Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Belajar Menerima Real Life Seorang Ibu

Belajar Menerima Real Life Seorang Ibu

Parenting By Rey - Beberapa hari belakangan ini, saya kembali uring-uringan.
Mood berantakan banget, anak-anak? udah deh, ujung-ujungnya kena bentakan, hiks.

Entahlah, mungkin saya sedang sibuk belajar memahami, bahwa real life atau kehidupan nyata seorang ibu ya kayak gini ini.

Bahwa wajar jika seorang ibu merasa lelah dengan pekerjaan rumah tak berujung, anak-anak yang tidak berhenti saling berlarian, saling berkejaran, lalu berakhir dengan jatuh terpeleset.

Kadang, hanya terasa sakit, namun tak jarang juga sampai luka lecet, lalu kambuh deh manjanya, langsung auto nggak bisa jalanlah, yang sukses bikin saya panik banget, padahal ya cuman perih aja, ckckckck.

Itu belum ketambahan dengan kelakuan si adik, yang hobi banget bolak balik tempat cuci yang basah di belakang.
Bermacam alasan dia gunakan, mulai dari matikan keran air, hingga pipis.

Saya tuh deg-degan banget, takut dia jatuh, karena di situ kan licin, dan akhirnya beneran jatuh deh kemaren, dengan kepala mengenai pinggiran sudut lantai yang tajam.
Ampun deh saya histeris dan panik, sibuk megangin kepalanya, takut luka atau gimana, lalu mengamati apakah dia kesakitan atau mungkin muntah.

Alhamdulillah, sepertinya meski kepalanya mengenai ujung lantai, tapi si adik sempat menaham kepalanya hingga nggak mengenai sudut lantai itu dengan keras.

Ya Allah, si Adik!
Baru aja dia sembuh dari demamnya beberapa hari lalu.


Tingkah Pola Anak Yang Aktif


Iya, saya sadar betul bahwa salah satu tanda anak sehat dan kuat adalah, tingkah polanya yang seabrek, dan justru itu diwajibkan, sebagai stimulasi agar anak bisa tumbuh dengan optimal.

Tapi, kadang bahkan sering, hal itu membuat saya kesal karena ketakutan anak-anak jatuh kek, atau nabrak sesuatu kek.
Terlebih saya punya semacam trauma karena si kakak pernah jatuh dari sepeda dengan kondisi gusinya terluka parah, hiks.

Belum lagi, tingkah pola mereka itu, bikin saya nggak punya waktu buat mengerjakan pekerjaan lain.
Apalagi saya kan harus mengurusi semuanya seorang diri, nggak ada suami yang bantuin pula karena suami jarang banget pulang ke rumah.

Tak jarang, saya harus begadang menyelesaikan pekerjaan, namun di saat saya begadang, anak-anak biasanya juga ikutan begadang.

Dan yang paling kadang bikin pengen menyerah adalah, membiasakan anak untuk sholat tepat waktu, mengaji dan hafalan setiap harinya, disiplin terhadap waktu, sungguh ya, butuh kesabaran tingkat universe.


Pekerjaan Rumah yang Tak Pernah putus

 
Selain anak-anak yang kebanyakan tingkah, pekerjaan rumah yang tak pernah putus, juga menjadi sumber uring-uringan buat ibu, khususnya saya sih.

Masak, nyuci, beberes, nyuapin anak, dan lainnya.
Sungguh rasanya tak putus-putus.

Mulai dari pagi hari, saya udah harus masak sarapan buat si kaka, beberes rumah yang sebenarnya udah dibantuin si kakak tapi ya gitu deh, kerjaan anak-anak kan masih ngasal gitu.
Hingga mengurus si adik, mengawasi si kakak, setelah itu mandi, bersiap mau kerja, tapi biasanya nggak konsen, malahan jadi ngantuk saking kurang tidur.

Entahlah, mungkin memang saya lelet dalam bekerja karena kurang dinikmati, atau memang manajemen waktu saya yang buruk, karena terlalu banyak hal yang saya kerjakan.

Ya bekerja freelance dari rumah, sambil mengasuh anak dan mengerjakan banyak kerjaan rumah itu memang sungguh luar biasa.
Rasanya saya ingin menyerah, terlebih jika membayangkan masa lalu, ketika saya masih bekerja kantoran, di mana saya bisa bekerja tanpa harus diinterupsi anak yang jejeritan, anak yang mau pipis lah, pup lah, minta jajan lah.

Daaann lain sebagainya.


Tapi, Real Life Seorang Ibu memang gitu


Namun, sebagaimanapun saya ingin teriak, bahkan tak jarang saya membentak anak-anak saking nggak kuat lagi bersabar alias memang nggak sabaran kan ya.
Di ujung waktu, saya hanya bisa menyesali semua ketidak sabaran itu, terutama ketika memandangi wajah anak-anak yang tertidur lelap dengan muka damainya.

Belajar Menerima Real Life Seorang Ibu

Saya merasa betapa apa yang bakal terjadi pada diri dan hidup saya jika anak-anak nggak ada?
Rasanya saya akan super kesepian, menjalani hidup yang membosankan, tanpa 2 orang bocah lucu yang sebenarnya hadir untuk memaksa saya menjadi pribadi yang lebih baik.

Lalu perlahan atau pasti saya menyadari, bahwa apapun yang saya alami selama ini, yang sering menjadikan saya uring-uringan karena merasa lelah, sesungguhnya bukanlah hal yang berlebihan.

Ya memang begitulah kehidupan seorang ibu.
Harus berkutat dengan tingkah pola mereka yang lucu dan berani, karena sesungguhnya mereka sedang belajar meng-explore hidup ini. 

Menghadapi anak-anak yang berantem, karena belajar untuk berargumen dan menyampaikan dan mempertahankan apa yang dia yakini benar.

Menerima bahwa memang ibu rumah tangga ya kehidupannya seperti ini, tak lepas dari anak, dan kerjaan rumah yang tak kunjung putus.
Lalu saya teringat satu kata seorang sahabat bahwa, 
"yang namanya hidup itu selalu saja diikuti pekerjaan, kalau kerjaan habis, pasti waktu kita juga udah habis"
Hehehe, iya juga ya.
Yang namanya hidup, pasti ada aja kerjaan yang harus kita lakukan.
Entah itu bangun tidur lalu mandi, gosok gigi, hingga pekerjaan yang harus kita kerjakan untuk orang banyak.

Seperti kemaren, yang penuh drama.
Kami bangun kesiangan, udah tahu kesiangan si kakak masih juga slow motion.
Giliran mandi, dicepat-cepatin alias mandi ngasal.

Lalu, saya yang ngantuk ingin tiduran sebentar, si adik kok udah terbangun, terpaksa harus bangun untuk mengurusin si adik, sebelum dia terkena masalah pencernaan lagi.

Rumah berantakan, debu di mana-mana, rasanya setiap melangkah debu pada nempel di kaki dan bikin kulit kaki terasa jadi lebih kering, dan bikin jadi makin bad mood lagi deh.

Tapi, sekali lagi, tidak ada yang bisa saya lakukan, selain mencoba memahami dan menerima, bahwa real life seorang ibu itu ya kayak gini. 
Dan yang bisa saya lakukan adalah bersabar dan menikmati semuanya, karena mau marahpun, hanya akan membuat semua pekerjaan terasa lebih berat, pun juga anak-anak jadi lebih sulit dikasih pengertian.

Pada akhirnya, memang penerimaan kita, terhadap masa sekarang, akan membuat hidup jadi lebih ringan. Meskipun sejujurnya itu tak mudah, tapi amat sangat worth it untuk diusahakan.

Demi ketenangan hati kita sebagai ibu.
Demi masa kecil dan bertumbuh anak-anak yang seharusnya merekam lebih banyak kebahagiaan, dari ibunya yang bisa lebih menerima keadaan real life seorang ibu, dan akhirnya bisa lebih berbahagia.

Demikianlah.

Sidoarjo, 3 Maret 2021


Sumber: pengalaman dan opini pribadi
Gambar: Canva edit by Rey 

2 comments for "Belajar Menerima Real Life Seorang Ibu"

  1. kondisi riweuh juga sering banget aku lihat dirumahku sendiri mbak
    adik aku sebenernya uda gede gede, tapi kadang kalau malesnya kumat dan diminta buat ngerjanin ini itu, misal kayak cuci piring yang cuman bertahan sehari aja
    udah pasti ceramah tuh si ibuk ke adik adikku

    kadang kalau si adek adek ini ada di rumah, suka ga peka gitu, mbok ya bantuin ibuk buat beres beres dapur atau apa gitu, malah keasikan dengan games atau dunianya sendiri

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha, kono sebenarnya anak lebih gede itu lebih sulit diaturnya, karena rata-rata mandiri, dan banyak alasan hahahaha

      Kalau masih kecil, mudah nurut, tapi ya gitu, bergantung semua di ortu :D

      Delete