Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pengalaman Anak Terkena Sakit Maag

Konten [Tampil]
Pengalaman Anak Sakit Maag

Parenting By Rey - Anak kecil juga bisa terkena sakit maag loh, dan ini baru saja saya ketahui ketika si adik sakit 2 mingguan lalu.

Waktu itu, si adik Dayyan (3yo) yang biasanya sangat ceria, kebanyakan tingkah, sukanya lari-larian, manjat, dan semacamnya.

Tiba-tiba saja menjadi sedikit murung dan lemas.
Sebagai Mami, yang terbiasa mengetahui suhu tubuh normal si Adik, saya udah bisa rasakan, kalau si Adik bakalan sakit.

Dan benar saja, malamnya demamnya makin tinggi, hanya saja saya nggak tahu berapa suhu tubuhnya, karena termometer kami rusak dimainin ama si Adik.

Awalnya sih, saya masih berpikiran positif, bahkan menahan untuk memberi sirup penurun panas.
Karena si adik masih mau makan, biarpun tidak selahap biasanya, dan masih mau minum susu terus.

Namun, ketika malam, si adik tiba-tiba mual dan muntah, setelah itu dia semacam malas minum biarpun air putih, dan mulailah saya panik, takut dia dehidrasi (saya memang mamak yang super panikan, hehehe).


Awal Curiga Kalau si Adik Sakit Maag


Saya bingung mengira-ngira, si adik sakit apa?
Karena dia sama sekali nggak batuk ataupun pilek.

Biasanya si adik hanya demam karena batuk dan pilek, namun demamnya berbarengan dengan muncul batuk dan pileknya.

Namun kali ini, si Adik hanya demam saja, salah satu gejala lainnya yang kurang saya ngeh adalah, ternyata si adik mengeluh sakit perut sudah sejak beberapa hari sebelum dia demam.

Saya kurang ngeh, karena si adik selalu mengatakan sakit perut saat dia kebelet pipis, pun juga sering banget ikut-ikutan kakaknya, yang kalau sakit perut langsung lari ke kasur (dan saya juga mulai khawatir, jangan-jangan si kakak juga kena maag, cuman daya tahan tubuhnya lebih kuat).

Karena muntah-muntah, sayapun curhat ke teman saya si Buthed, dan dia bercerita bahwa anaknya yang sulung, pernah sakit demikian.
Demam, mengeluh sakit perut, muntah-muntah, tapi nggak diare.
Sama kayak si Adik, dia bahkan nggak bisa BAB sampai 2 harian.

Si Buthed bercerita, bahwa ketika itu, Ella, anaknya, dibawa ke dokter anak langganan mereka, dan diagnosa dokter bikin mereka ketawa.

Kata dokter, bisa jadi si Ella kena sakit maag.
Hah? anak kecil kena sakit maag?
Saya pun ngakak ketika pertama kali mendengarnya.

Si Buthed juga demikian, dia dan suaminya nggak percaya, dan nggak menebus obat Omeprazole yang diresepkan dokternya.

Mereka hanya menebus obat penurun demam, dan obat pereda mual.
Namun, ternyata hingga keesokan harinya, si Ella masih saja menangis karena perutnya sakit, si Buthed akhirnya menghubungi dokter langganan mereka lagi, dan si dokter menyarankan untuk mencoba memberikan Omeprazole dengan dosis yang sudah ditentukan.

Dan akhirnya obat tersebut diberikan kepada anaknya, dan ajaib, setelahnya si Ella merasa lebih baik, perlahan sakit perutnya hilang, dan bisa sembuh seperti sediakala.
Barulah si Buthed percaya bahwa si Ella, putri cantiknya mengalami sakit maag.

Mendengar cerita tersebut, saya jadi ikutan curiga, jangan-jangan si adik memang terkena sakit maag, terlebih sebelumnya saya memang sakit saraf terjepit dan kurang bisa mengurus anak-anak, yang akhirnya jadwal makan mereka berantakan, dan beberapa hari mereka harus makan makanan yang beli melulu, sementara sebelumnya sangat jarang makan makanan beli terus seperti itu.  

Sayapun, memutuskan untuk konsultasi ke dokter anak secara online, meski sejujurnya kurang memuaskan, tapi menurut saya itu lebih baik ketimbang harus antri di dokter anak, di masa pandemi penuh virus gini.

Pengalaman Anak Sakit Maag

Si dokter sih menjelaskan bahwa anak harus di bawah ke RS, harus cek darah, takutnya types lah, DBD lah. Sampai akhirnya saya nanya, mungkin nggak sih si Adik kena sakit maag?
Barulah si dokter bilang, sangat memungkinkan.

Saya langsung nyerocos, kalau si Adik memang sebelumnya mengalami jadwal makan yang kacau, eh barulah si dokter ngasih resep, yaitu obat maag Polysilane suspensi 100 ml dengan dosis 3 x 2,5 ml sebelum makan, dan Cefspan 100 Mg Dry Sirup yaitu antibiotik karena sang Dokter menganggap demamnya udah lebih dari 3 hari dan butuh antibiotik.

Segera saya membeli obat maag Polysilane Suspensi dan tentu saja mengabaikan antibiotiknya, hahaha.
Saya mah agak parno ngasih anak antibiotik.

Setelah obatnya datang, saya lalu memberikan kepada si adik, setelah itu saya membujuknya untuk mau makan bubur dan telur rebus dicampur keju, si adik suka keju banget betewe.
Alhamdulillah, dia mau makan meskipun sedikit-sedikit.

Dan yang paling menyenangkan, keluhan sakit perut yang si Adik alami perlahan berkurang dan akhirnya menghilang, bersamaan dengan itu demamnya pun menghilang.

Namun, rasa khawatir saya belum juga hilang.
Keesokan harinya tiba-tiba muncul bintik merah kayak ruam di sekujur wajah dan tubuhnya.
Duh paniknya, takut banget kalau DBD, tapi alhamdulillah setelah saya amati, si adik sama sekali nggak merasa gatal yang mengganggu, pun juga udah nggak demam, malah mulai aktif kembali.

Saya menyimpulkan, kalau bintik merah-merah itu sepertinya Roseola, yang dulu juga pernah dialami si Kakak ketika masih bayi, yang kejadiannya pun sama, bintik merahnya timbul setelah si Kakak demam tinggi beberapa hari lamanya.

Alhamdulillah, hanya 2 hari bintik itu bertahan, dan perlahan kemudian menghilang.
Dan alhamdulillahnya lagi, si adik tidak perlu banyak mengkonsumsi obat-obatan, bahkan dia hanya meminum Polysilane sebanyak 4 atau 5 kali saja ya?


Tentang Anak Sakit Maag, Penyebab, Gejala dan Penanganannya


Nah Parents, jadi meski anak-anak juga bukan berarti nggak bakal kena sakit maag ya.
Justru mereka lebih rentan terkena penyakit maag.

Maag yang terjadi pada anak, umumnya memang disebabkan oleh fungsi saluran pencernaan yang terganggu. Misal, karena fungsi pengosongan lambung yang lebih lambat atau peradangan. 


Penyebab Anak Sakit Maag


Ada beberapa hal yang dapat memicu terjadinya gejala sakit maag pada anak, yaitu:
  • Anak makan terlalu cepat, sehingga makanan tidak terkunyah dengan sempurna dan menyebabkan lambung bekerja dengan berat.
  • Anak memakan makanan dengan potongan atau suapan yang terlalu besar.
  • Anak mengkonsumsi makanan bertekstur terlalu keras untuknya.
  • Anak mengkonsumsi makanan tinggi lemak.
  • Anak mengkonsumsi makanan pedas.
  • Anak mengkonsumsi obat-obatan tertentu, seperti antibiotik, aspirin, dan ibuprofen.
  • Anak terpapar asap rokok secara terus-menerus

Benar banget kecurigaan saya, selama saya sakit kira-kira hampir 3 mingguan, si Adik memang terpaksa lebih banyak diurus oleh kakaknya yang berusia 10 tahun, yang tentunya masih belum bisa mengurusnya dengan baik.

Pengalaman Anak Sakit Maag

Kadang disuapin dengan terburu-buru, kadang kalau adiknya terlalu lama, si kakak hanya mau nyuapin dikit, sehingga adiknya masih lapar.
Belum lagi makanan yang mereka makan memang beda dari yang biasa saya masak.


Gejala Anak Sakit Maag


Adapun gejala anak sakit maag pada umumnya mirip dengan gejala maag pada orang dewasa. 
Dan beberapa gejalanya seperti ini:
  • Anak jadi mudah kenyang meski baru makan sedikit.
  • Anak mengeluh kalau perutnya terasa sangat penuh setelah makan.
  • Anak mengeluh nyeri atau perih di bagian ulu hati.
  • Perut anak terasa kembung.
  • Anak jadi tidak nafsu makan.
  • Anak jadi sering bersendawa.
  • Anak jadi sering kentut.
  • Mual dan muntah.
Gejalanya memang mirip dengan orang dewasa, namun sakit maag pada anak memang sedikit sulit menentukannya, karena anak-anak kadang belum bisa menceritakan dengan jelas rasa sakitnya.

Dan melihat dari gejala tersebut, memang beberapa terjadi pada si adik, yaitu sebelum akhirnya demam, dia mulai berkurang porsi makannya, even saya masakin yang biasanya dia sukapun, dia nggak bisa ngabisin seperti biasanya.

Lalu si adik jadi sering kentut, dan mengeluh sakit perut, hingga akhirnya demam dan muntah-muntah.


Penanganan dan pencegahan Anak Sakit Maag

 
Anak sakit itu nggak enak banget, sedih banget deh melihatnya jadi lemes dan nggak ceria seperti biasanya. Karenanya, berikutnya diperlukan pencegahan si Adik sakit maag lagi dengan cara:
  • Selalu mengajarkan anak untuk rajin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir secara rutin, terutama setelah dari kamar mandi dan sebelum makan, pas banget nih karena cuci tangan adalah protokol kesehatan di masa pandemi ini.
  • Memastikan makanan yang dikonsumsi anak-anak sudah benar-benar bersih dan dimasak hingga matang, karenanya memang saya selalu membatasi beli makan di luar.
  • Memastikan air yang diminum anak bersih dan aman untuk dikonsumsi.
  • Mengawasi anak agar tidak makan dengan potongan atau suapan yang terlalu besar, terutama ketika disuapin oleh si Kakak.
  • Mengajari anak untuk mengunyah makanannya hingga halus sebelum menelannya.
  • Menghindari memberi makanan yang pedas pada anak, juga yang mengandung kafein, terlebih yang mengandung banyak lemak jenuh.
  • Menjauhkan anak dari paparan asap rokok.
  • Tidak sembarang memberikan anak obat tanpa resep dokter.

Demikianlah cerita pengalaman si Adik ketika sakit maag, sungguh mengejutkan saya ketika mengetahui ternyata anak pun juga bisa kena sakit maag.

Semoga bermanfaat.

Sidoarjo, 11 Maret 2021


Sumber:
  • Pengalaman pribadi
  • https://www.alodokter.com/
Gambar: Canva edit by Rey 

19 comments for "Pengalaman Anak Terkena Sakit Maag"

  1. waduh anak balita pun bisa kena sakit maag. Saya baru tahu ini ada kasus maag pada anak-anak.

    Alhamdulillah setelah konsultasi dengan dokter, bisa ditangani dengan baik ya mbak. Jadi pelajaran buat saya juga nih buat memperhatikan lagi jadwal makan anak-anak, jangan sampai terkena maag

    ReplyDelete
  2. Adeekk, sehat2 selaluuuu yaaaa
    Aku juga baru ngeuh ni mba, kalo bocil juga bisa keserang maag.

    semogaaa semuanya sehaaatt ya
    supaya bisa maem enak dan tetep enjoy walo most of the time #diRumahAja :D

    ReplyDelete
  3. Baru ngerti aku mbak kalau anak kecil bisa sakit maag. Kan biasanya orang dewasa ya mbak yg rentan apalagi kalau org tersebut doyan kopi kan tidak boleh ya mbak minum kopi. Jadi anak itu ga boleh makan terlalu cepat juga ya mbak. Pengetahuan baru nih utkku

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah iya Mba, padahal anak-anak nggak aneh-aneh makanannya hihihi :D

      Delete
  4. ku memang prnh denger, kalo anak2 skr ini udh banyak yg terkena sakit lambung . Walopun aku dengernya dulu ngerasa lucu aja, tapi memang mungkin terjadi yaa :).

    Jujurnya jd agak parnoan juga Rey. Aku kuatir kena juga ke anak2ku. Krn namanya anak2, mereka kdg msh suka males2an makannya, trus ga dikunyah bener. Apalagi si adek suka bgt pedes, walo udh aku kurangin banget makanan pedes di rumah.

    ReplyDelete
  5. Wahh ilmu banget inih... ternyata makan cepet2 dan potongan terlau besar bisa bikin maag

    ReplyDelete
  6. Gejala sakit maag pada anak sebetulnya nyaris sama dengan yang dialami dewasa, penyebabnya pun tak jauh2 dari perkara cara makan dan makanan yang dikonsumsi. Gejala maag juga mirip dengan penderita batu empedu pada orang dewasa. Syukurlah anakmu sudah baikan Rey. Selanjutnya lebih hati-hati ya. Semoga dirimu dan anak-anakmu sehat selalu. Aamiin

    ReplyDelete
  7. wah baru taau anak juga bisa sakit maag

    bahasan yang sangat bagus mbak Rey,

    membantu ibu muda lainnya

    ReplyDelete
  8. Saya baru ngeh kalau anak-anak bisa juga terkena sakit maag. Ini perlu perhatian orangtua. Soalnya selama ini pastinya pada beranggapan kalau sakit maag itu penyakitnya orang dewasa yg stres, makan ga teratur, yang diet terlalu ketat dan tanpa konsul ke ahli gizi.
    Semoga adek Dayyan ga kena maag lagi.
    Kakak dan Mommy Rey juga sehat2 ya.

    ReplyDelete
  9. Daku juga pernah dengar berita ada anak-anak yang kena mag, jadi nggak bisa dibilang bahwa penyakit mag hanya kena orang dewasa aja ya. Kudu memperhatikan lagi apa yang dikonsumsi dan jadwal makannya teratur atau tidak.

    ReplyDelete
  10. Gejalanya seperti yg dialami orang dewasa aja ya. Hanya saya baru ngeh ternyata menghirup asap rokok juga bisa menyebabkan maag ya, bagi anak. Bahaya ternyata itu...

    ReplyDelete
  11. Anak saya yang sulung juga sakit maag akut. Menurut diagnosis dokter sih karena jadwal makan yang sering gak beraturan. Bisa membayangkan karena kesibukan kuliah, mengerjakan tugas, dan stress yang menyertainya. Sekarang saya biasakan makan roti Marie (yang tanpa gula atau campuran lain) di jam-jam tertentu atau saat sedang tidak memungkinkan untuk makan besar. Alhamdulillah pelan-pelan bisa teratasi.

    ReplyDelete
  12. stay safe and stay healthy everyone

    ReplyDelete
  13. OMG anak anak juga bisa terkena sakit maag? Kupikir hanya waktu batita jika kembung gitu!

    Iya emang anak anak maunya sih kalo bisa seharian makan chiki, kerupuk minum manis dan soda, ya mbak, suwun infonya

    ReplyDelete
  14. kalo anak udah sakit orang tua pasti amat sangat khawatir, aku selalu mikir kalau anak kecil ini memang masih susah untuk menderkripsikan apa yang ia rasakan.
    kayaknya aku kena maag akut ini pas udah gede sekarang

    jangankan sakit maag, pernah nih aku ke dokter, keluhan seperti biasa demam, badan lemah letih lesu, ujung ujungnya dikasih obat maag.
    aku minum aja beberapa jenis obat dari dokternya, padahal aku sendiri merasa nggak sakit maag

    ReplyDelete
  15. Hiks.. anakku yg cewek juga udah kena magh mbak. kayaknya karna makannnya nggak teratur. Kadang suka mula pas habis makan.

    Kalo aku juga sama, sering mual, sakit kepala, sering buang angin.. kayaknya semua gejala itu ada di aku semua mbak.

    ReplyDelete
  16. Unknown
    December 26, 2021 at 7:19 PM
    anak saya sudag 3minggu ini kl setelah makan perut begah kembung besarbngt perutnya banyaj gas sering sendawa kentut. kl udh kluar gas nya perut kempes.
    belum periksa k dokter. penyebab anak saya begah kembung krn sering makan mie dan minum floridina rasa jeruk. apakah itu mag ya.

    Reply : Kalau anak saya nggak ngomong mana yang sakit sih, karena dia belum pandai mengkomunikasikan yang mana yang sakit, yang ada dia nangis aja, dipaksa makan juga nangis, ujungnya muntah.
    Akhirnya saya kasih obat maag, baru deh dia enakan makannya.

    Penyebab dia maag memang makannya ga teratur sih :)

    ReplyDelete