Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Profesi Ibu

Profesi Ibu

Parenting By Rey - Pernah nggak merasa lelah banget dalam bekerja di profesi kita? Lelah oleh semua list pekerjaan yang memang tak pernah ada habisnya.

Terlebih kalau ritme pekerjaan itu udah nggak sehat lagi baik jiwa maupun raga kita.
Sudah pasti, memikirkan break sementara amatlah sangat berarti.

Entah itu mengambil cuti untuk sebentar istrahat dari rutinitas yang melelahkan, atau bisa juga memikirkan opsi yang lebih serius, yaitu resign dan mengganti dengan rutinitas lain, dengan profesi yang lebih sehat.

Rasanya, hal itu amat sangat manusiawi ya?

Apalah gunanya bekerja melulu, jika memang tak ada ketenangan dan bahkan tidak sehat bagi jiwa dan raga kita.

Yup, saya rasa semua orang dengan berbagai profesi masih berkesempatan mengambil pilihan lain demi solusinya.

Namun, pernahkah kita memikirkan opsi apa yang bisa diambil oleh profesi sebagai ibu?
Terlebih sebagai ibu yang (terlihat) single fighter, atau bahkan single fighter beneran? 

Tidak!

Seorang yang berprofesi sebagai ibu itu, tak pernah bisa punya pilihan, terlebih bagi seorang ibu dengan kondisi tertentu, yang saat ini saya pikir banyak banget dialami oleh seorang ibu.

Inilah yang saya rasakan ketika sakit, dan hanya bisa menangis meratapi nasib menjalani profesi ini.
Sebagai ibu rumah tangga, yang kurang mendapat dukungan dari pasangan.
Ketika sakit, jangankan bisa ke dokter untuk berobat, bahkan untuk beristrahat pun tak bisa.

Dalam rasa sakit, baik sakit raga maupun jiwa karena hati merana, saya sering banget tertidur sambil memikirkan kamar kecil berukuran sekitar 2,75 x 3 m (kalau nggak salah).

Itu adalah kamar kos terakhir saya sebelum menikah, sangat mungil, tak ada dapur umum, tapi entah mengapa kamar itu selalu jadi kamar yang saya rindukan saat ini.

Merindukan berada di kamar itu lagi, bisa istrahat dengan sepenuhnya, bisa tidur dengan lelap tanpa khawatir anak belum makan, anak pup nggak ada yang berisihin, anak pipis di kamar mandi dan terjatuh karena licin, pakaian anak kotor semua, lantai kotor dan anak kepleset dan banyak hal yang menjadi kekhawatiran seorang dengan profesi ibu, yang membuatnya tak punya waktu, even tidur dengan lelap.

Sungguh, saya merindukan kamar tersebut, kamar yang selalu saya gunakan untuk memuaskan jiwa introvert saya, yang lebih bisa menikmati kegiatan sendiri di kamar, entah main game, nonton film dan semacamnya.

Ah..

Tapi sudahlah, semua sudah lewat, sekarang saya sudah menjadi seseorang yang berprofesi sebagai ibu, yang kadang ingin saya sesali, tapi saya sadar, semua itu tak ada gunanya, huhuhu.

Dan begitulah, sesungguhnya profesi sebagai ibu itu sangat mulia, insha Allah bayarannya surga, dan karenanya surga tak mudah diraih.
Namun, berbeda dengan profesi lainnya, bahkan seseorang dengan profesi ibu, tak punya pilihan untuk menolak surga itu, huhuhu.

Ketika mungkin banyak orang di luar sana, yang pastinya juga melakukan profesinya dengan balasan surga, namun saat mereka merasa tidak mampu lagi dan butuh istrahat, mereka masih punya pilihan untuk berhenti mengejar surga itu.

Sangat berbeda dengan profesi ibu.

Terlebih ketika di posisi saya, di mana mempunyai 2 anak itu adalah, semacam punya 2 ekor, tak bisa barang sebentar lepas dari saya.

Seperti ketika saya sakit sekarang ini, bahkan untuk berobat ke dokter saya mikir, karena kudu bawa keduanya, saya takut jika diopname, anak-anak gimana?

Di rumahpun demikian, mau istrahat benar-benar nggak bisa.
Bahkan di antara nyeri teramat sangat karena dugaan kena saraf terjepit, saya harus maksa bangun, lalu mengurus mereka, harus nyebokin anak meski sampai jejeritan saking pinggang bagian belakang saya sakit.

Ya Allah...

Saya yakin, bahwa Dia tak pernah memberikan cobaan di luar batas kemampuan manusia.
Tapi...
Saya sungguh merasa ini terlalu berat, hiks.

Karenanya, saya sungguh ketakutan, jika harus hamil lagi.
Saya ingin berhenti menjadi seseorang yang terlihat berjuang untuk anak, tapi bagaikan monster bagi anak.

Iya, saya harus berubah jadi monster.
Membentak, kadang memaki anak.
Karena ini sungguh berat.

Keimanan saya serasa luntur bersama rasa nyeri ini.
Sehingga kadang saya menganggap, anak-anak hadir untuk menghukum saya, hiks.

Lalu, saya ketriger untuk berandai-andai, meskipun saya benci berandai-andai.
Andai saya tahu kalau saya harus mengasuh anak-anak seorang diri, saya akan memilih tak akan pernah punya anak.

Biarlah doa dari anak saya dapatkan, dari anak-anak asuh.
Saya lebih memilih cari uang untuk membantu anak-anak kurang beruntung, ketimbang mengurus anak, yang sedetikpun tak membolehkan saya memenuhi hak jiwa dan raga saya.

Astagfirullah..

Yup..

Profesi ibu memang luar biasa.
Meski sesungguhnya banyak juga ibu-ibu yang beruntung.
Yaitu mereka yang berprofesi sebagai ibu, tapi masih punya pilihan untuk diri mereka sendiri.

Demikianlah...


Sidoarjo, 17 Februari 2021


Sumber: pengalaman dan opini pribadi
Gambar: Canva edit by Rey 

Post a Comment for "Profesi Ibu"