Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Bercerai Maupun Bertahan Itu Sama Beratnya, Tapi Masih Ada yang Lebih Berat Lagi!

Konten [Tampil]
bercerai-maupun-bertahan

Bercerai maupun bertahan dalam pernikahan itu, sama beratnya. Dan kabar sedihnya, ada begitu banyak orang, khususnya istri atau wanita, yang sedang berada di posisi galau untuk memutuskan pilihan yang mana?

Mau bercerai, kok nggak berani.
Mau bertahan juga, ya ampun rasanya bisa cepat mati, minimal cepat strooke, astagfirullah, hahaha.

Saya pernah menuliskan tentang bagaimana cara saya memutuskan hal tentang mau bertahan atau bercerai dalam pernikahan, yang ternyata setelah saya baca ulang, kok menarik juga ya bahasan saya, hehehe *narsis.

Baca : Bercerai atau Bertahan, Begini Cara saya Memutuskannya

Btw, yang suka kepo dengan kepputusan saya, bisa baca ulang tulisan saya tersebut ya, atau yang sedang galau berada di buaian kebimbangan tak berujung, bisa ikutan baca, biar dapat insight lebih untuk memutuskan.

Nah, benar!
Berada di dalam kebimbangan bercerai atau bertahan itu, udah luar biasa berat loh.
Tapi, tahu nggak, masih ada lagi yang lebih berat.
Mau tahu nggak?

Yaitu, ketika kita hanya bisa memendam semua kebimbangan tersebut, karena kita bingung mau curhat ke mana.
Kalaupun kita nekat curhat? siap-siap aja dikatain 'goblok', kenapa sih nggak cerai aja?

Bertahan dalam pernikahan tidak bahagia itu, nggak baik buat anak, kasian mental anak melihat ortunya tidak harmonis.


Kalau udah gitu, pengen gitu saya menyodorkan fakta-fakta, berapa banyak anak yang bukan hanya mentalnya yang terpukul, tapi juga fisiknya babak belur, karena orang tuanya bercerai, lalu akhirnya masing-masing sibuk menata masa depannya dengan keluarga baru, dan anak dari pernikahan sebelumnya?

Nggak diajak lah! hahaha.

Biasanya, kalau udah kayak gitu, perkataan saya bakalan diserang.
Ya, jangan jadi ibu seperti itu, jadilah ibu yang berjuang untuk anak.

Si Rey bilaik,
"Ya ampuuunnnn, mengapa sih wanita selalu dipaksa lingkungannya, untuk memikul beban, yang sebenarnya bukan semata bebannya?"
Tapi, kita hentikan dulu perdebatan di awal-awal ini, mari kita lanjut ke hal yang utama, yaitu menjawab hal yang sering bikin wanita makin terbebani, yaitu pertanyaan.
"Goblok banget sih, kenapa nggak cerai saja?"
Jadi begini ceritanya, parents!.


Alasan Bercerai itu Berat


Setiap manusia, hidup di dunia ini, dengan berbagai kondisi yang berbeda satu sama lainnya, kondisi itulah yang menjadikan karakter, sifat maupun sikap manusia juga berbeda-beda.

bercerai-maupun-bertahan

Jangankan antara satu orang dengan orang lain ya, sesama saudara kembar saja nih, jika sejak lahir mereka berpisah, dan di asuh oleh keluarga yang berbeda.
Saya bisa jamin kedua kembar itu akan tumbuh dengan karakter yang sangat berbeda.

Apalagi orang berbeda ya.

Jadi, ketika ada orang yang tidak melakukan sama dengan yang kita lakukan, sebijaknya kita mengerti dan memahaminya.
Bukannya malah meng-goblok-an orang lain, hanya karena apa yang dilakukan orang lain, tidak sama dengan kita.

Misal, Lesti Kejora yang mencabut laporan KDRT atas suaminya.
Atau, ada juga yang baru nikah 3 harian, eh udah minta cerai.


Keduanya, tidak bisa kita hakimi begini begitu, karena ya emang masing-masing berasal dari kondisi dan lingkungan yang berbeda.

Latar belakang setiap orang sangat berperan dalam mengambil keputusan atau memilih.
Jadi, perbedaan pilihan hidup itu, sebenarnya wajar adanya.

Selain dari pada itu, masing-masing piihan hidup, selalu ada alasannya, yang tentunya bakal berbeda bagi setiap orang.

Alasan untuk tidak berani bercerai misalnya, meski pernikahannya terlihat tidak bahagia, ada berbagai alasan yang menjadi pemicunya, di antaranya:

 

1. Ekonomi


Saya rasa, salah satu penyebab terbesar kebanyakan wanita berat atau tidak berani untuk bercerai adalah, karena memikirkan ekonomi.

Bukan hanya ibu rumah tangga, bahkan ibu bekerjapun banyak yang takut ekonominya tidak akan mencukupi membiayai kehidupannya dengan anak-anaknya, ketika akhirnya telah bercerai.

Karena kita tahu banget ya, betapa hukum di Indonesia itu sangat menyedihkan jika membahas tentang hak anak dari ayahnya, khususnya.

Banyak banget anak-anak yang terpaksa putus sekolah, atau putus kesempatan yang lebih luas lagi, hanya karena akhirnya kedua orang tuanya bercerai, dan ayahnya menikah lagi, lalu melupakan anak dari pernikahan sebelumnya.

Para istri atau wanita, yang diberkahi Allah perasaan yang lebih mendalam terhadap anaknya, selalu memaksa untuk anak tinggal bersama ibunya, dan hal itu tanpa disadari, akan membuat jarak antara anak dengan ayah, sampai akhirnya ayahnya merasa nyaman dengan ketidak dekatan tersebut, lalu melupakan kewajibannya.

I know, rezeki itu pasti ada.

Tapi, rezeki itu akan hadir di depan kita, kalau kita sudah berusaha, dan untuk itu, butuh banget yang namanya waktu.

Kalau anak masih kecil, mungkin bisa menunggu, dan bersekolah ketika insha Allah ibunya udah bisa lebih mandiri.

Tapi bayangkan ketika anak-anak sudah sekolah, sudah terbiasa dan mencintai les ini itunya.
Misal, ada anak yang punya cita-cita jadi pemain bola, dan untuk itu ayahnya bisa memasukannya di klub bola.

Atau anak yang punya bakat musik dan sangat mencintai musik, lalu ayahnya bisa membayarkan les musik kepadanya. 

Lalu akhirnya, semua itu terenggut, ketika ibunya terpaksa bercerai dengan ayahnya, dan memaksa anak harus ikut ibu.

Tidakkah kita sebagai wanita memikirkan hal itu?
Betapa tidak mudah bagi seorang ibu, merampas masa depan dan kesempatan luas anak, demi kebahagiaan yang belum tentu juga bisa diraihnya?

Tidakkah kita lihat kesuksesan orang-orang kaya di negeri ini?
Ada Nadiem Makarim misalnya, Putri Tanjung misalnya.
Apakah mereka sukses hanya semata keras berusaha?
Yup tidak, privilege amat sangat membantu kesuksesan mereka.

Tidakkah kita bisa mengerti, ketika seorang ibu tidak tega merenggut hal itu dari anaknya, hanya karena dia belum sanggup membiayai anaknya seorang diri?

Jadi ya demikianlah,  ekonomi, menjadi penyebab banyak wanita menjadi tak berani atau berat untuk bercerai.


2. Anak


Alasan kedua dari banyak wanita yang tidak berani bercerai adalah, karena anak.
Ini sedikit nyambung dengan poin di atas ya.
Cuman ini lebih ke masalah mental anak.

Anak-anak dekat dengan ayahnya, tapi juga dekat dengan ibunya.
Manalah ada ibu yang tega merenggut hal itu dari anaknya?

Belum lagi ketakutan lainnya, ketika bercerai dan ayahnya akhirnya menikah lagi, as we know ya, amat sangat jarang ada lelaki yang bertahan untuk tidak menikah lagi, selepas bercerai.

Ketika ayahnya menikah lagi, lalu akhirnya punya anak lagi, apakah ayahnya masih bisa sedekat itu kepada anak-anaknya?

Bagaiman bisa seorang ibu dengan mudahnya tega merenggut kebahagiaan anak berkumpul dengan ayahnya?


3. Masih cinta


Meskipun tergolong jarang, tapi ada loh wanita atau istri, yang nggak berani bercerai, karena masih cinta.

Bahkan, sebenarnya ada juga wanita atau istri, yang meskipun udah merasa eneg-seeneg-enegnya, tapi jauh dalam hatinya, masih cinta loh.
Karena jarak antara cinta dan benci emang setipis tisue kali ya.

Kalau menurut saya, cara jitu mengetes, apakah kita masih cinta sama pasangan atau enggak adalah, dengan melihat kondisi mental kita.
Kalau mental kita masih turun naik ketika ada pasangan, saya yakin itu masih ada rasa cinta.

Tapi kalau mental kita baik-baik saja, mau pasangan jungkir balik kiri kanan muka belakang, nggak merasa sakit hati, kesal apalagi eneg.
Saya yakin itu udah beneran hilang rasa, hahaha.

Iyaaa, cinta itu memang menyakitkan, karena dengan cinta kita merasakan bahagia, dan lawan bahagia ya sakit hati, hahaha.
Jadi, kalau mau mencinta, ya siap-siap aja sakit hati, kecualiiii... kita mencintai dengan ikhlas.

Nah demikian juga dalam pernikahan, ada loh pasangan yang masih bertahan, meski sudah merasa seringnya saling menyakiti satu sama lainnya.

Tapi, rasanya berat banget untuk berpisah, karena ketika bertemu, berantem aja melulu, giliran berpisah, hatinya terasa sakit dan kosong.

Atuh mah, bener ya kata si Patkay, cinta emang selalu membawa penderitaan, hahaha.


Alasan Bertahan juga Berat


Sudah tahu kan ya, 3 alasan paling mendasar, mengapa banyak wanita yang merasa ragu dan takut bercerai?

bercerai-maupun-bertahan

Pasti banyak yang ngomong, ya udah bertahan aja, terima konsekwensinya.
Ya iya dong, tapi emang berat juga, sama beratnya untuk bercerai, karena:


1. Tidak ada komunikasi serius


Ini nggak enak banget ya, serumah tapi nggak ada komunikasi sama sekali, bahkan saking nggak ada komunikasi, satu sama lainnya saling nggak tahu, apa, di mana, dan ngapain pasangannya.

Ini bakalan semakin berat, ketika ada orang lain, atau tetangga misalnya, bertanya,
"Mana suami / istrinya?"
Sementara baik suami maupun istri nggak pernah saling komunikasi, mau ke mana dan ngapainpun nggak saling tahu.

Dan dampak tidak ada komunikasi serius, bisa juga berdampak terhadap masa depan, istri jalannya ke mana... suami jalannya ke mana.

Tujuannya udah beda, satu ke kanan, satu ke kiri.
Mau pisah, tapi balik lagi ke poin di atas, wakakakakaka.
Rempong emang.


2. Sudah tidak peduli satu sama lainnya


Mau suami ke mana kek, ngapain kek.
Mau istri ke sono kek, ngapain kek.
Pokoknya udah saling nggak peduli.

Bahasa Jawanya,
"Karepmu!"
Percayalah, situasi demikian berat banget untuk dijalani.
Mau pisah, kok lagi-lagi dihadang poin di atas, hahaha.


3. Hilang rasa


Sebenarnya hal ini lebih tepatnya menjadi pemicu ya, karena kalau alasan, rasanya justru malah enak kalau udah hilang rasa, anggap aja pasangan teman biasa.

Jadi, mau sendiri-sendiri juga nggak masalah.
Masalah utamanya adalah, ketika hilang rasa itu, akhirnya muncul rasa lain di hati, tapi buat orang lain.

Iyup, jatuh cinta ke orang lain.
Duh berat banget deh, selain jadinya pusing sendiri, masih jadi pasangan sah seseorang.
Mau berpisah? ya balik lagi ke poin di atas, remppong dah, wakakakkaak.


Bercerai Maupun Bertahan itu Berat, Kalau ada yang Mengeluh Pada Kita, itu Karena Dia Percaya sama Kita untuk Mendengarkan Keluhannya 


Sering banget kan kita melihat ada yang kesel ketika melihat orang lain galau dengan kebimbangan, mau bercerai? atau bertahan?

Kalau ingin tahu harus gimana memutuskan, silahkan baca postingan saya di link paling atas ya.

Tapi saya ingin membahas tentang orang-orang yang kesal, ketika melihat atau mendengar ada yang curhat tentang kegalauan bercerai atau bertahan.


Banyak yang gemes, dan selalu langsung menyuruh bercerai saja.
Tapi giliran udah cerai, anaknya nggak bisa meneruskan sekolah di sekolah yang dia suka, pada kabur nggak ada yang mau bantuin bayarin SPPnya *eh, hahaha.

I mean, sebenarnya gini loh parents.
100% orang bercerita itu, butuh didengarkan, dan hanya sedikit orang yang bercerita, butuh solusi.

Ada juga yang butuh solusi, cuman sebagai menghibur hati saja.
Jadi, orang seperti ini, akan kesal kalau curhat, tapi lawan bicaranya cuman diam aja.
Tapi ketika dikasih ide, seketika ditolak mentah-mentah dengan 1003 alasan, hahaha.

Lalu apa yang harus kita lakukan?
Tanyakan ke diri kita, sanggup nggak meladeni?
Kalau enggak, menjauhlah ketika dicurhatin, hahaha.

Jahat ya, iya sih, tapi masih mending, ketimang mental kita ikutan stres.

Kalau saya pribadi, mungkin karena udah mengalami langsung ya, udah pernah berada di posisi galau dan stres memilih bertahan atau bercerai?

Jadinya udah sedikit lebih tahu, bagaimana bersikap, ketika ada teman yang curhat masalah serupa.
Karena, sejujurnya ya, tidak semua orang mau menceritakan hal itu loh.
Banyak yang memilih memendamnya sendiri, karena menurut mereka itu aib.

Kalau dipendam dan diadukan ke Allah semata sih, nggak masalah ya, karena insha Allah diberi kekuatan dan ketenangan dalam menghadapi kegalauannya.

Tapi, kalau cuman dipendam sendiri?
Belum juga menemukan jalan terang mengadu pada-Nya?
Yang terjadi malah depresi, bahkan bisa lebih parah lagi.

Jadi, ketika ada orang yang curhat tentang masalah seperti ini, sesungguhnya orang itu memang benar-benar percaya kepada kita, dan bukan berarti semua orang butuh solusi ya.
Jadi menyuruhnya langsung cerai itu, adalah sikap yang sama sekali tidak bijak.

Meskipun disertai segala macam nasihat ya.
Kita tanyakan saja ke diri sendiri.

Kita, ketika sedang galau, stres, apakah mampu menerima masukan?
Saya rasa sulit ya.

Ibarat gelas yang penuh, pikiran orang yang stres dengan kegalauan memilih bertahan atau bercerai itu, udah tumpah-tumpah, dan airnya itu keruh banget.

Dengan curhat yang di mata kita pendengar, kalau dia mengeluh, dia sedang berusaha mengeluarkan air keruh dan kotor itu dari pikirannya.

Jika ada yang mendengarkan, maka air itu bisa sedikit demi sedikit tumpah, sampai akhirnya kosong.
Dan ketika kosong itulah, akan lebih mudah baginya menerima masukan, bahkan dengan mudah juga dia menemukan jalannya yang sangat pintas, yaitu mengadu sama Allah.


Coba deh nonton film India Ammu tersebut, Ammu berhasil melepaskan diri dari KDRT, karena dukungan terus menerus dan tanpa baper dari orang-orang terdekatnya.

Jadi begitulah, mengapa saya, kalau ada orang yang curhat tentang kegalauan bercerai atau bertahan, saya hanya akan mendengarkan dengan seksama, memberikan reaksi yang menunjukan kalau saya peduli, dan ketika dia terlihat ngasih sinyal minta ide, saya kasih ide yang sifatnya bertanya, bukan menyuruh atau mendikte.

Misal,
"Kalau seandainya pisah dulu gitu, untuk sementara gimana?"
Bukan,
"Ya ampuuunn, udah, cerai aja, orang kayak gitu toksik, sayangi dirimu!"
Terdengar manis sih ya, kata-kata nomor 2, tapi di mulut doang, praktiknya? ya kali mau curhat ke kita, kalau masalahnya se simple itu, wakakakaka.


Penutup


Bercerai maupun bertahan, sesungguhnya hal itu tak se-simple yang dipikirkan banyak orang, dan bahkan orang memutuskan curhat atau terbuka masalah yang sedemikian beratnya itu, tak melulu mudah untuk dilakukan.

Banyak yang tak siap menghadapi reaksi orang lain yang malah semakin menyudutkan, belum lagi dikatakan menyebar aib.
Padahal, yang mengalami amat sangat butuh space dari kepala dan pikirannya, yang penuh dengan masalah tersebut.

Jadi begitulah, bercerai maupun bertahan, itu sama beratnya.
Tapi ada lagi yang lebih berat, yaitu mendengarkan penghakiman orang lain, atau memilih memendam semua depresi diri karena galau memikirkan bertahan atau bercerai.


Sidoarjo, 13 Januari 2023


Sumber: Opini dan pengalaman pribadi
Gambar: Canva edit by Rey

Demikianlah artikel tentang bercerai atau bertahan sama beratnya, semoga kita bisa menemukan celah untuk sedikit melepas beban akibat beratnya pilihan tersebut.






2 comments for "Bercerai Maupun Bertahan Itu Sama Beratnya, Tapi Masih Ada yang Lebih Berat Lagi!"

  1. Rumah Tangga kdg terlalu rumit, apalg jk sdh hrs memikirkan anak. Setiap org punya alasan memilih jalan yg akan ditempuhnya. Pastikan memilih jalan yg terbaik utk anak.. meskipun tdk ada pilihan yg baik jk menyangkut perceraian, tp pilih jalan yg memiliki dampak plg minim thd anak..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul banget, dan cobalah melihat secara luas, jangan hanya sesuai hati sendiri, karena tidak semua wanita auto bahagia setelah bercerai, sementara anak butuh ibu yang bahagia

      Delete