Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Suami Harus Tahu, Tantangan Istri Bekerja Lebih Banyak Dari Suami Bekerja

Suami istri bekerja

Parenting By Rey - Suami harusnya tahu bahwa wanita yang katanya orang itu kuat, sebenarnya dikuatkan oleh keadaan alias terpaksa kuat.

Jadi, jika istri terpaksa ikut memikul tanggung jawab suami, maka suami seharusnya mengerti bahwa akan ada efek buruk yang ditimbulkan karenanya.

Disclaimer: dibutuhkan pemahaman lebih dalam membaca dan memahami tulisan saya kali ini, karena mungkin bahkan dari judulnya akan terasa seolah merendahkan wanita bahkan juga lelaki.
Apa yang saya tulis ini berdasarkan dengan apa yang saya alami dan rasakan, yang tentu saja mungkin itu akan berbeda dengan apa yang dialami atau dirasakan oleh orang lain.
Dan saya tidak bertanggung jawab jika pembaca merasa tersinggung hanya karena kurang memahami isi tulisan ini.

Saya tidak sengaja melihat tayangan di YouTube tentang masalah rumah tangga Melaney dan Tyson.

Dan sejujurnya saya tidak melihat sampai seluruh tayangan tersebut, karena selain i don't have much time for that.
Pun juga saya membatasi diri dari kegiatan atau hal-hal yang bikin saya tidak fokus terhadap pekerjaan yang penting.

namun meskipun saya tidak menyimak seluruh dari video tersebut, Tapi saya menangkap satu hal penting dari permasalahan yang sedang dihadapi oleh pernikahan Melaney dan Tyson. 

Salah satunya adalah tentang bagaimana Melaney menyeimbangkan waktu bekerja atau karir dengan waktu untuk suami tercinta atau keluarga di rumah.

As we know kan ye, Melaney bekerja begitu seringnya di luar, tampil di berbagai stasiun TV, demi mengejar karirnya yang sudah dia bangun dengan susah payah sejak masih kecil dahulu.

Karena semua usaha melayani tersebut, sehingga dia bisa membantu suaminya untuk menciptakan keluarga yang yang berkecukupan bahkan lebih.

Namun satu hal yang sepertinya lupa dipahami oleh keduanya adalah, bahwa ada hal yang harus dikorbankan dalam pencapaian tersebut salah satunya adalah waktu untuk kebersamaan yang menjadi lebih sedikit.

Karena bekerja seharian di luar atau bahkan, jangankan di luar, bekerja di rumah seharian pun, membuat kita jadi lelah. Sehingga setelah pekerjaan selesai, hal utama yang ada di pikiran kita adalah beristirahat.


Tentang Sepak Terjang Istri di Masa Pandemi


Sudah bukan rahasia lagi ya, di masa pandemi ini ada banyak sekali rumah tangga yang memiliki permasalahan.

Sebenarnya kalau dilihat-lihat, permasalahannya mungkin berada pada kondisi ekonomi yang terguncang, bahkan orang-orang yang terlihat lebih makmur hidupnya pun juga merasakan hal demikian.

Namun menurut saya, hal utama yang terjadi di masa pandemi ini yang menjadi biang kerok dari permasalahan rumah tangga adalah, karena ketidakseimbangan di dalam rumah tangga yang banyak terjadi selama setahun ini.

ketidakseimbangan yang saya maksud disini adalah, tentang bagaimana istri yang harus ikut serta mengambil tanggung jawab suami sebagai pencari nafkah.

Mungkin ini sih tidak melulu sama dengan masalah yang dialami oleh Melaney dan Tyson.
Karena dalam masalah mereka berputar dalam Bagaimana Melaney mempertahankan impian yang dibangun sejak kecil.

Namun tidak dipungkiri, berkat kerja keras melayani, keluarga mereka tidak merasakan gonjang-ganjing ekonomi yang begitu terasa seperti yang dirasakan keluarga lain.

Di sinilah masalahnya, bagaimana peran serta istri dalam mencari nafkah, yang banyak membuat suami jadi merasa terabaikan.

Saya rasa, disinilah pula masalah saya.
Sudah hampir 3 tahun lamanya, setidaknya Sejak saya mengenal dunia blogger, kehidupan saya jadi berubah.

Saya lebih banyak memakai waktu saya untuk bekerja. Mungkin bagi sebagian besar orang berkata saya terlalu ambisi.

Namun orang juga tidak tahu, bahwa karena ambisi yang dinilai orang itu terlalu berlebihan sejak 3 tahun lalu, yang membuat saya ya bisa bertahan di masa pandemi ini.

Saya kekurangan waktu untuk keluarga bahkan untuk anak-anak sejak 3 tahun lalu.
Saya terlalu sibuk membangun blog maupun media sosial saya sejak 3 tahun lalu.

Namun siapa sangka, media sosial dan blog sayalah yang membantu saya ya tetap bisa hidup dengan normal dan mengurangi hutang selama masa pandemi ini.

See, biar bagaimanapun selalu ada kekurangan maupun kelebihan dari apa yang kita lakukan.
Mungkin sebagian orang berkata silakan bekerja namun yang penting adalah menyeimbangkan waktu antara karir maupun keluarga.

Let me tell you about something.

Itu tidak mudah zeyeng, karena sejatinya tidak ada orang yang benar-benar bisa multitasking dengan benar dan dengan hasil yang baik.

Banyak orang yang berkata, bahwa bisa kok bekerja dari rumah sambil cari uang, sambil ngurus anak, sambil ngurus rumah.

Tapi mereka tidak tahu dengan pasti, apa yang mereka lakukan itu kadang mengorbankan orang lain.

Tidak perlu jauh-jauh berpikir, banyak banget dalam dunia blogger misalnya, banyak ibu rumah tangga yang akhirnya harus menjadi pahlawan deadliner bahkan ada yang sampai menyalahi deadline hanya karena masih sibuk mengurus anak-anak maupun keluarganya.

Orang-orang yang menyalahi deadline itu mungkin hanya akan berkata, 
"maaf anak-anak saya sedang begini atau saya lagi sibuk urus ini atau saya lagi sibuk urus dapur dan sebagainya".

Tapi pernahkah kita pikirkan bahwa akibat dari kita yang menyalahi deadline itu membuat orang lain Jadi menanggung akibatnya.

Iya, begitulah pada akhirnya seorang istri yang bekerja harus memilih, akan mengorbankan keluarganya dan memilih mengutamakan pekerjaannya agar namanya atau profesionalisme nya terjaga dengan risiko keluarganya semakin jauh darinya.

Atau memilih keluarganya dan mengorbankan ke profesionalisme nya kemudian dia tidak akan pernah bisa berkembang.

Begitulah ah, dan hal itu tidak hanya terjadi kepada seorang istri saja. banyak suami yang juga harus memilih hal tersebut dan sebagian besar suami memilih pekerjaan ketimbang keluarganya.

Dan saya begitu miris ketika melihat banyaknya asumsi masyarakat, dan lebih parahnya kebanyakan yang berasumsi itu adalah perempuan, di mana mereka menuntut bahwa wanita yang bekerja harus bisa menyeimbangkan waktu antara pekerjaan dan rumah meskipun wanita tersebut bekerja untuk kebutuhan pokok.

Sementara, sudah menjadi rahasia umum seorang istri yang sholehah bagi banyak orang adalah istri yang menerima suaminya yang lebih banyak menghabiskan waktu untuk mencari uang di luar.

Jangan gitu ya sis!
bayangin saja, seorang suami yang bekerja mati-matian diluar, mereka bekerja fokus kepada pekerjaannya saja dan meminta istrinya untuk tidak terlalu menuntut waktu mereka secara berlebihan di rumah.

Sementara itu itu, wanita dalam hal ini seperti saya, yang bekerja dari rumah yang mana juga harus mengurus anak dan rumah seorang diri tanpa bantuan siapapun namun masih juga harus dituntut untuk bisa menyeimbangkan pekerjaan dan anak-anak serta rumah.

Percayalah, bahkan jika saya adalah sebuah robot Saya pasti akan rusak hanya dalam waktu seminggu saja.

Namun kenyataannya, sepak terjang istri dalam berkarya atau berkarir atau bekerja, entah di luar rumah ataupun dari rumah ah, amat sangat membantu suami terutama di masa pandemi ini.

Karena, selama masa pandemi ini saya rasa hanya sedikit wanita yang bekerja untuk aktualisasi diri.

Kebanyakan wanita yang bekerja sama pandemi ini adalah untuk memenuhi kebutuhan pokok, meskipun mungkin sebagian hanya membantu saja kewajiban suami alias suami masih terus menafkahi keluarga.


Suami Harus Tahu, Wanita Sama Lemahnya Dengan Pria


Demikianlah, suami seharusnya juga tahu, bahwa jika selama masa pandemi ini mereka merasa diri lemah karena mungkin belum bisa membahagiakan keluarganya.

Suami dan istri bekerja dan tantangannya

Atau, suami juga merasa lemah karena baru bisa memilih pekerjaan demi profesionalisme bekerja dan menghasilkan uang untuk keluarga.

Demikian pula yang terjadi kepada istri.

Bagaimana bisa seorang suami menginginkan istri bisa hebat mencari uang sendiri dari rumah, sambil menjaga anak mengurus rumah tanpa ada bantuan dari orang lain, tapi juga harus menyeimbangkan waktunya dengan baik.

Pulang ke rumah, melihat istri yang masih juga sibuk bekerja, anak-anak yang sedikit terabaikan karena Istri sibuk bekerja.
Atau lebih parah lagi, bahkan istri tidak punya waktu untuk sekedar bercengkrama santai saat suami di rumah.

Untuk saya pribadi, saat suami ada di rumah-rumah itu merupakan sebuah surga buat saya karena saya bisa menggunakan waktu untuk bekerja sebanyak mungkin.

Saya bisa mengejar banyak ketertinggalan yang saya ya lakukan ketika suami tidak ada di rumah.

Entah saya menyelesaikan beberapa pekerjaan lebih cepat, agar saya tidak menyalahi deadline, atau saya menggunakan waktu tersebut untuk tidur dengan cukup.

Sejujurnya, bahkan sejak 3 tahun lalu saya sudah mengalami kekurangan waktu tidur selama bertahun-tahun. Puncaknya terjadi ketika saya akhirnya sakit sebulanan kemarin.

Karenanya apakah teman sudah mulai terbuka pikirannya, itulah yang saya maksud dengan bahwa seorang istri atau seorang ibu yang masih punya anak dalam usia balita hingga kanak-kanak, sebaiknya jangan diberi beban untuk mencari nafkah.

Karena yang namanya mencari nafkah itu selalu berhubungan dengan profesionalisme.

Di mana profesionalisme sebagai pencari nafkah atau pekerja itu akan sangat sulit kita lakukan jika harus bersama anak-anak.

Mungkin ada beberapa wanita yang super hebat, supermom, yang bisa menyeimbangkan semuanya dengan baik.

 Yang bisa mengurus 2 anak yang masih dalam masa pertumbuhan seorang diri, mengurus rumah seorang diri, mencari nafkah dengan profesionalisme dan tidak pernah merugikan orang lain sendiri, dan juga masih punya waktu untuk diri sendiri setidaknya punya waktu istirahat yang cukup.

Mungkin ada sih, tapi saya yakin itu sangat jarang.
Bahkan sampai hari ini, masih banyak yang tidak percaya, saya melakukan semua hal itu seorang diri.

That's why, saya akhirnya sakit-sakitan, karena tidak punya waktu untuk istirahat yang cukup.

Jadi, sama aja dengan para suami yang mungkin tidak punya banyak waktu untuk keluarga dengan alasan memilih profesionalisme dalam bekerja mencari nafkah.

Para istri pun sama seperti itu, dan jika itu merupakan sebuah kelemahan bagi para suami, yang kurang bisa menyeimbangkan waktunya dengan baik.

Terutama di masa pandemi ini, di mana yang namanya mencari pekerjaan itu sulit sehingga mau tidak mau semua orang bekerja berlomba-lomba memperlihatkan kualitas diri dengan profesionalisme, dan mengutamakan pekerjaan.

Demikian juga para istri yang bekerja, terutama para istri yang bekerja dari rumah tanpa adanya orang lain yang membantu mereka meringankan pekerjaan lainnya.


Bekerjasama dan Komunikasi adalah Kunci


Lalu bagaimana, masa iya masalah anak-anak terabaikan, hubungan terabaikan, dibiarkan begitu saja, hanya dengan alasan ekonomi yang sedang kacau balau?

Ya mau nggak mau menurut saya salah satu cara untuk memperbaiki semua itu adalah dengan bekerja sama yang baik dan tentu saja komunikasi asertif yang baik juga.

Di masa seperti sekarang ini, dibutuhkan komunikasi yang intens antara suami dan istri.

Komunikasi yang selalu bermacam-macam, bukan hanya sekedar membicarakan kebutuhan, tapi juga membicarakan tentang perasaan, keluh kesah atau apapun yang ada di pikiran baik istri maupun suami, karena itulah hakekatnya pasangan hidup sebagai tempat berbagi baik suka maupun duka.

Jika komunikasi intens dan berkualitas, maka insyaallah hubungan akan baik-baik saja.

Hubungan yang baik-baik saja akan terus memupuk yang namanya cinta Titiek dan cinta itu amat sangat dibutuhkan di masa pandemi ini untuk menguatkan hubungan suami istri dalam menjalani rumah tangga yang mungkin sedang gonjang-ganjing dalam hal ekonomi.

Ah, andai saya temukan seorang suami yang bisa berusaha belajar berkomunikasi dengan baik.

Andai juga saya bisa segera lulus dari semua pelajaran saya tentang Bagaimana menjadi pribadi yang lebih baik, lebih sabar dan bisa berkomunikasi asertif dengan baik.

Semoga saya bisa menjadi pribadi seperti yang saya impikan tersebut, dan semoga saya bisa dipertemukan dengan pasangan yang mau berkomunikasi dengan baik, dan bersama-sama memupuk cinta dalam rumah tangga, ke dalam satu komunikasi dan goal yang sama.

Insya Allah.

So, sesungguhnya wanita itu sama dengan lelaki, jika lelaki menganggap dirinya lemah terhadap menyeimbangkan prioritas dan waktu, maka sudah bisa dipastikan wanita pun juga seperti itu.

dan, bagaimana bisa seorang wanita bisa bekerja sama dengan profesional dan mendapatkan uang yang banyak, sementara dia harus bekerja mencari uang dari rumah, mengurus anak dan rumah, seorang diri.

Sementara mungkin ada banyak suami yang bekerja di luar rumah bahkan jarang pulang, dimana mereka bisa fokus bekerja tanpa harus direpotkan dengan urusan rumah atau anak, tapi hasilnya juga mungkin masih harus mengharapkan bantuan dari istri.

Eh itu mah dirimu tsurhat ya, Rey?
Hahaha.


Sidoarjo, 02 April 2021


Sumber: opini dan pengalaman pribadi
Gambar: Canva edit by Rey

1 comment for "Suami Harus Tahu, Tantangan Istri Bekerja Lebih Banyak Dari Suami Bekerja"

  1. Yaaa.. kalau gue ke sini sih sebenarnya memang pengen dengerin tsurhatan si Rey ajah. Hahahaha.... dari mayoritas tulisan yang sudah saya baca, sisi pandang Rey saat penulisan selalu berlandaskan pada pemikiran "Istri menderita, suami mengabaikan".. Miriplah sama si Suara Hati Istri... Hahaha..

    Memang dikemas lumayan dalam gaya bahasa khas Rey, dengan pembuka gosipan dari Tipi, cuma tetap saja, positioning yang diambil adalah Rey, si pembela kaum istri yang tertindas.. wkwkwkwkwk

    Karena apa yang dikau alami, maka kamu ingin dunia berubah menyesuaikan dengan nilai ideal posisi suami dan istri menurutmu...

    Jadi, ya memang saya lagi masuk etalase curhatan Rey di sini

    It's OK karena sisi pandang seseorang memang akan dipengaruhi oleh pengalaman hidupnya...

    But..

    Jadi monoton Rey. Gimana kalau topiknya divariasikan lagi, tetapi dari sudut pandang yang berlawanan..

    Bila Rey sebelumnya pembela kaum istri nan tertindas, sekarang coba ganti arah Rey, si pembela pria yang tertindas.. :-P :-P :-P

    Hasilnya bisa lebih variatif? dan jadinya bukan sekedar melepas uneg-uneg Rey, tetapi lebih memberi sebuah sudut pandang baru.

    Bagaimanapun di dunia ini hubungan antara pria dan wanita dalam pernikahan bukan satu jenis saja. Tidak semua pria baik, tidak semua pria jahat. Tidak semua wanita baik, tidak semua wanita jahat. Masing-masing bisa diulas dari sisi-sisinya masing-masing tanpa ada kesan keberpihakan terhadap salah satu peran.

    Sekaligus kalau diubah kayak gitu, Rey mungkin akan harus berhadapan dengan diri sendiri. Selama ini, meski tidak terasa ada posisi benar salah, hitam putih , Rey si benar - putih, dan pak su contoh salah-hitam dalam cara penulisan Rey.

    Beranikah dan maukah Rey mengatakan tentang berbagai kesalahan yang dilakukan terhadap pak su selama ini? Mengapa begini dan mengapa begitu?

    Sedikit pemikiran saja, siapa tahu bisa dimanfaatkan Rey untuk mengembangkan blog ini agar bisa menghadirkan sudut pandang yang berbeda-beda.

    ReplyDelete