan bukanlah anak yang beruntung karena ortunya mau datang menjenguknya, jadi sayalah yang harus pulang menjenguk ortu dan keluarga.

Bertahun-tahun saya mengalah, dan menganggap kalau itu risiko saya mau tinggal berjauhan dengan ortu. Meskipun lucunya lagi nih ya, di antara saya dan kakak atau ortu, kayaknya saya deh yang hidupnya kurang beruntung dalam hal pemasukan tetap.

Ortu saya punya gaji, karena PNS. 

Kakak saya juga PNS, suaminya juga tentara.

Sementara saya, bahkan sekarang udah jadi ibu rumah tangga, bersuamikan lelaki yang juga nggak punya pekerjaan tetap.

Sungguh luar biasa kan, hahaha.

Meski dengan keadaan yang bisa dibilang mengkhawatirkan, toh akhirnya saya bisa mudik juga loh, meskipun tentu saja nggak bisa setiap tahunnya.

Mudik, sebenarnya adalah hal yang sangat menyenangkan, terutama momen ketika bertemu kembali sama mama dan dulu ketika masih ada bapak.

Bertemu kakak satu-satunya, keponakan-keponakan yang badannya gede-gede.

Ketika lebaran, saya juga bisa bertemu tetangga, keluarga besar mama dan bapak, intinya mudik itu menyenangkan karena jadi sebagai ajang silaturahmi.


Mudik Sebagai Ajang Silaturahmi

Menjadi bagian dari keluarga yang 'less show love' atau apa ya namanya. Jadi gini, mama saya khususnya adalah sosok manusia yang sulit mengekspresikan perasaannya secara nyata.

mudik dan silaturahmi

Jadi, beliau itu hanya akan peduli sama anaknya, kalau kita ada di dekatnya.

Sejak kuliah dulu, saya jarang banget bisa berkomunikasi dengan beliau. Sampai akhirnya saya kerja, lalu menikah dan punya anak.

Boro-boro berkomunikasi ya, saya sms nggak dibalas, ditelpon nggak diangkat.

Jadi, kami semacam loose contact banget ketika jauh dari blio.

Jadinya, ajang mudik itu semacam cara untuk menghubungkan perasaan saya ke ortu, meskipun kadang juga awalnya sakit hati, karena tidak ada euforia berarti menyambut anak perempuannya yang udah bertahun-tahun nggak pulang.

Tentu saja, mudik akhirnya menjadi ajang silaturahmi dengan ortu khususnya mama, juga kakak perempuan satu-satunya.

Karena saya jarang keluar rumah ketika mudik, di hari lebaranlah saya bisa ketemu dengan tetangga, demikian juga dengan keluarga besar mama dan bapak.

Rasanya bahagia juga ketika akhirnya punya saudara, setelah bertahun-tahun sebatang kara di daerah orang.


Mudik Bisa Jadi Ajang Pamer

Sayangnya, mudik juga punya sisi yang kurang mengenakan di hati. Salah satunya bisa jadi ajang pamer satu sama lainnya.

mudik dan ajang pamer

Kalau ajang pamer dari orang lain sih, it's oke aja sih ya buat saya.

Yang jadi masalah tuh kalau yang pamer adalah keluarga sendiri.

Kadang hal ini memang tidak selalu disengaja ya, kadang terjadi karena saking asyiknya bercerita, karena lama enggak pernah ketemu kan.

Sampai-sampai lupa kalau ternyata obrolannya udah masuk ke ranah ajang pamer.

Salah satu hal yang sering dijadikan ajang pamer adalah kesuksesan masing-masing, dibuktikan dengan apa yang dikenakan, apa yang ditumpangi.

Si Rey yang nggak bisa pulang bawa mobil, pakai baju harga jutaan, hijab yang katanya premium. Tas juga mentereng, perhiasan menjuntai di mana-mana. Tentulah tak bisa mengimbangi obrolan yang sudah masuk ranah pamer tersebut.

Untungnya sih, salah satu kelebihan orang introvert itu, nggak terlalu peduli dengan orang yang suka pamer. Bahkan kadang saya sering tambah memuji orang yang pamer, biar dia makin happy dan melambung tinggi.

Ye kan, bukankah menyenangkan orang itu juga termasuk pahala ya.


Mudik Bisa Jadi Ajang Dibanding-bandingkan

Sayangnya, ada satu hal yang sedikit mengganggu buat saya, dan itu bukan karena melihat orang pamer. Tapi adanya ajang dibanding-bandingkan.

mudik dan ajang dibandingkan

FYI, saya cuman 2 bersaudara. Saya si bungsu setelah adik lelaki saya meninggal 25 tahun lalu. Dan kakak perempuan saya yang menjadi PNS.

Kakak saya saat ini bekerja di sebuah RS negeri di kota Bau-Bau, dan karena masa kerjanya sudah lama, tentunya kedudukannya juga sudah lumayan.

Tentu saja ini menjadi sebuah alasan bagi orang membanding-bandingkan saya dengan kakak satu-satunya tersebut.

Apalagi, di masa kecil, saya justru dinilai lebih berprestasi ketimbang kakak saya. Tentu saja banyak keluarga dan orang lain membandingkan kami, bahkan disertai dengan tatapan dan ucapan kasian, katanya saya salah pilih jodoh dan jalan hidup.

Sejujurnya ini dilema ya.

Di satu sisi, dibanding-bandingkan melulu di depan muka sendiri dengan saudara kandung sendiri, itu menyebalkan.

Di sisi lain, sebenarnya saya tak pernah merasa iri atau kurang dari kakak saya, meskipun mungkin keuangan dan kehidupan di antara kami berdua. Terlihat lebih baik kakak saya, dibanding adiknya ini.

Tapi jujur, Alhamdulillah saya tidak merasa ngenes, karena tentunya hidup saya nggak melulu menyedihkan, banyak hal-hal bahagia yang saya rasakan selama ini.

Namun jujur lagi nih, saya nggak suka mem-branding-kan diri sebagai orang yang juga hebat dan bahagia. Saya lebih tenang jika orang menganggap saya nggak punya uang.

Jadi, ketika ketemu orang, nggak ada yang minta oleh-oleh, wakakakakakak.

Kalau cuman minta oleh-oleh sih nggak masalah ya, yang jadi masalah nih kalau minta duit, hahaha.

Jadi serba salah, kan!.

Di satu sisi, lama-lama eneg juga dibanding-bandingkan. Di sisi lain, saya nggak bisa membela diri dengan membanggakan diri dan mengatakan how lucky i am Alhamdulillah. 

Saya tenang dengan anggapan orang lain bahwa saya bokek dan menyedihkan, karena dengan itu saya tidak perlu sibuk mencari alasan, ketika ada yang mau pinjam uang, minta beliin oleh-oleh atau semacamnya.

Tapi ya gitu, jujur sebal juga sih ya dibanding-bandingkan melulu itu. Apalagi kalau pas saya terpaksa ikut kakak silaturahmi ke rumah keluarga, ditanyain kerja di mana? lalu setelah mendengar kalau saya adalah ibu rumah tangga, auto dicuekin dan dibandingkan dengan mengatakan kalau kakak saya udah sukses, di depan muka saya.


Begitulah suka duka mudik lebaran dengan segala drama dan happy-nya. 

Kalau parents lainnya, gimana nih cerita mudiknya?


Surabaya, 24 Maret 2024

#KEBBerbagiCeritaRamadan

Post a Comment for "Mudik, Antara Silaturahmi, Ajang Pamer Dan Dibanding-bandingkan"