Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Bullying Di Sekolah, Menyebut Nama Ortu dengan Mengejek

Konten [Tampil]

bullying menyebut nama ortu

"Mi, nanti jangan lupa bilang ke Bu Selo, biar ngasih tahu teman-teman kakak, jangan nyebut nama ortu, Kakak nggak suka!"

Si Kakak Darrell lagi-lagi berpesan untuk kesekian kalinya, sebelum berangkat sekolah pagi tadi. Ini adalah kesekian kalinya dia mengeluh tentang hal yang sama.

Maminya cuman bisa megang kepala, ampyuuunnn, adaaaa aja yak jadi parents itu. Bukan hanya rempong mengurus anak-anak, membersamai mereka, tapi juga mengurus hal-hal yang beginian.

Tapi, namanya juga punya anak kan ye.

Kalau bukan maminya ini yang peduli akan perasaannya, siapa lagi?


Cerita si Kakak yang Marah Karena Mengalami Bullying Di Sekolah, Menyebut Nama Ortu dengan Mengejek

Sudah sejak lama ketika si Kakak menceritakan kejadian yang bikin dia kesal dari sekolahnya, tepatnya ketika mereka diminta gurunya untuk membawa ijazah aslinya.

FYI, anak-anak dulu mendaftar sekolah pakai ijazah kelulusan SD sementara, karena ketika itu blanko ijazah SD di Sidoarjo sedikit tertunda.

Jadinya, ketika dulu mendaftar, meski datanya lengkap, tapi ijazahnya belum yang copy-an dari ijazah kelulusan SD asli.

Setelah beberapa bulan, barulah ijazahnya tersedia. Segera kami mengambilnya di SDI Raudlatul Jannah Sidoarjo. Namun sampai ditagih, si Kakak belum sempat menyetor copy-an ijazah aslinya.

Nah, ketika akhirnya si Kakak membawa copy-an tersebut ke sekolah, tanpa dia sadari beberapa temannya sempat mengintip ijazah tersebut. 

bullying di sekolah

Dan hasilnya, mereka jadi tahu nama ortu si Kakak, dan sejurus kemudian hal tersebut menjadi sebuah lelucon buat teman-temannya.

Si kakak nggak suka akan hal itu, dan ketika pulang dia mengadukan hal itu ke Maminya. Dasar maknya ini nggak peka, eh malah ikutan ketawa dong maminya sambil bilang,

"Ih kenapa marah, Kak? kan nggak ada yang harus dikesalin. Nama mami dan papi kan bagus!" kata si MamiRey.

"Soalnya mereka nyebutnya dijadikan bahan bercandaan, nyebut nama mami juga ngasal!" si kakak tetap merasa nggak terima.

"Loh, justru Kakak harus bangga, nama mami keren kan, nggak ada samanya!" Dasar emang maknya ini, minta dijitak, anak ngeluh malah menyombongkan diri, wakakakaka.  

"Pokoknya kakak nggak terima, kan kalau kita merasa terganggu, itu termasuk bullying!" si kakak makin manyun.  

Melihat si Kakak bersungguh-sungguh, maminya akhirnya mencoba menghadapinya dengan serius. Tapi tetap aja nggak langsung mengabulkan keinginannya.

Etdaaahh, si Kakak ini ya, tergolong anak yang sering banget meminta saya untuk ngomong ke wali kelasnya. Maknya sampai sungkan, berasa mamak-mamak yang sumbu pendek yak. Apa-apa protes, bentar-bentar protes ke wali kelas.

Jadinya saya mencoba bersikap bijak dan tenang, dengan meminta dia untuk berani menegur temannya yang membuat dia nggak nyaman.

"Ya udah, kakak bilangin dong ke temannya, kalau kakak nggak suka jika mereka menyebut nama ortu dengan nada ejekan!", usul maminya.

"Percuma Mi, mereka nggak peduli kalau kakak marah!"

"Sesekali kakak harus serius mengatakan apa yang kakak rasakan, belajar untuk menyelesaikan masalah dengan damai dan mandiri dong, Kak!. Kalau temannya tetap nggak menghargai Kakak, baru deh ngomong ke wali kelas!."

Si Kakak akhirnya diam, dan berjanji akan melakukan ide maminya tersebut. 

Setelahnya, saya kok juga lupa menanyakan update dari permasalahannya tersebut. Hanya sesekali si Kakak membahasnya tapi hanya sekadar bercerita, kalau teman-temannya sesekali masih membuat lelucon menyebut nama ortunya.

Sampai kemarin saya membahas tentang berkata-kata yang sopan, mengingatkan agar si Kakak tidak membiasakan ngomong kasar, terutama memaki kayak yang anak sekarang sering ucapkan.

"Anjing!"

"Anjir"

"Anjay"

"Anying!"

Dan betapa terkejutnya Maminya, karena kakak bilang katanya sesekali dia memaki temannya yang suka nyebut nama ortunya.

Hadehhh!

Iya sih si Mami minta si Kakak menyelesaikan masalahnya sendiri, tapi nggak gitu juga caranya!.

Bukannya apa-apa nih, menurut saya, membiarkan anak memaki, meski itu untuk membalas teman yang bikin dia sakit hati adalah sebuah hal yang sebaiknya dihindari. Karena akan menjadi sebuah kebiasaan yang sulit dihilangkan.

Apalagi nih, di zaman now, yang namanya anak-anak bermulut kotor tuh berasa udah kayak dinormalisasi nggak sih?.

Liat aja, di mana-mana selalu aja ketemu dengan orang yang nggak bisa pisah sama kata Anjing!. Berasa kembaran sama gukguk keknya orang-orang itu, hahaha.

Melihat kenyataan itu, mau nggak mau maminya mulai ikutan lagi membantu si Kakak menyelesaikan masalahnya. Meskipun bukan berarti melepas si Kakak untuk hanya bergantung di Maminya dalam menyelesaikan masalahnya selalu.


Bagaimana Menyikapi Anak yang Mengalami Bullying Di Sekolah, Menyebut Nama Ortu Ala Rey

Jadi single fighter mom pejuang LDM ituuuu.... *tarik napas aja dah!

bullying anak smp

Menyedihkan sebenarnya yak, harusnya yang gini-gini tugas bapakeh mengajari anak 'how to be a boy! dalam menyelesaikan masalahnya'.

Tapi boro-boro ye, bahkan mau curhat masalah si Kakak aja saya udah malas, ujungnya bakalan panjang. Sebenarnya masalah ini udah pernah sekali saya sampaikan ke Papinya, tapi responnya bikin saya nyesal udah ngomong, hahaha.

Jadi, mau nggak mau, saya harus mendorong diri sekuat tenaga, untuk action being a parents dalam mengajarkan anak bagaimana menyelesaikan masalahnya.

Memang sih, nggak bisa sama dengan cara yang seharusnya seorang ayah ajarkan, tapi daripada enggak ada support ke anak sama sekali kan ye.

Dan setelah merenung dan menenangkan hati, begini cara saya menyikapi masalah anak yang marah atau tersinggung karena temannya menyebut nama ortunya dengan nada ejekan.


1. Mengvalidasi perasaan anak

Memang sih, sikap saya ketika mendengar keluhan si Kakak pertama kali adalah salah. Seharusnya saya nggak boleh menertawakan perasaannya. 

Terlepas itu masalah sepele atau enggak, hal utama yang harus parents lakukan adalah mengvalidasi perasaannya dengan kata-kata yang menyejukan.

"Iya kah Kak? trus gimana perasaan Kakak?"

"Kok gitu sih temannya, Kakak?, nggak sopan dong!"

Dan semacamnya.

Intinya, sama kayak kita orang dewasa, yang ketika curhat tuh pengennya kan perasaannya divalidasi. Demikian juga dengan anak-anak.

Dengan bersikap demikian, anak-anak akan lebih suka untuk selalu curhat membicarakan apapun tentang masalahnya ke parents, karena merasa nyaman.

Sehingga, parents pun selalu tahu apapun masalah yang terjadi pada anak, dan bisa mengarahkan ke hal-hal yang lebih baik.


2. Mencoba mengajak anak berpikir positif

Setelah mengvalidasi perasaannya, ada baiknya jika kita mencoba mengajak anak untuk berpikir positif. Dengan catatan, jika masalahnya belum terlalu berlebihan merugikan anak.

Menurut saya ini penting, agar anak bisa belajar mengabaikan hal-hal yang nggak penting, tentunya dengan tetap tegas memberlakukan batasan tindak orang dalam merugikan anak ya.

Alasannya, agar anak bisa belajar menguatkan mental dalam menjalani hidup, dan tidak semua hal yang dia hadapi harus dimasukan ke hati. Dengan kata lain melatih anak biar nggak mudah baper.

Apalagi jika anak lelaki kan. Bukan meremehkan gender, tapi anak lelaki khususnya memang wajib dididik agar menjadi anak yang lebih tangguh, karena kodratnya akan menjadi pemimpin.


3. Mengajarkan anak untuk coba menyelesaikan masalahnya sendiri dengan bijak

Jika anak merasa hal itu sangat mengganggu, dan tak bisa diabaikan, maka langkah selanjutnya adalah mengajarkan anak untuk berani menyelesaikan masalahnya dengan bijak dan tegas.

Saya meminta kakak untuk jujur dengan tegas tapi sopan ke teman-temannya mengenai perasaannya. Jika teman-temannya tidak mau menghargainya, kakak boleh melaporkan hal tersebut ke wali kelasnya agar ditindaki.

Sebagai mamak-mamak, tentu saya tidak menyarankan anak untuk main fisik. Kecuali jika kakak dirugikan secara fisik juga, hehehe.


4. Jika usaha anak tidak berhasil, maka parents wajib membantu dengan bekerja sama dengan wali kelas

Langkah terakhir adalah, ketika usaha anak menyelesaikan masalahnya sendiri tidak berhasil, entah karena temannya yang terbiasa usil dan nggak menghargai perasaan teman. Atau juga gurunya terlalu sibuk. Maka giliran maminya deh yang maju, hehehe.

Tentunya hal pertama yang bisa parents lakukan adalah berkoordinasi dengan wali kelasnya. Dalam hal ini, saya lalu menghubungi wali kelas si Kakak melalui chat pribadi, dan menyampaikan keluh kesah si Kakak.

chat ortu ke wali kelas
Chat panjang kali lebar si MamiRey ke wali kelas si Kakak

Alhamdulillah sih wali kelasnya sangat tanggap, dan berjanji akan menegur anak-anak secara lebih intens.


Anak SMP Marah Karena Temannya Mengejek Nama Ortunya, Lebay Nggak sih?

Kalau dipikir-pikir, pakai pikiran kita sebagai orang dewasa ya, si Kakak pastinya terlalu berlebihan, biarin aja napa temannya nyebut-nyebut anak ortunya.

Toh juga nama papinya bagus tuh. 

Apalagi nama maminya kan ye! *uhuk, hahaha.

Terlebih, papi dan maminya nggak melakukan hal-hal yang merugikan orang lain dan bikin dia seharusnya malu. Misal korupsi kayak para pejabat yang nggak tahu malu makan uang rakyat *eh, hahaha.

Sebenarnya cuekin aja, atau tanggapi dengan cara maminya, misal membanggakan mami papinya.

Misal, 

"Anaknya Ade, Anaknya Reyne Raea!"

Bilang aja,

"Emangnya kenapa? keren kan nama papiku? bukan koruptor pulak! Mamiku juga lebih keren, namanya nggak ada samanya dong. Dan mamiku hebat, bisa mengurus kami tapi juga tetap produktif nggak hanya ngerumpi dan ngegibahin tetangga!"

Oke..oke..oke.. baiklah, itu mah cuman mengajarkan anak biar sombong, Rey! wakakakakaka. Maksudnya, ya cuekin aja lah, ngapain dipikirin, toh bukan sesuatu yang memalukan!.

Harusnya gitu kan ya?

Tapi, saya mencoba mengembalikan diri ke masa kanak-kanak seusia si Kakak.

Dulu, hampir sama kayak si kakak, saya pun pernah bermasalah dengan teman-teman yang mengejek atau lebih tepatnya menyebut nama bapak saya dengan nada ejekan.

Padahal ya, nama bapak saya tuh bagus, jauh lebih keren dari nama bapak teman-teman yang mulai duluan mengejek itu.

Tapi apa yang saya lakukan?

Off course balas ngejek nama bapaknya lah! hahahaha. Bahkan, kalau teman nggak mau berhenti, datanglah saya mendekat dan,

Plak!

Teman saya kena gaplok deh, hahahaha.

Kalau dibalas, ya tinggal duduk dan nangis-nangis, hahahaha.

See, ketika menilai perasaan anak, jangan samakan dengan perasaan kita di masa kini, tapi kembalikan diri kita di masa kecil dulu.

Tentu saja perasaan dan mental anak sangat berbeda dengan parents-nya. Karenanya, bukanlah sebuah hal yang lebay atau berlebihan jika anak tersinggung bahkan marah ketika ada temannya yang menyebut nama ortunya meskipun dengan alasan bercanda.

Hal-hal yang berkaitan dengan ketidak nyamanan anak, apapun alasannya, tentunya akan masuk ranah bullying di sekolah, dan sewajibnyalah kita membantu anak memerangi bullying


Kesimpulan dan Penutup

Ketika anak SMP tersinggung hingga marah karena ada teman yang menyebut nama ortunya dengan nada mengejek. Sudah seharusnya kita sebagai parents untuk peduli pada perasaan anak, dan memberikan arahan agar anak bisa mengatasinya dengan bijak dan tegas.

Namun, jika tidak berhasil mengatasinya secara mandiri, tugas parents yang membantunya. Agar masalah yang mungkin dilakukan temannya dengan alasan bercanda, tidak dibiarkan menjadi tindak bullying yang dinormalisasi. 


Surabaya, 19 Februari 2024

Sumber: opini dan pengalaman pribadi

Gambar: Canva edit by Rey dan dokpri

4 comments for "Bullying Di Sekolah, Menyebut Nama Ortu dengan Mengejek"

  1. Menurut saya bullying ini cara paling efektif mengontrolnya adalah peran aktif dari orang tua dan sekolah, karena lingkungan inilah yang paling lama membentuk masa kecil seorang anak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener banget, rasanya kesal udah mati-matian mendidik anak jadi lebih baik, tapi kebobolan di lingkungan sekolah

      Delete
  2. Kayaknya aku udh lama ga denger bully pake nama ortu di sekolah anakku🀣. tapi aku pun mikir sama Rey, kalo skr mah anak2 itu hrsnya bangga, nama ortunya pada bagus semua kebanyakan hahahahah.

    Lah kayak aku dulu zaman SD, sampe malu nyebut marga papa, krn yakin pasti ejek. Pasaribu. Yg pada akhirnya ketahuan juga, dan bener kaaan diejekin. Dibilang pasarratus, pasar basah dll. Padahl ya kalo diinget2, bangga dong, kalo sampe ortu beneran owner pasar πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚. Dikira murah punya pasar 🀣

    Tapi memang kita ga mungkin nyamain kondisi dulu ama skr πŸ˜„. Kalo nanti ada temen2 anakku yg ngejekin begini, setidaknya udah tahu lah hrs jelasin apa ke anak2 πŸ˜„

    ReplyDelete
    Replies
    1. Astagaaaa ngakak! :D
      Perasaannya anak kecil emang beda :D
      Nama bapak saya dulu terbilang bagus, tapi saya marah kalau ada yang berani nyebut nama bapak :D

      Delete