Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

[Curhat] Izinkan Saya, Sebagai Ibu yang Mengeluh Sebentar Saja

Konten [Tampil]
izinkan ibu mengeluh sebentar saja

Izinkan saya, sebagai ibu yang mengeluh, sebentar saja di Parenting By Rey kali ini.
Sebelum nantinya saya kembali bangkit dan memerankan peran ganda sebagai parents as a mom and a dad, untuk kedua anak lelaki saya.

Menjadi single fighter mom sangat tidak mudah, parents!
Meski berkali saya menepis 2 kata tersebut, tidak mudah, dengan berbagai kebangkitan saya untuk semangat mengasuh kedua anak lelaki saya, seorang diri.

Nyatanya, ada saat di mana saya nggak tahan lagi, terutama ketika sedang PMS.

Ini berat banget rasanya.
Berbagai hal sudah saya lewati, dalam menjadi ayah dan ibu buat anak-anak.

Melakukan apapun sebagai parents untuk anak-anak.
Menjadi sosok ibu, dan menggantikan sosok ayah.
Namun ternyata, tak ada yang bisa menggantikan sosok ayah, khususnya untuk anak lelaki.

Selain itu, di pihak saya sendiri, jujur saya sering merasa sangat butuh bantuan seorang teman hidup.
Tempat saya membagikan sejenak beban hidup, mengeluhkan hal-hal yang sungguh melelahkan, sehingga saya tak perlu berbicara kepada dunia tentang kelemahan saya.

Hal ini kadang seperti pisau belati, yang punya sisi positif juga negatif dalam bersamaan.

Di sisi lain, saya merasa plong bisa mencurahkan uneg-uneg, di sisi lain juga, saya merasa kurang baik untuk mengungkit hal-hal yang menyakitkan diri.

Tapi, saya memang lelah, butuh istrahat.
Tapi saya nggak boleh istrahat, karena saya dipaksa jadi single fighter mom yang memikul beban orang lain.


Ketika Pekerja Kantoran Lelah, Bisa Cuti. Dan Ketika Ibu Rumah Tangga Lain Lelah, Bisa Ngedrakor 


Para pekerja kantoran sungguh beruntung, jika dilihat dari posisi saya saat ini.
Ketika kita bekerja di kantor, di pukul 12 siang, semua karyawan biasanya istrahat, dan mendapatkan waktu setidaknya 1 jam untuk makan, sholat hingga bersantai, ataupun bisa punya me time di sela-sela waktu bekerja.

Dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan, semua pekerja kantoran punya hak mengajukan cuti bekerja, yang mana cuti dari bekerja ini sangatlah penting untuk keseimbangan hidup setiap manusia, agar bisa lebih produktif dalam bekerja.

Dengan catatan, ketika cuti, sang pekerja benar-benar beristrahat dari segala macam pekerjaan ya, mengistrahatkan bukan hanya tubuh, tapi juga otaknya dari tekanan pekerjaan yang dialaminya setiap harinya, meskipun nggak 24 jam setiap harinya.

Ibu rumah tangga, sebenarnya juga bisa melakukan hal yang sama, mencapai keseimbangan hidup dengan cara beristrahat dan mengambil waktu untuk dirinya sendiri.

Bisa dengan melakukan hal-hal yang disukainya, seperti nonton drakor, baca novel atau sekadar hang out bersama teman-teman tanpa mengajak anak tentunya ya, dan lain sebagainya.

Ini penting banget dilakukan oleh seorang ibu rumah tangga, sama dengan para pekerja yang perlu cuti atau libur dari pekerjaannya, agar kehidupannya seimbang, dan tentunya punya impact langsung terhadap mentalnya.


Saya, Ibu yang Nyaris Tak Bisa Istrahat Apalagi Punya Waktu Sendiri 


Sepertinya, saya tidak termasuk ke dalam golongan para pekerja atau ibu rumah tangga lain yang beruntung bisa me time setiap harinya.

Jika para pekerja punya hak mengambil cuti, dan menggunakan gajinya untuk refreshing atau melakukan atau membeli hal-hal yang disukainya.

Tidak demikian dengan saya, yang menjadi seorang single fighter mom, tanpa adanya seseorang yang bisa membantu saya menggantikan peran parents sehari saja.

Selama 24 jam dalam seminggu, saya harus bersama anak-anak.
Sibuk mengurusi kebutuhan 2 anak lelaki yang sekarang keduanya udah sama-sama sibuk dan sangat butuh perhatian dan bantuan saya dalam banyak hal.

Baik kebutuhan fisiknya, maupun kebutuhan mentalnya.
Baik kebutuhannya di rumah, sekolahnya, which is kita semua pasti tahu, anak-anak zaman now itu punya kegiatan seabrek-abrek.

Semua itu, hanya bergantung sepenuhnya di saya, selaku orang dewasa, parents satu-satunya yang peduli, dan mengurusi mereka 24/7.

Di sisi lain, saya juga harus mengurus rumah, memasak, mencuci, beberes, ke pasar dan lainnya.
Lalu di sisi lain, saya juga harus mencari uang, untuk kebutuhan hidup, which is itu hukumnya wajib.

Jujur, saya udah berkali-kali gonta ganti berbagai macam strategi mengatur waktu, agar bisa memenuhi semua yang harus saya kerjakan dengan output:
  • Anak-anak sehat selalu, mentalnya sehat, terbiasa hidup disiplin baik dalam kesehariannya maupun dalam agamanya, kegiatan sekolahnya juga terpenuhi.
  • Saya tetap sehat (wajib banget ini hukumnya), mental terjaga, tetap produktif mencari uang dari rumah.
  • Rumah tetap aman dan sehat untuk dihuni anak-anak khususnya. 
Tanpa adanya bantuan sedikitpun, baik dari asisten rumah tangga, keluarga maupun tetangga, karena saya juga sungkan menyusahkan tetangga yang udah repot tanpa saya mintain pertolongan.

Alhasil, keseharian saya sungguh berkutat dengan semua hal yang monoton dan selalu kekurangan waktu tidur, anak-anak yang berada di samping saya selalu, tapi tak bisa memiliki waktu yang berkualitas dengan saya.

Hal ini bikin mereka jadi kacau mentalnya, dan sering terlihat cari perhatian dengan rewel, saling berantem, dan segalanya.

Saya yang kurang tidur, lelah banget pengen istrahat tapi nggak bisa, makinlah drop mentalnya, hingga merasa nyaris depresi meski masih tahapan burn out.

Dengan segala hal yang saya alami, dan tak dikasih waktu untuk istrahat, alih-alih punya me time.
Saya pikir, saya sangat berhak untuk mengeluh.
Karena hanya itulah yang bisa saya lakukan.


Mengeluh, Lalu Bangkit Lagi


Sebagaimana keadaan atau kondisinya, toh yang bisa saya lakukan ya cuman mengeluh sebentar.
Iya, sebentar aja, karena sesudahnya, kehidupan dan kondisi nyata kembali menyapa saya.

Laptop yang udah lama menyala dan seringnya saya tinggalkan, untuk sekadar ambilin minum adik, temanin dia pipis, mendengarkan pertanyaannya, menyelesaikan masalahnya ketika berantem dengan kakaknya.

Saya harus fokus ke laptop, mengingat rekening saya sangat wajib terisi, dan jika tidak terisi, maka anak-anak terancam kesulitan makanan dan uang sekolah Adik tidak bisa terbayar.

Saya juga harus sering mengingat waktu, karena saya butuh tidur, agar tidak sakit, bayangkan kalau saya sakit, siapa yang akan mengurus anak-anak ini?

Saya harus tidur tepat waktu, karena saya wajib bangun sebelum adzan subuh, membiasakan si Kakak bisa sholat subuh berjamaah di masjid.

Saya juga harus menyiapkan sarapan dan bekal anak-anak berangkat sekolah, agar mereka tidak jajan sembarangan dan berpotensi sakit, karena hei! mereka nggak boleh sakit, saya tidak punya asuransi atau tabungan lebih buat bayar dokter.

Saya juga harus memastikan rumah bersih, makanan sehat tersedia, baju-baju bersih selalu tersedia.
Dan uang juga tersedia.

Hhhhhhhh.....

Jujur ini berat!

Tapi, jujur lagi, tak ada yang bisa saya lakukan selain menikmati setiap perjalanan hidup saya.
Meskipun tentu adalah sangat manusiawi jika saya merasa super lelah, lahir dan batin.

Apapun itu, seperti apapun keluhan saya, yang paling penting adalah, setelah mengeluh, saya bisa bangkit lagi untuk semangat melakukan hal-hal monoton dan super rempong menjadi seorang ibu yang berjuang sendirian mengurus 2 anak tanpa bantuan siapapun.

Saya ulangi lagi, siapapun!
Semuanya saya kerjakan sendiri.
Mulai dari hal-hal yang terlihat nyata.
Sampai ke hal-hal yang tak nyata, misal ketika anak punya masalah, dan saya harus memutuskan sendiri melakukan apa terhadap anak.
Tidak ada tempat mengeluh dengan semua masalah yang saya hadapi.

Jujur ini super sangat melelahkan batin saya.
Tapi, memang tak ada tempat mengeluh sih, selain kepada-Nya, yang kadang saya tersesat menuju ke hadapan-Nya, terlebih jika burn out hingga merasa nyaris depresi melanda diri saya.


Penutup

  
Being a single fighter mom itu berat banget, semua hal saya kerjakan sendiri, tak ada orang yang bisa membantu saya, tak ada tempat mengeluh atau sekadar curhat untuk mengurangi beban di hati saya, khususnya menghadapi parenting kedua anak lelaki saya.

Sering saya ingin marah ke Allah, ingin minta Allah kasih saya seorang pasangan hidup teman berbagi beban hidup ini.

Tapi, saya yakin, apapun yang diberikan Allah, adalah yang terbaik buat saya.
Tentunya semua pemikiran bijak ini, kadang tertutup, kadang muncul setelah saya mengeluarkan unek-unek dalam bentuk keluhan, lalu ketika beban jadi terurai melalui keluhan tersebut, muncullah banyak pikiran bijak, yang mana saya selalu yakin, inilah yang terbaik untuk saya, setidaknya untuk saat ini, insha Allah.

Jadi, biarkanlah saya mengeluh sebentar saja.
Sebelum kembali 'berenang' dalam semua perjuangan saya yang sesungguhnya berat ini.     
Tak perlu menasihati saya dengan kata SABAR.
Karena saya juga yakin, tidak semua wanita bisa SABAR berada di posisi saya saat ini.
Sendirian memikul semuanya.

Cukup validasi perasaan lelah saya.
Itu saja.


Sidoarjo, 10 November 2022

Post a Comment for "[Curhat] Izinkan Saya, Sebagai Ibu yang Mengeluh Sebentar Saja"