Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Dari Kasus Kopda Muslimin, Sulit Diceraikan Tidak Melulu Sebuah Anugerah

Konten [Tampil]
Dari Kasus Kopda Muslimin, Sulit Diceraikan Tidak Melulu Sebuah Anugerah

Kopda Muslimin, seorang tentara, anggota TNI dengan pangkat Kopral Dua (Kopda).
Setiap harinya ia bertugas di Batalyon Artileri Pertahanan Udara (Yonarhanud) 15/DBY, Semarang, Jawa Tengah.

Dan sudah beberapa hari belakangan ini, namanya trending di mana-mana, lantaran drama otak percobaan pembunuhan istrinya sendiri, dengan motif punya WIL.

Melalui Parenting By Rey kali ini, saya jadi ingin membahas tentang menikah dengan tentara atau sejenisnya, yang katanya sulit diceraikan atau dicampakan.


Tentang Kasus Kopda Muslimin


Pada Senin, 18 Juli 2022, di mana kebanyakan parents sedang sibuk dengan anak-anak yang mulai masuk sekolah offline kembali.

Demikian juga dengan Rina Wulandari, istri Kopda Muslimin yang juga repot mengurus antar jempur anaknya. Sayangnya ternyata di tengah ke-hectic-an tersebut, terjadi sesuatu yang membuat Kopda Muslimin viral di mana-mana.

Kopda Muslimin dan istrinya Rina Wulandari
Source: Solopos

Yup, istrinya, ditembak orang yang tidak dikenal, ketika pulang menjemput anaknya dari sekolah, dan aksi tersebut terekam kamera CCTV yang ada di sekitar tempat tinggalnya.

Rina Wulandari jatuh bersimbah darah, ketika sebuah peluru bersarang di perutnya, usai ditembak di depan anaknya sendiri.
Langsung saja dia dibawah ke RS Hermina Banyumanik kota Semarang.

Tak menanti waktu lama, semua pelaku penembak istri Kopda Muslimin pun ditangkap polisi, dan ditemukan bukti-bukti kuat yang mengarah bahwa dalang dari penembakan Rina Wulandari, justru dari suaminya sendiri, Kopda Muslimin. 

Kopda Muslimin sendiri, ketika itu ikut mengantar istrinya ke rumah sakit, namun setelahnya malah menghilang tak tentu rimbanya, dan seketika juga dia jadi buronan polisi, sampai akhirnya di tanggal 28 Juli 2022 kemarin, berita geger terjadi lagi, ketika ditemukannya Kopda Muslimin yang tewas dengan dugaan bunuh diri, di rumah orang tuanya sendiri.

Meski masih menjadi misteri karena belum bisa mendapatkan keterangan langsung dari mulut Kopda Muslimin, tapi akhirnya kasus ditembaknya Rina Wulandari, istri sang Kopda, semakin jelas kalau semua itu adalah kelakuan suaminya sendiri, dengan motif agar bisa hidup bersama wanita idalam lainnya.

Wanita yang menjadi selingkuhan Kopda Muslimin tersebutpun, telah diamankan dan dimintai keterangannya sebagai saksi, dan menjelaskan kalau ternyata selepas mengantar istrinya di RS, Kopda Muslimin menghubungi sang selingkuhan meminta dijemput, lalu dengan mengendarai motor sang selingkuhan, mereka berkendara hingga ke Wonosobo.

Di sana, Kopda Muslimin menceritakan tentang penembakan istrinya, lalu meminta sang selingkuhan untuk ikutan dia lari bersama, namun wanita tersebut menolak.

Hal itu membuat Kopda Muslimin berang, dan pergi meninggalkan si selingkuhan sendirian, dengan mengendarai motor wanita tersebut.

Beberapa hari kemudian terdengarlah berita kalau si Kopda Muslimin, tewas keracunan di rumah orang tuanya. 
Dan saya yang membaca beritanya, hanya bisa ternganga-nganga memikirkannya.


Menikah Dengan Tentara adalah Idaman Orang Tua Wanita


Sungguh nggak masuk di akal saya, atau memang sayanya terlalu naif kali ya?
Bisa-bisa ada orang (lelaki pulak!), usia udah bapak-bapak banget, udah punya 3 orang anak (berita di berbagai media) tapi bertindak layaknya abege.

Kalau udah masalah nyawa, seharusnya kan si Kopda Muslimin itu pakai otak dikit napa?
Astagfirullah, maafkan saya nyinyir.

Saya heran banget sih, mengapa harus membunuh istrinya?
Mengapa nggak minta cerai aja?
Kalau memang dia membunuh istrinya demi mempertahankan jabatan sebagai tentara, terus tuh otak ditaruh di mana, sampai nggak mikirin, kalau istrinya mati dengan cara tak wajar, dia bakalan nggak ketauan?

Astagfirullah ya Allah.
Maafkan parents, jujur ini kayaknya pertama kalinya saya gemes masalah orang lain, padahal saya juga nggak tahu pasti masalah selengkapnya ya.

Cuman gimana ya? udah melibatkan nyawa soalnya, mencoba membunuh ibu dari anak-anaknya, sungguh lelaki yang... ah sudahlah.

Biar nggak ikutan geram, saya jadi pengen membahas tentang beberapa profesi idaman orang tua wanita, termasuk orang tua saya, dulunya.

Polisi dan tentara merupakan profesi idaman bapak saya, namun lucky me bapak, meskipun galak, tapi nggak pernah sedikitpun memaksa masa depan anak-anaknya harus seperti apa.

Jadi, bapak menerima saya ketika saya nggak bisa jadi profesi itu (yang bener aja, jalan 5 meter aja ngeluh capek, mau jadi polis atau tentara, hahaha).
Kakak saya, menghabiskan tidak sedikit waktu, tenaga, dan materi untuk daftar di profesi tersebut, tapi sayang selalu gagal.

Ketika saya akhirnya memilih kuliah, dan abis kuliah nggak mau balik ke Buton, bapak dan juga mama berharap saya menikah dengan tentara atau polisi.

Saya?
Tauk deh, sejak dulu tuh alergi banget sama tentara dan polisi, hahaha.
Mungkin karena kesal kali ya, dulu tuh di Buton, orang-orang dengan profesi tersebut, songongnya minta dikeplak.

Dan kesalnya lagi, bapak tuh kayak takut dan hormat banget sama kedua profesi tersebut, biar kata tuh kebanyakan songong.

Bapak dan mama tidak salah sih, mereka cuman pengen saya terjamin dalam masa depan, sebagai orang tua dengan anak perempuan 2 orang, wajar sih mereka selalu was-was dengan masa depan saya.
Karena saya juga bukan PNS, jadi setidaknya bisa menikah dengan tentara atau polisi, setidaknya PNS lah.

Berbeda dengan kebanyakan orang tua lainnya kali ya, di mana mengidamkan polisi dan tentara itu karena seragamnya.
Ortu saya berpikir, kalau menikah dengan aparat negara itu, bakalan lebih aman jadi istri.

Karena tak mudah untuk ditinggalkan atau ditelantarkan begitu saja.
Bahkan, tak mudah untuk diselingkuhi, karena taruhannya adalah jabatan.
 

Sulit Diceraikan Tidak Melulu Menjadi Sebuah Anugerah


Tapi dasar ya saya tuh sejak dulu keras kepala, tidak selalu asal tunduk akan dikte dari siapapun, terlebih ortu hanya berharap, tak pernah mendikte.
Jadinya saya tak tertarik sama sekali dengan polis dan tentara.

Karena dulunya saya berpikir, diceraikan, ditelantarkan itu bukan semata karena jabatan yang kurang kuat, tapi juga karena personal atau oknum tertentu.

Banyak juga polisi atau tentara yang hidup rukun sampai menua bersama dengan istrinya.
Namun, tak sedikit juga yang punya drama rumah tangga meski menikah dengan aparat negara tersebut.
Sama aja kayak menikah dengan lelaki profesi lain sih.

Dan bukan hanya itu, menjadi istri aparat dengan kelebihan yang katanya tidak mudah diceraikan itu, tidak selalu menjadi sebuah anugerah.

Bisa jadi adalah sebuah bencana, seperti Rina Wulandari, istri Kopda Muslimin tersebut.
Andai saja segera bercerai, mungkin nggak perlu ada drama percobaan pembunuhan berkali-kali.

Nyatanya, menurut beberapa informasi, justru motif dari sang Kopda sampai tega membunuh istrinya adalah, karena pengen menikahi wanita lain, yang menjadi selingkuhannya.
Dan dia tetap masih ingin menjadi seorang tentara. 

Penutup


Demikianlah, belajar dari kasus drama Kopda Muslimin, membuktikan bahwa tak ada pernikahan yang benar-benar aman di dunia ini, tanpa perjuangan.

Mau menikah dengan lelaki berprofesi apapun, kita akan menghadapi seribu satu masalah rumah tangga, lengkap dengan dramanya.

Lalu gimana dong? masa iya nggak usah nikah aja, biar aman?
Nggak juga dong, menikah itu adalah takdir, jadi mau dihindaripun, kalau jodohnya udah dipertemukan, mau nggak mau dihadapi.

Yang perlu kita lakukan adalah, selalu memberikan best part dari diri kita, berusaha dan berjuang yang terbaik, karena yakin banget, semuanya akan kembali ke kita juga.

Demikianlah, semoga nggak ada lagi kisah drama kayak kasus Kopda Muslimin.


Sidoarjo, 29 Juli 2022


Sumber: 
  • Opini dan pengalaman pribadi
  • https://news.detik.com/berita/d-6204932/7-drama-kopda-muslimin-coba-bunuh-istri-kabur-ditemukan-tewas
Gambar: Canva dan berbagai sumber

1 comment for "Dari Kasus Kopda Muslimin, Sulit Diceraikan Tidak Melulu Sebuah Anugerah"

  1. Jujur aku tau cerita ini pas baca Ig dan blog mu ini 😄. Ga ngikutin sih sbnrnya. Tapi setelah tau, ya jadi kesel sendiri. Kok bisa ada laki2, tentara pulaaaa yg begitu. Ini pas diterima dulu, kok bisa lulus tes Yaa. Kepribadiannya ga kliatan kejam apa

    Beruntungnya ortuku juga ga maksain soal jodoh Rey. Cuma sebisa mungkin jangan PNS 🤣🤣. Ga percaya papa Ama mereka, saking banyak berita negatif ttg cara kerja dan hidup PNS. Jadi papa LBH suka kalo kami Ama karyawan swasta atau pengusaha. Kalo tentara Ama polisi, itu juga bukan yg masuk kriteria ortuku. 😄

    Tapi aku sendiri ga mau Ama tentara atau polisi. Aku kuatir mereka bakal tangan besi dlm kehidupan sehari2. Tau sendiri mereka toh udah disiplin banget hidupnya. Aku ga tertarik kalo terlalu diatur begitu . Apalagi kalo pake tangan besi, maaf aja 🤣. Trus aku lama di Aceh kan. Di mana aku ngeliat banyak tentara yg saling bunuh2an Ama gam . Makinlah serem.

    ReplyDelete