Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Things I Fall in Love with Husband

Things I Fall in Love with Husband

Parenting By Rey - Kata orang bijak, kalau pengen selalu jatuh cinta sama pasangan atau suami, ya ingat selalu dong hal-hal baik tentang dia.

Jadi, kayak orang susah move on gitu loh.
Kan, kalau orang patah hati, sedih banget nggak tuh, yang kebayang masa-masa indah mulu.

Lucu kan ya.
Saat bersama, yang terlihat hanya kekurangan suami.
Eh giliran udah pisah, kenapa pula yang kebayang masa indah dan kebaikannya?
Sungguh mem-bagong-kan jadi manusia itu ya? hahaha.

Tapi, semem-bagong-kan apapun itu, terus berjuang untuk kebaikan adalah sebuah hal yang wajib.
Jadi, daripada memelihara kondisi mem-bagong-kan itu, mendingan kan melawan dan memutarkan fakta tersebut.

Jadi, saat bersama, ya ingat aja mulu kebaikannya.
Biar kebaikannya yang menghapus kekurangannya, iya nggak?
Iya in aja deh! hahaha.

Kan lagi trend tuh di TikTok (astaga, receh betol saya ya, ngeTikTok mulu, ngabisin kuota, hahaha), di mana, ada konten tentang..
"Saya ya sering jadi orang baik.
Baik..
Baik...
Baik..
Baik..
Giliran, sekali khilaf jadi buruk, eh yang diingat buruknya itu aja mulu!"
Nggak persis kayak gitu sih, tapi kurang lebih kayak gitu, ibarat kata pepatah,
"Karena nila setitik, rusak susu sebelanga!"
Eh bentar, kenapa sih susu digambarkan kebaikan?
Kan nggak semua susu itu baik untuk pencernaan, dan nggak semua nila itu buruk, buktinya ikan Nila itu enak *lah makin nggak nyambung ya? hahaha.

Nah, mungkin pemikiran-pemikiran tersebut, yang menguatkan saya, untuk berjuang memperbaiki hubungan sama pak suami, yang sempat hancur lebur dilanda kekecewaan *tsah, hahaha.

Berat banget memang, tapi i know i was born to be a fighter *astaga Rey, sudahi kegajeanmu itu, hahaha.

Iya, intinya demikian, agar lebih mudah memperbaiki hubungan dengan suami, memperbaiki semuanya, di mana kenyataannya itu berat banget, banyak hal yang tidak sesuai dengan hati nurani, tapi dituntut untuk bisa jadi seseorang yang pengertian, tentunya dengan mengesampingkan dulu ego di hati, demi terbukanya komunikasi yang lancar dan sehat, pastinya.

Dan untuk meringankan hal itu, amat sangat penting untuk menghadirkan cinta di hati, karena cinta itu adalah koentji, menurut saya.
Biar kata, banyak yang bilang kalau kita nggak kenyang makan cinta dong, ih belom tahu kali ya, ada saat sebuah rumah tangga itu diuji dengan ekonomi yang kurang, dan apa sih yang memudahkan untuk bertahan di masa yang bisa dibilang kita nggak sekenyang biasanya itu?

Yup cinta!
Cinta yang menguatkan dan bikin kenyang, hahaha.
Kata siapa cobak, cinta nggak bikin kenyang.

So, mari kita hadirkan cinta selalu di dalam hubungan rumah tangga, dengan mengingat hal-hal yang bikin kita jatuh cinta kepada pasangan, atau kebaikan suami tepatnya.

Ebentar, apa ya? hahaha.
Sumpah, saya berpikir lama banget untuk ini, karena menurut saya, banyak hal yang dia lakukan, tapi sesungguhnya tak berarti banyak untuk saya.

Lalu saya tersadar, inilah salah satu masalah saya, yang masih sulit belajar menghargai hal-hal yang mungkin setengah mati diusahakan oleh pak suami, seperti:
 

Dia Selalu Sigap Mengurus Anak-Anak Ketika di Rumah


Di saat banyak istri di luar sana yang mengeluhkan perasaan capek dan lelahnya mengurus anak, setiap saat tak pernah ada jeda.

Bahkan ada suamipun di rumah, masih saja istri merasa lelah, bahkan double lelahnya, karena sang suami malah asyik main hape, dan ogah mengurus anak, bahkan sekadar menemani anak main. 

Dan saya?
Ada suami di rumah itu, means saya bisa istrahat sejenak dari yang namanya urus anak.
Si adik ada yang mandiin, cebokin saat pup, ada yang suapin dengan benar, which is menyuapi si adik adalah kerjaan yang paling membosankan buat saya, hahaha.

Pokoknya, saya beneran bebas dari kerjaan mengurus anak.
Bukankah saya beruntung punya suami kayak gitu?

That's why i love him, meskipun mungkin mencintainya meskipun, *eaaaaa, hahaha.


Dia Selalu Sigap di Dapur, entah Masak atau Sekadar Cuci Piring


Ini kayaknya udah sering saya bahas, betapa hal kayak gini kadang bikin bete, tapi menurut saya, semua itu dilakukan karena dia mencintai saya, dan ingin membahagiakan saya dengan meringankan beban saya.

Jadi, paksu tersebut selalu nggak bisa diam kalau udah di rumah, habis mandi langsung ke dapur, sekadar cuci piring, atau buangin sampah di dapur.

Di siang hari, dia pasti memasak untuk kami semua, tentu saja kalau saya mager untuk masuk dapur, dan anak-anak udah nyaris kelaparan, hahaha.

Dan kalau lagi punya banyak duit, dia hanya memasak untuk dirinya sendiri, sementara untuk saya dan anak-anak dibeliin lauk di luar, karena dia sadar seringnya masakannya nggak sesuai dengan selera kami, hahaha.

Betapa beruntungnya saya, di saat lelaki lainnya minta dilayani saat berada di rumah, lah saya dong malah dilayani.
*Tapi nggak enaknya bikin saya jadi makin malas dan manja, hahaha 
Astaga, nikmati aja napa Rey, bukankah dia berjuang keras untuk itu, demi untuk menunjukan rasa pedulinya atas beban istrinya *uhuk, hahaha.

That's why i love him, meskipun seharusnya mencintainya pakai meskipun, *eaaaaa eaaaaaa, hahaha.


Dia Sigap Mengurus Cucian


Bisa dibilang, kelebihan terbanyak paksu itu adalah, sigap mengambil alih kerjaan perempuan sih ya.
Apapun yang kurang dan terlihat di matanya, seketika langsung dikerjain.

Termasuk kalau saya lagi nyuci, trus abis nyuci malah dibiarin gitu aja, entah saya sibuk mengetik di laptop atau pelototin HP, seketika cucian tersebut diterusin paksu.

Jadi, bukan hal aneh, jika saya nyuci, cuman kucek doang, tiba-tiba cuciannya udah di jemuran.
Atau setelah keringin di mesin cuci, lalu males jemurnya, eh tiba-tiba tuh baju udah di jemuran.
Atau, kalau udah pagi, semua jemuran di dalam, minggat seluruhnya ke luar, di bawah paksu untuk dijemur di luar, hahaha.   

Jadi, jangan heran ya kalau si Rey ini, nggak sembuh-sembuh manjanya, ya karena dimanjain gitu, hahaha.

That's why i love him, tapi saya tetap mencintainya pakai meskipun loh, *eaaaaa eaaaaaa eaaaaaa, hahaha.


Dia Selalu Beliin Saya Cokelat dan Snack Kesukaan Saya


Saya memang bukan tipe istri yang negerepotin suami untuk korupsi, demi punya emas berlian serta tas mahal buat dipamerin di arisan.

Oh tidak.
Saya bahkan tidak pernah memakai cincin kawin, dan badan saya bebas dari emas, dan saya tak pernah merasa itu masalah besar.

Tapi...
Saya tuh paling luluh ama makanan, hahaha.

Saya sering tulis kalau nggak salah ya, betapa sejak dulu masih pacaran, salah satu alasan mengapa kami nggak pernah bisa putus beneran, ya gara-gara saya kalau udah lapar, biar kata lagi perang besar, bahkan udah mau putus beneran, pas diajak beli makan, atau dibeliin cokelat biar kata yang murah, udah deh, luluh, hahahaha.

Sungguh harga dirimu, senilai cokelat, Rey! hahahaha.

Jadi, sejak mengenal paksu, dari pacaran hingga menikah dan sampai saat ini, ketika paksu punya banyak duit, itu berarti BB saya bakalan menggelembung, saking kulkas penuh cokelat, laci-laci makanan penuh jajanan kripik-kripik dan kacang kesukaan saya.

Di meja penuh dengan buah, di mana mau beli buah sebanyak gimanapun, dalam sekejap habis, hahaha.
Ya ampun, sungguh hidupku hanya sereceh makanan ya, hahaha.

Tapi, lepas dari itu, bukankah saya beruntung, karena paksu tak pernah melupakan hal-hal yang saya sukai sejak dulu.

That's why i love him, dan saya tetap mencintainya pakai meskipun dong ya, *eaaaaa eaaaaaa eaaaaaa eaaaa, hahaha.


Dia Selalu Berusaha Bisa Menafkahi Anak Istri, Bagaimanapun Caranya


Tau nggak sih?
Sejak awal pertengkaran kami, ketika 5 tahun pertama pernikahan kami, salah satu pemicu dari dia adalah, karena paksu merasa gagal membahagiakan kami, dalam hal ekonomi.

Dia berusaha mati-matian untuk itu, meski saya tak butuh itu, saya ingin kami berjuang bersama, tapi paksu tetap ingin dia sebagai suami yang bisa membahagiakan keluarganya dalam hal ekonomi.

Bahkan sampai dia benar-benar terpuruk dalam masalah keuangan, dia tak pernah mau berbagi dengan saya, seperti apapun saya memaksa.

Seiring waktu, saya berjuang untuk bisa menerima hal itu, meskipun sangat berlawanan dengan pikiran saya, tapi saya sadar, tidak ada jalan keluar, selain melihat usaha tersebut sebagai hal yang positif.
Dan berusaha meng-support-nya dengan memberikan kepercayaan penuh untuknya.

Sedikit demi sedikit saya bisa membuang ego, dan mulai melihat hal ini sebagai sesuatu keberuntungan buat saya.
Di mana, ketika zaman sekarang banyak lelaki berstatus suami yang keenakan aja menyerahkan tanggung jawab ekonomi ke istri, saya masih punya suami yang ngotot pengen menafkahi kami apapun caranya. 

And that's why i love him. 


Dia Tak Bisa Benar-Benar Menyerah dengan Saya


Ya, salah satu alasan saya bertahan dengan paksu adalah, karena paksu tidak pernah benar-benar menyerah dengan saya.

jatuh cinta pada suami

Meski berulang kali dia nyuruh saya gugat cerai, tapi dia nggak pernah sama sekali berani mentalak saya. Bahkan dia memilih segera pergi dari rumah, daripada mengucap kata-kata yang bakal disesalinya.

Di saat zaman sekarang banyak lelaki berstatus suami dengan lambe lamis *halah, hahaha.
Saya bahkan beruntung punya suami yang memilih kabur ketimbang salah bicara.

Bukankah saya beruntung?
Dan hal-hal demikian yang bikin saya kembali jatuh cinta kepadanya.

Ya ampunnn, sudah cukup mualkah kalian yang baca?
Soalnya saya juga udah agak eneg, tapi nggak apa-apa, lama-lama bakalan terbiasa, hahaha.

Udah ah.
Daripada makin mual beneran, hahaha.

Terlepas dari semua hal yang terbaca sedikit menggelikan buat saya, (dan mungkin juga bagi Parents yang baca), namun semua ini menceritakan sebuah perjuangan dan pencapaian saya.

Perjuangan untuk menjadi pasangan yang lebih baik, dengan melakukan hal yang bisa dilakukan, yaitu mengubah diri sendiri, mengubah pola pikir.

Karena sebenarnya, masalah saya dan suami itu, Alhamdulillah bukanlah masalah karakter yang sulit untuk dibaurkan ke dalam karakter manusiawi.
Semua hanyalah pola pikir kami yang absolutelly berbeda, tapi paksu dulunya tak pernah mau memperlihatkan, bahwa hal itu adalah masalah buatnya.

Semua hal yang saya ceritakan di atas, sesungguhnya sebuah pembuktiannya sebagai seorang pasangan yang mencintai pasangannya.

Sayangnya, dulu saya justru menganggap hal-hal demikian adalah hal yang tidak saya butuhkan.
Betapa tidak, ketika paksu udah mati-matian melakukan kebaikan di rumah, meringankan beban saya.
Saya malah kesal karena itu.

Saya menganggap hal itu nggak penting, dan daripada melakukan hal itu, mending lakukan hal lain yang saya inginkan.

Iya, saya mengabaikan semua usahanya, bahkan tidak menghargai semua kebaikannya, malah menuntut hal-hal lain, yang mungkin belum bisa paksu berikan.

Kok baru sadar Rey?
Ya mungkin karena baru mulai belajar mindfulness.
Mulai belajar mencintai diri sendiri.
Belajar merangkul sosok masa kecil saya yang dulunya selalu dituntut menjadi sempurna, sehingga tanpa sadar, saya melakukan hal itu kepada paksu.

Iya, mencintai diri sendiri, bukan berarti kita harus berpisah dari pasangan yang kita nilai sebagai toksik. Kadang, bahkan seringnya yang toksik itu bukan pasangan kita, tapi pikiran kita yang memang dipenuhi ketidak puasan sejak kecil.

Itulah yang dinamakan inner child yang terluka.
Dan sejujurnya, kalau saya perhatikan.
Sosok itulah yang jadi pemicu keretakan begitu banyak rumah tangga di dunia ini.

Gimana bisa menyadari hal itu?
Butuh waktu sih ya.
Yang jelas segera cari bantuan profesional agar bisa merangkul sosok masa kecil kita itu.
Dan jangan menyerah, karena butuh waktu yang nggak sedikit, untuk akhirnya bisa melihat, masalah rumah tangga sebenarnya itu apa?

Demikianlah, semoga bisa memberikan insight dan semangat baru bagi para pejuang keutuhan rumah tangga.
Sampai ketemu di cerita lainnya, khususnya cerita bagaimana saya secara random, sedikit demi sedikit berusaha mempertahankan rumah tangga dan berjuang memperbaiki yang rusak.
Salah satunya, dengan memikirkan dan mindfulness terhadap the things i fall in love with husband

Sidoarjo, 02 Juli 2021


Sumber: pengalaman dan opini pribadi
Gambar: Canva edit by Rey

2 comments for "Things I Fall in Love with Husband"

  1. He he .... Pantasan banyak kaum pria berpendapat, wanita itu aneh. Selamat sore, ananda Rey.

    ReplyDelete