Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Flu Singapura pada Anak dan Ibu, Sembuh Dengan GADDD

Konten [Tampil]
hfmd

Parenting By Rey - Flu Singapura pada anak memang lagi musimnya ya sekarang, dan akhirnya Duo D kena juga tuh virus. Ketambahan mereka nularin ke maminya pula.

Tapi, Alhamdulillah sih anak-anak berhasil melewati masa-masa nggak nyaman kena virus tersebut, dan bisa sembuh, tanpa harus ke dokter.

Btw, tulisan ini, bukan ajakan untuk menghindari dokter ya, sebaiknya sih kalau sakit anak dibawa ke dokter, cuman saya aja yang malas ke dokter.
Antara mager berangkat dan antrinya, serta yang paling penting adalah, malas keluarin duit hahaha.

Alasan utamanya juga sih, karena saya masih bisa menghadapi sakit anak-anak sendiri, jadi anak-anak, saya pantau dengan intens, jika lebih dari 3 hari nggak ada perubahan, baru deh saya mikirin bawa ke dokter.

Hal ini dimulai sejak si Adik lahir, saya mulai lelah berurusan dengan dokter spesialis anak, dan mulai menerapkan GADDD (Gerakan Anti Dikit-Dikit Dokter) hehehe.


Apa itu Flu Singapura Pada Anak


Flu Singapura atau disebut juga HFMD (Hand, Foot, and Mouth Disease) merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dan menyebabkan timbulnya sariawan di mulut serta luka lepuh di kulit.

Penyakit ini, sangat mudah menular dan seringnya menyerang anak-anak pada usia 5–10 tahun. Namun bisa orang dewasapun bisa terkena flu Singapura.

hfmd


Flu Singapura Pada Anak, Penyebab dan Faktor Risiko

Flu Singapura yang biasa terjadi pada anak, tiada lain disebabkan oleh infeksi Coxsackievirus A16 dan Coxsackievirus A6, yang merupakan jenis virus dalam kelompok Enterovirus

Ditemukan juga dalam beberapa kasus pasien, jenis lain dari Enterovirus seperti Enterovirus 71 yang bisa menyebabkan flu Singapura juga.

Virus yang menyebabkan ruam di beberapa daerah tubuh ini, hidup di cairan hidung dan tenggorokan, air liur, tinja, dan juga dari cairan lepuh pada kulit. Karenanya, penyakit ini memang rentan banget menular.

Adapun penyebab tertularnya seseorang dengan virus flu Singapura adalah: 
  • Menggunakan alat makan maupun minum yang bersama dengan penderita.
  • Tak sengaja terkena atau menghirup percikan liur ketika penderita batuk ataupun bersin.
  • Menyentuh anggota tubuh seperti mata, hidung, atau mulut, dengan tangan yang tidak benar-benar bersih,  setelah menyentuh tinja penderita (misal nyebokin anak)
  • Menyentuh benda yang telah terkontaminasi virus flu Singapura dari penderita, kemudian menyentuh mata, hidung, maupun memasukkan jari ke dalam mulut, dengan tangan yang tidak benar-benar bersih.
  • Virus flu Singapura ini bisa menyerang atau menulari siapa saja, namun lebih banyak dialami anak-anak, terlebih jika anak dititipkan di fasilitas penitipan anak, yang mana sering bercampur dengan penderita.


Flu Singapura Pada Anak Mulai Dari Adik Disusul Kakak


Saya nggak tahu sih, ini anak-anak ketularan di mana, saya mencoba cocokan masa inkubasi virus Flu Singapura, dengan perjalanan kami.

Seminggu sebelumnya, si Kakak memang ikut acara super camp, dan menginap bersama teman-teman sekolahnya di Trawas, Mojokerto.

Namun, seminggu sebelumnya juga, saya dan si Adik juga keluar ikutan event liputan pembukaan sebuah gerai makanan baru di Surabaya.

Entah si Adik yang tertular virus itu di sana, atau si Kakak yang ketularan temannya ketika super camp, lalu menulari adiknya.

Lalu, Sabtu malam, 4 Juni 2022 lalu, saya ajak anak-anak makan es krim Mixue di Surabaya, pulangnya mampir di sebuah food court modern di jalan A. Yani, Surabaya.

Kami pulang agak malam, sampai di rumah pukul 10.30 malam, rekor banget deh mamak-mamak kencan ama 2 bocah, dan pulang malam banget, mana memotoran pula, mana jauh banget pula, hahaha.

Minggu 5 Juni 2022

Besok subuhnya, saya kaget pegang badan si Adik, kok demam.
Segera saya bangunin, kasih Tempra, dan dia tidur lagi.

Sayangnya, sampai siang pun, badannya tetap panas, bahkan panasnya nggak mau turun meski saya kasih Tempra per 4-5 jam.

Untungnya sih dia masih mau makan, biarpun sedikit.
Dan terpaksa saya gendong ke mana-mana, biar suhu tubuhnya sedikit turun mengalir ke suhu tubuh saya.

Saya juga segera ke apotik, beli Imboost, anak-anak memang paling cocok pakai vitamin Imboost, dan biasanya memang saya kasih Imboost, setiap kali habis bepergian dan terasa lelah, sayangnya malamnya itu kebetulan banget stok Imboost kami habis. 

Nantilah malam, baru suhunya sedikit turun, si Adik masih mau makan, meski cuman bubur dan telur rebus, Tempra masih saya kasih, dan Imboost juga tetap dikasih minum.

Alhamdulillah sih, si Adik nggak sampai muntah, meski katanya dia mual.
Tapi dia nahan nggak mau muntah.

Senin 6 Juni 2022

Hati saya bahagia banget, melihat suhu badan si Adik mulai turun, namun saya curiga, mengingat memang lagi musim flu Singapura, subuhnya saya iseng senter dalam mulut si Adik, dan ternyata di pangkal tenggorokannya mulai muncul bintik-bintik putih kayak sariawan.

Sedih deh.
Untungnya si Adik nggak terlalu merasakan, dia masih mau makan bubur dan telur ditambah wortel yang dihaluskan.

Paginya saya hentikan konsumsi Tempra, hanya meneruskan minum Imboost sirup.
Agak deg-degan menanti kabar sakit tenggorokannya, takut lebih banyak kan sariawan di mulutnya dan dia jadi nggak mau makan.

Alhamdulillah sih aman-aman aja, biarpun sesekali si Adik mengeluh lehernya nggak nyaman, tapi masih mau makan dan minum.
Itu kan ya kuncinya, biar lekas sembuh, harus tetap mau makan dan minum.

Hari itu lumayan lancar, saya senang karena si Adik mulai lincah lagi, biarpun badannya masih sedikit hangat.
Namun, malamnya, saya nggak bisa tidur nyenyak, karena si Adik meringik mulu, lantaran tangannya sakit katanya.

Selasa 7 Juni 2022

Pas saya liat, ternyata di kedua siku, serta lututnya, udah muncul bintik-bintik, di belakang tangan dan sedikit di kaki juga.
Fix dah ini flu Singapura.

Saya lalu googling, cari tulisan pengalaman orang mengobati anaknya ketika terkena flu Singapura, dan nemu artikel salah satu teman blogger, https://www.latifika.com/flu-singapura-pada-anak/

Dari artikelnya, saya menemukan salep buat mengobati bintik-bintik yang muncul di kulit anak, akibat virus flu Singapura, yaitu salep Hydrocortisone.
 
Fika juga menuliskan, kalau untuk sariawan, pakai Aloclair Plus Spray, tapi pas saya liat harganya, masha Allah mihil, hahaha.

Belum juga sempat ke apotik membeli salep tersebut, eh ustazd si Kakak mengirim WA, mengabari kalau si Kakak badannya hangat.

Duh, mulai deg-degan deh saya, bukan deg-degan gimana, tapi ini urus 2 anak sakit sendirian?
Tidaaakkkk, hiks!

Nggak lama kemudian si Kakak pulang, dan memang iya, bahkan ini mah bukan hangat, tapi badannya panas.

Segera saya kasih Sanmol, mau kasih parasetamol tablet, tapi saya lupa simpan di mana hitung-hitungan takarannya, wkwkwkwk.
Jadilah pakai sirup aja, biar kata udah 11 tahun, hahaha.

Dan ternyata si Kakak lebih rewel sodara, dia tidur sambil nangis mulu, hadeh!
Saya terpaksa tidur di lantai antara kasur si Adik dan kasur si Kakak, biar bisa menjaga keduanya.

Sebelumnya, saya kembali ke apotik, beli salep Hydrocortisone, yang ternyata ada 2 macam, ada yang 1% ada pula yang 2%.

Karena untuk si Adik, jadinya saya pilih yang 1% aja, dan harganya murah meriah donggg, cuman 6rebo perak, bayangkan kalau saya ke dokter, bayar dokternya lumayan, dan jangan harap dokter spesialis anak kasih resep salep Hydrocortisone yang murah meriah begini, pasti dikasih obat paten, wakakakak (udah 'khatam' mah saya mengenai dokter spesialis, saking waktu bayi si Kakak rajin banget ngajak unjung-unjung ke banyak dokter spesialis anak, hiks).

Lucunya karena panik, saya malah beli sirup Enervon C dong, padahal mah anak-anak paling cocok Imboost, hahaha.

Si Kakak lalu saya kasih Sanmol dan Sirup Enervon C, dan tentu saja kurang ngaruh, nanti malam saya kasih Imboost baru agak mendingan.

Sesampainya di rumah, segera saya olesin bintik-bintik atau ruam si Adik, yang udah mulai banyak di siku, lutut maupun tangan dan kaki.
Bibirnya juga mulai bengkak dan terkelupas, karena bingung saya kasih Tendercare aja, memang anak-anak paling cocok obatin luka tuh pakai tendercare sih.

Rabu 8 Juni 2022

Alhamdulillah saya bahagia, si Kakak mulai mendingan, dia bisa bangun buat sholat subuh, demamnya juga udah mulai turun, meski masih mual dan dia sesekali muntah, untungnya dia nggak manja, dia muntahnya di kamar mandi.

Si Adik juga mulai lebih baik lagi, bibirnya mulai kering, senang banget karena Tendercare masih jadi penyelamatnya.

gejala flu singapura

Ruam yang ada di lutut, kaki, siku dan tanganpun mulai mengering, keren banget deh salep Hydrocortison ini, kecil murmer, tapi khasiatnya luar biasa membantu mamak Rey.

Giliran si kakak yang mengeluh, kakinya mulai muncul bintik-bintik, cuman Alhamdulillah mulut dan tangannya nggak ada ruam yang muncul.

Dan si Kakak juga udah mau makan apapun, nasi juga nggak masalah, berbeda dengan si Adik yang masih terus saya kasih bubur, agar ruam di tenggorokannya nggak makin sakit.

Di tengah kebahagiaan saya, karena kedua anak telah membaik, tanpa harus ke dokter pula, eh tiba-tiba saya menyadari, kalau kepala saya juga mulai pusing.

Kamis 9 Juni 2022

Semalaman kepala saya sakit, tapi Subuhnya masih berusaha bangun untuk bikin sarapan, si Kakak kebetulan memang sedang ujian.

Hari Rabu, dia izin nggak ikut ujian, dan hari Kamis dia ikut ujian tapi secara online, daripada masuk dan menulari teman-temannya kan.

Karenanya, saya paksa bangun bikin sarapan, namun setelah bikin sarapan, saya nggak kuat lagi, dan tertidurlah saya menggigil kedinginan, tapi badan panas banget.

Udah merasa nih, kayaknya saya ketularan anak-anak deh.


Flu Singapura Pada Anak Dan Menularkan Ke Mami


Hari Kamis itu, adalah hari yang menyedihkan dong, saya bener-bener nggak sanggup bangun.
Badan menggigil, tapi dipegang panas banget, kepala kayak ditusuk ribuan jarum.

Saya benar-benar tepar, sampai si Adik bangun dan minta makan pun, saya nggak sanggup bangun.
Untungnya, ketika Subuh saya udah masak bubur, dan masih ada telur rebus.
Setelah kakak selesai ujian pukul 12 siang, baru deh dia bisa bantu urus adiknya.

Disuapin makan, dan dimandiin juga meski mandinya setelah sore, hahaha.

Saya nggak minum obat juga sih kala itu, atau bisa dikatakan, saya nggak sanggup bangun buat minum obat, bahkan sekadar meminta tolong si Kakak buat ambilin air dan obat.

Jadilah saya baru bisa sedikit terbangun di sore hari, dan praktis seharian saya nggak makan bahkan nggak minum sama sekali.

Mungkin juga, gejala yang saya rasakan karena dari penyakit virus Flu Singapura, ketambahan mikir anak-anak gimana makannya? gimana urusnya? karena mereka juga baru aja reda sakitnya.

Bahkan si Kakak masih kesakitan dengan ruam atau bintik-bintik di kaki, dan tenggorokan si Adik masih nggak nyaman.

Malamnya saya bangun dan makan bubur si Adik, tenggorokan udah mulai terasa nggak enak, kayak ada yang mengganjal.

Jumat 10 Juni 2022

Keesokan harinya, saya merasakan sesuatu yang mengganjal di telapak tangan, saya liat ada merah-merah yang berbentuk spot gitu di beberapa tempat.

hfmd
Awal muncul ruam, terlihat sepele, ternyata nyeri juga

Awalnya sih cuman terasa mengganjal gitu, tapi lama-lama kok mulai nyeri.
Bukan hanya di telapak tangan, di belakang tangan, siku.
Di ujung jari kaki juga terasa mengganjal dan agak perih.

Segera saya oleskan salep Hydrocortisone, dan ternyata memang salepnya manjur banget, dalam hitungan jam, bintik-bintik di kulit belakang tangan, siku, langsung kering.
Yang susah tuh di telapak tangan, karena kulitnya lebih tebal kan.

Malamnya, nggak sengaja saya meraba kepala, kayak berketombe banget, tebal-tebal pula.
Tapi pas digaruk, langsung luka dan perih dong, agak lama baru ngeh, ternyata itu ruam juga dong.

Setelah itu, mulai ngeh lagi dong saya, ternyata di belakang telinga juga ada, di dagu dan bawah hidung juga ada, awalnya saya pikir jerawat, tapi kok banyak dan menggerombol.

Bibirpun mulai nyeri, dan saya kemudian mengoleskan tendercare di bibir, serta salep Hydrocortisone di sekitar atas dan bawah bibir, alhamdulillah nggak lama bintik-bintiknya langsung kering.

Bukan hanya itu, ternyata ruam juga ada di pangkal paha, dan karena saya telat ngehnya, saya garuk dong, nyerinya ampun-ampun karena jadi luka.
Untungnya kemanjuran salep Hydrocortisone juga berlaku di semua kulit selain telapak tangan, jadi rasa nyeri, gatal tidak berlangsung lama.

Di hari Sabtu dan Minggu, keadaan saya sebenarnya udah lumayan membaik, cuman tinggal tenggorokan dan telapak tangan yang nyeri banget.
Dan saya juga bandel sih, nggak mau makan bubur, atau lebih tepatnya malas masaknya, hahaha.

Si Adik udah membaik, dan udah makan nasi, alhasil saya juga ikutan makan nasi, dan ketambahan bandel pengen gorengan, yang ada tenggorokan nggak sembuh-sembuh, wkwkwkwk.

Selama dari hari Kamis, Jumat, Sabtu dan Minggu, saya lebih banyak tiduran, dan terpaksa si Kakak yang mengerjakan kerjaan rumah yang bisa dikerjakan.

Kasian sih, karena sebenarnya si Kakak juga belum sembuh bener, tapi tangan saya beneran nyeri buat megang sesuatu, ketambahan saya parno, entar anak-anak ketularan lagi, karena ruam di tangan saya dipakai buat ngerjain ini itu, terutama buat masak.

Jadilah saya membatasi banget pegang ini itu, dan si Kakak yang nggak sampai timbul ruam di tangan, dialah yang ngerjain kayak masak nasi, mandiin dan nyuapin adiknya, nyapu dan beberes.
Kasian anaknya mami si mata bundar itu, udah berasa lebih dewasa dia, ketimbang mami.

Alhamdulillah, di hari Senin, tangan saya udah mulai mengering, meski masih sedikit nyeri, tapi nggak separah beberapa hari sebelumnya.

Dan saya Alhamdulillah bisa beraktifitas kayak biasanya di hari Selasa, bahkan udah maksain keluar buat survey TK buat si Adik.
Dan hari Rabu keluar buat daftar TK, serta urus rekening BRI syariah.
  
Alhamdulillah, kurang lebih 10 harian, dari mulai saya mengurus anak-anak yang sakit kena flu Singapura, sampai akhirnya saya juga ketularan kena virus tersebut.

Dan yay, Alhamdulillah, another level tantangan luar biasa, mengasuh 2 anak sakit ketika diri sendiri juga sedang sakit.


Flu Singapura Pada Anak, Gejala dan Penanganannya


Dari pengalaman anak-anak terkena flu Singapura, dan menularkan kepada maminya tersebut, saya jadi ingin berbagi kesimpulan tentang gejala sakit Flu Singapura pada anak dan ibu, serta penangangan dengan GADDD alias nggak perlu ke dokter.


Gejala Flu Singapura Pada Anak


Adapun gejala Flu Singapura pada anak, yang terjadi pada si Adik dan si Kakak, di hari pertama gejala Flu Singapura bereaksi adalah:
  • Demam tinggi, nyaris 40 derajat, dan sulit turun meski minum pereda panas.
  • Sakit kepala.
  • Mual.
  • Si kakak juga batuk, tapi si Adik nggak sampai batuk.
Di hari kedua:
  • Demam berangsur turun.
  • Si kakak masih batuk, dan sedikit mual.
  • Si Adik mulai muncul bercak atau bintik ruam di tenggorokan
  • Si Adik juga mulai muncul ruam kecil di siku dan lutut
  • Si kakak belum muncul gejala ruam sama sekali
Di hari ketiga:
  • Bintik ruam si Adik makin nyeri dan mengganggu.
  • Tenggorokan tetap ada sariawan tapi tetap masih bisa makan.
  • Batuk si Kakak mulai mereda
  • Si kakak mulai muncul ruam bintik-bintik di telapak kaki. 


Penanganan Flu Singapura Pada Anak


Dari pengalaman saya ketika anak-anak terkena virus flu Singapura, yang perlu dilakukan adalah:
  • Beri penurun panas (sebaiknya sih anak di atas 10 tahun udah minum tablet ya, tapi bagi yang ngerti takaran resepnya ya, kalau si kakak kemaren minum Sanmol sirup, dan si Adik Tempra) setiap 5 jam, jika panas nggak juga turun.
  • Tambahkan kompres jika anak mau, (si Kakak nggak suka dikompres sejak bayi dia nolak), atau peluk anak biar suhunya sedikit terurai ke tubuh ibunya (ini mungkin tidak terbukti secara medis, tapi sejak anak-anak kecil saya pakai cara ini buat menurunkan demamnya, karena si Kakak dulu paling anti dikompres, hehehe).
  • Tetap beri vitamin atau booster imun, sesuai resep yang tertera, usahakan cari booster yang anak-anak cocok, bukan liat dari mahal murahnya vitamin / booster. Anak-anak saya cocoknya Imboost Kids sirup, saya kasih 3 kali sehari.
  • Wajib banget paksain makan dan minum, sebisa mungkin kasih makanan yang lunak kayak bubur, mengantisipasi tenggorokannya nggak perih jika muncul ruam berbentuk bintik-bintik atau sariawan. Lucky me, anak-anak masih patuh dengan permintaan saya yang maksa mereka makan, meskipun dengan seribu rayuan, janjiin main ke mana kek, atau beli mainan kek, pokoknya anak harus makan, biar nggak makin parah sakitnya (pengalaman si kakak dulu sampai di rawat inap, gegara kena sariawan di mulut kayak gini, tapi dia nggak mau makan, dan saya kurang tanggap sejak awal).
  • Siapkan salep Hydrocortisone untuk ruam bintik-bintik di kulit bagian luar, biasanya muncul di hari kedua, pakai yang 1% buat anak, biar aman. Oleskan tipis setiap 5 jam sekali pada ruam yang ada, jangan sampai kena bibir apalagi mulut ya, dan usahakan agar anak tidak menggaruk ruamnya, biar nggak luka.
  • Untuk sariawannya, dipantau aja dulu, beberapa orang memang diresepkan Nystatin drop, namun setahu saya Nystatin itu buat bakteri, biasanya buat virus pakai Aloclair plus spray, berhubung harganya lumayan bikin meringis, sebaiknya pantau aja, beli dan gunakan, hanya kalau sariawan anak memang benar-benar mengganggu, dan mengakibatkan anak nggak mau makan atau minum. Alhamdulillah sih anak-anak nggak sampai pakai apapun di mulut, si kakak memang nggak ada muncul sariawan, si Adik muncul tapi Alhamdulillah dia bisa tahan dan nggak mengakibatkan dia susah makan dan minum.  

Intinya sih, kalau mengandalkan GADDD, kita sebagai parents wajib banget terus memantau setiap saat perkembangan kondisi anak.

Terutama sariawannya ya, karena itu yang akan bikin penyakitnya makin parah, berhubungan dengan anak jadi nggak mau makan dan minum., hasilnya bisa dehidrasi, dan bisa-bisa harus diinfus kek si kakak dulu, hiks.

Selama anak masih mau makan dan minum, dan demamnya berangsur turun, sariawan nggak terlalu mengganggu, ruamnya cepat kering dikasih salep, insha Allah dengan GADDD aja nggak masalah.

Namun, jika demam anak tak kunjung turun sampai di hari ke-3, terlebih jika anak nggak mau makan dan minum, udah deh segera ke dokter anak, atau dokter umum, untuk anak di atas 7 tahun.


Gejala dan Penanganan Flu Singapura Pada Orang Dewasa


Untuk gejala flu Singapura pada orang dewasa, seperti yang saya rasakan adalah:
  • Sakit kepala
  • Menggigil
  • Badan panas
  • Kadang disertai batuk, namun saya enggak sampai batuk
  • Setelah 12 -24 jam demam mulai turun, dan muncullah ruam di tenggorokan serta di kulit bagian luar, paling sering di telapak tangan, hingga ke siku dan telapak kaki hingga ke siku, namun saya juga ketambahan, di kepala, di belakang dan daun kuping, di atas dan bawah mulut (kayak jerawat, tapi banyak dan kecil-kecil), serta di pangkal paha hingga selangkangan. 
Untuk penanganannya, sama aja kayak penanganan pada anak, palingan minum pereda panas atau demam, pakai tablet parasetamol, atau Bodrex juga bisa, biar sekalian meringankan sakit kepala.
Tapi saya kemaren nggak minum apa-apa sih, panasnya turun sendiri setelah 12 jam.

Untuk tenggorokan, sebenarnya saya nggak kasih apa-apa, dasar emang si Rey ini sekarang paling anti obat kimia, hehehe.
Tapi, ternyata saya dikirimin Betadine kumur sama Mba Fanny Dcatqueen, jadilah saya pakai itu saja, yang memang lumayan bikin sariawan cepat mereda, karena nggak infeksi kali ya.

Untuk ruam di kulit, saya pakai salep Hydrocortisone 1%, dan sumpah dong salep itu beneran ampuh banget, biar kata cuman 1%.

Saya pakai di semua kulit terbuka, selain kepala dan bibir.
Untuk kepala nggak saya kasih apapun, jadinya mengering di hari ke-5, udah kek ketombean gede-gede dong, hahaha.
Untuk bibir saya pakai Tender Care, dan si Adik juga pakai ini, dan ampuh, Alhamdulillah.


Kesimpulan


Sebenarnya ya, semua penyakit disebabkan virus, insha Allah bisa sembuh sendiri, namun kita juga wajib banget memantau perkembangannya, dan memberi sedikit obat, agar gejalanya nggak berkembang menjadi penyakit lain.

Misal kayak gejala sariawan yang muncul, kalau telat ditangani, bakalan terinfeksi ke seluruh mulut, dan bikin anak nggak mau makan dan minum sama sekali, jika itu terjadi, nggak ada jalan lain selain infus, huhuhu.

Atau gejala ruam di kulit tangan dan kaki, jika nggak langsung ditangani, bakalan digaruk sama anak, dan bisa jadi infeksi serta ruamnya melebar ke bagian tubuh lainnya.

Untuk demamnya juga, khususnya yang punya riwayat kejang, wajib banget untuk dipantau dengan ketat, karena efek demamnya bisa berakibat hal lain, jika nggak ditangani.

Dan yang paling penting adalah, asupan makanan dan minuman jangan pernah berhenti, ditambah vitamin atau booster imun tubuhnya.

Karena hal itu akan membantu mempercepat penyembuhan penyakit, dan meminimalisir gejala yang muncul.

Demikianlah, cerita kami tentang flu singapura pada anak dan ibu, yang Alhamdulillah bisa sembuh hanya dengan GADDD.

Sidoarjo, 23 Juni 2022


Sumber: 
  • pengalaman pribadi
  • https://www.alodokter.com/flu-singapura diakses 23 Juni 2022
Gambar: dokumen pribadi

13 comments for "Flu Singapura pada Anak dan Ibu, Sembuh Dengan GADDD "

  1. Kirain GADDD itu beneran ada, taunya hahaha... Saya baru tau flu singapura itu ternyata bisa bikin bercak2 merah, ya. Syukurlah semuanya sudah tertangani dengan pengobatan sendiri. Semoga sehat2 selalu ya mba sekeluarga.

    ReplyDelete
  2. anakku pernah kena juga mba, tapi untungnya cuma sariawan aja sih, tapi tetep bikin sedih karena jadi ga mau makan dan minum selama berhari-hari huhuhuu semoga sehat-sehat selalu ya mba

    ReplyDelete
  3. Baru dengar istilah flu Singapura yang bikin kondisi penderitanya kompleks banget. Untung ya cepat segera ditangani, ngeri sampe bercak begitu

    ReplyDelete
  4. Waduh, akhirnya kena sekeluarga ya, alhamdulillah udah membaik semuaa. Makasih sharingnya dan tipsnya. Baru minggu lalu juga ponakan kecil aku kena, sekarang pada ngeletek ruam2 di kulitnya.
    Semoga kita semua diberikan kesehatan yaa.

    ReplyDelete
  5. Hai mbak rey. Aku punya pengalaman sama juga anak ku kena flu siangpura awal januari lalu. Dan udah bener ga usah ke dokter hahaha karena aku ke dokter anak dan dibilang kalau belum ada obatnya. Akhirnya pulang aku cukup rawat sendiri dan jaga nutrisi eh dia hilang sendiri tanpa bekas

    ReplyDelete
  6. Bocilku pernah kena flu singapur juga. Gara2 abis bermain di tempat main mandi bola, gitu. Alhamdulillah mbak Rey dan bocil2 udah pada bebas dari flu singapur. Sehat selalu mbak Rey dan keluarga aamiin

    ReplyDelete
  7. Waaah bisa ditiru nih mbak, cara penanganan penyakit di rumah. Saya baru tahu tentang flu Singapura dan gejalanya. Pasti anak2 sedikit rewel ya, tapi bersyukurlah mbak Rey berpengalaman dalam menangani keluhan anak2, jadi bisa tertangani dengan baik. Sama seperti saya, anak saya anti minum obat dari dokter kalau pas sakit, apalagi obatnya dalam bentuk puyer. Jadi sebisa mungkin saya googling dan mencari alternatif penyembuhan sendiri.

    ReplyDelete
  8. Flu Singapura ini memang salah satu penyakit yang sering diderita anak selain batpil ya.
    Memang menyerang imun anak yang masih lemah.
    Kalau satu anak kena biasanya juga cepat menulari anak yang lain.
    Obatnya kyknya dah bener iatirahat dan makan yang enak sambil diawasin kalau gejalanya makin berat dan anaknya rewel baru ke dokter ya

    ReplyDelete
  9. Flu Singapura ini beda lagi dengan cacar kan ya Kak?
    Duuh klo ana sakit berjamaah begini pasti emaknya pusing dah, gak heran deh klo si Mami juga ikutan sakit, huhuh
    tapi ini sudah pada sembuh kan? Udah bisa jalan-jalan doong pasti weekend :D

    ReplyDelete
  10. Ya Allah mba.... pastinya repot banget ya sakit semua gitu. Alhamdulillah sudah terlewati. Saya juga pernah dengar teman cerita yang anaknya kena flu singapura

    ReplyDelete
  11. Ujian sakit ini memang berat ya..
    Pokoknya kalau demam terus ada bercak, langsung isolasi. Inget banget zaman dulu namanya campak.
    Bedanya apa yaa, kak Rey?
    Orang Sunda bilangnya tampek.

    Apakah sama dengan Flu Singapura?

    ReplyDelete
  12. Baru tahu ada penyakit flu singapura. Bukankah ini yang desebut cacar air, ananda Rey?

    ReplyDelete
  13. Tahun 2010an dulu kalau ga salah anak-anakku juga mengalami hal yang sama loh Rey. Salut aku padamu yang tabah banget merawat anak-anak di rumah, bahkan sampai ketularan juga ya. Aku dulu udah sedih banget lihat merah-merah gitu, terus berkembang jadi kayak ada cairan di dalamnya. Jaman dulu dokternya belum tau itu sakit apa. Dikasih obat dan juga formula bedak yang kayak ada aroma mintnya. Alhamdulillah sembuh.

    ReplyDelete