Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Childfree, Antara Kebahagiaan, Finansial dan Ketentuan Sang Pencipta

Childfree atau nggak mau punya anak

Parenting By Rey - Childfree atau dulunya juga disebut dengan childless, kembali bergaung akhir-akhir ini.
 
Hal ini kembali menyeruak ke media sosial, setelah pernyataan melalui tulisan dari seorang founder di kelas cinta (Googling sendiri deh, apa itu kelas cinta).

Apa sih childfree itu?
Childfree adalah sebuah keputusan atau pilihan hidup sepasang suami istri, untuk tidak memiliki anak, baik itu anak kandung, anak tiri, ataupun anak angkat. 

Penggunaan istilah Childfree untuk menyebut orang-orang yang memilih untuk tidak memiliki anak ini mulai muncul di akhir abad 20.

Saya sendiri pertama kali mendengar seseorang yang mempunyai pemahaman tentang childfree adalah ketika seorang aktris dari Hongkong yang kalau nggak salah namanya Maggie Cheung, yang bereaksi keras ketika terjadi teror 9 November 2001 silam.

Kala itu, entah saya baca di mana, yang menuliskan reaksi kerasnya Maggie, bahwa dia jadi memilih tidak ingin punya anak karena dunia sangat kacau, dan dia tak mau anaknya kesal harus hadir di dunia.

Saat itu saya tidak terlalu memperhatikan dan mengambil serius perkataan aktris tersebut, karena menurut saya sangat wajar dia berkata seperti itu.
Mengingat betapa banyaknya orang-orang yang yang seenaknya menyebar teror dan kebencian di muka bumi.

Namun siapa sangka, ternyata pemahaman tersebut telah ada, dan dan di pahami oleh beberapa pasangan.


Childfree di Masa Kini


Siapa sangka ya, childfree kembali marak di masa kini, saya rasa sih mungkin udah ada sejak lama, hanya saja penganutnya cuman segelintir, dan mereka memilih menikmati pilihan tersebut tanpa harus menjelaskan lebih banyak ke orang lain.

Saya sendiri, mengenal beberapa teman yang memang belum punya anak, tapi mereka santai aja.

Sedikitpun nggak pernah terlontar dari perkataannya, bahwa merindukan anak.
Juga tak menjelaskan bahwa mereka tak menginginkan anak.

Go with flow aja, mengalir dengan alami aja.
Itu kebanyakan kata mereka.

Apakah mereka termasuk egois?
Ingin menikmati waktu berdua tanpa diganggu anak, terutama diganggu oleh kebutuhan-kebutuhan anak yang seabrek?

Enggak juga sih.
Beberapa kali mereka dikunjungi keponakan-keponakan, dan mereka senang akan hal itu.
Dan tidak sedikit para pasangan yang memilih childfree tersebut, malah punya beberapa anak asuh, yang dibiayai sekolah maupun perlengkapannya.

Masha Allah.

Saya rasa, beberapa pasangan yang memilih childfree tersebut, ada yang dikarenakan memilih pasrah menanti diberi buah hati tanpa perlu ngoyo usaha ke dokter or semacamnya.

Ada pula yang memang udah diniatkan sejak awal, nggak mau punya anak, jadi disiasati dengan berbagai cara.


Childfree di Mata Saya


Kalau bagi saya, childfree itu sah-sah saja.
Nggak ada yang salah, even dikampanyekan secara halus, nggak bakal bikin semua orang akan menganut childfree.

Mengapa?
Karena bayi itu lucu menggemaskan, hahaha.

Selain itu, khususnya wanita ya, hampir semua wanita punya sisi keibuan, sehingga nggak jarang kita temukan, seseorang yang awalnya bete sama anak kecil, bahkan setelah menikah memutuskan menunda punya anak, ujung-ujungnya jadi kepanggil sendiri untuk punya anak.

Dan hal ini nggak sekali dua kali terjadi di masyarakat.
Karena Allah memang menciptakan manusia untuk meneruskan generasi demi generasi di muka bumi ini.

Alasan kedua, bagi saya, jika ditanya ketika dahulu, sebelum punya menikah, saya pasti bakalan bilang sangat tidak setuju dengan childfree, karena saya sukaaaa banget anak kecil, sejak saya masih kecil.

Bahkan ketika adik saya masih hidup, dia lebih banyak diurus oleh saya ketimbang mama.
Bukan hanya adik, bahkan keponakan atau sepupu saya yang masih kecil, banyak yang saya urusin.

Saya sedemikian cintanya sama anak kecil, ketika itu.

Lalu kemudian, waktu berlalu, dan saya akhirnya menikah, lalu dikasih anak sendiri.
Bahagia?
Banget nget..

Sampai akhirnya juga, ketika suami berubah jadi kasar dan cuek, lalu saya kewalahan mengurus 2 anak, sambil juga harus menanggung beban ekonomi dari rumah.

Rasanya?
Seandainya waktu bisa dibalik, saya pengennya jangan punya anak saja, hahaha.
Saya sangat setuju dengan childfree, dan ingin menganutnya juga, namun itu tak mungkin lagi.

Setidaknya, saya bisa memberikan penjelasan, mengapa saya setuju dengan childfree?

Karena:

Saya jadi depresi memberikan yang terbaik buat anak-anak.
Saya nggak tahan lagi hidup dengan lelaki yang selalu lari dari masalah.
Tapi saya nggak tega memisahkan hubungan anak dan papinya.

Saya nggak tega, melihat anak-anak kehilangan sosok orang tua lengkap.

Hal itu membuat saya tersiksa, dan berpikir.
Andai nggak ada anak-anak, mungkin semuanya tak sesulit ini.

Ketika harus hidup dengan lelaki yang selalu pergi saat ada masalah, dan tak pernah mau mengerti kekecewaan saya, nggak perlu aneh-aneh lagi, langsung angkat kaki dan melanjutkan hidup seorang diri.

Seperti yang saya lakukan ketika pertama kali menikah dan belum punya anak.
Ketika itu, saya bisa dengan bebas pergi, meski akhirnya balik lagi, karena mudah luluh dengan kesabarannya.

Tapi, semua itu udah nggak mungkin, jadi saya hanya bisa mengatakan, bahwa lebih baik childfree ketimbang punya anak lalu terlantar.

Bukan hanya terlantar kehidupan secara ekonomi, namun juga terlantar dalam hal mentalnya.
Apa gunanya anak lahir, kalau hanya untuk ditempa dengan pertunjukan kebencian dari orang tuanya?

Dan bisa dikatakan, saya memilih childfree, sebagai bentuk ekspresif dari kecintaan saya terhadap anak kecil sejak dulu.


Childfree, Antara Kebahagiaan, Finansial dan Ketentuan Sang Pencipta


Menurut saya, daripada kita ribut mempermasalahkan tentang pilihan orang tentang childfree, lebih baik kita gaungkan lebih mendalam tentang persiapan mental ketika berumah tangga terlebih sebelum menjadi parents.

Memilih hidup dengan childfree

Bukan hanya sekadar pasrah kepada Yang Maha Pencipta, tapi juga mempersiapkan dengan benar-benar apa aja yang harus dipersiapkan sebelum punya anak.

Terutama mentalnya.
Dan tentu saja financial.

Nggak perlu sampai bermilyar kok, karena saya yakin, selama orang tuanya selalu berusaha, anak-anak akan membantunya dengan memudahkan rezeki yang akan diperoleh orang tuanya.

Tapi, setidaknya yang namanya biaya selama kehamilan, persalinan hingga pasca persalinan, udah dipersiapkan sebelum waktunya tiba.
Biar lebih minim drama yang akan meluluh lantakkan mental menjadi orang tua.

Yup, mental aja nggak cukup, tetap butuh duit.
Karena bisa dibilang, banyak pernikahan jadi tidak bahagia selepas anak hadir, karena nggak ada persiapan sama sekali dengan finansialnya.

Kalau yang tahan banting sih nggak masalah ya, palingan tetap menjalani dengan semangat dan tetap kuat layaknya orang tua yang seharusnya.

Tapi yang terjadi adalah, tidak semua orang kuat menghadapi tekanan finansial, ini terlihat jelas dari banyaknya pernikahan yang jadi lebih goyah, tak harmonis lagi, bahkan tak ada lagi komunikasi intens, ketika anak-anak lahir dan bertumbuh.

Kelelahan mencari uang, tekanan tagihan ini itu, terlebih ketika anak mulai sekolah.
Itu amat sangat berat.

Saya sendiri, sempat berpikiran, bahwa kalau nggak ada anak, mungkin hidup akan lebih baik, seperti yang saya tuliskan di atas.

Namun...
Lama saya merenung, dan tersadar bahwa..
Bukankah tak ada yang lebih baik dari rencana Allah?

Kalaupun terasa berat, itu karena kesalahan kami yang memang tak mempersiapkan banyak hal di masa lalu.
 
Lebih parah lagi, ketika salah satu di antara kami memilih untuk tidak peduli lagi satu sama lainnya.
Membiarkan masalah berlarut, hingga akhirnya masalah yang ada semakin sulit diurai bagai benang kusut masai yang udah saling mengikat simpul.

Sebenarnya, jika kami sama-sama mau memperbaiki, bukan hal yang sulit untuk mengejar ketertinggalan.
Sayangnya, saya gagal berdamai dengan salah dua sikap suami yang sangat melukai saya.

Dan suami pun gagal berdamai dengan sikap saya, yang kebanyakan adalah cerminan dari sikap buruknya (menurut saya).

So, menurut saya childfree itu sah-sah aja, bukan karena egois semata, tapi bisa juga cara mereka melindungi dan mencintai anak, dengan tak memilih ada anak daripada harus melihat anak terluka.

Dan punya anakpun, bukan berarti orang tua kehilangan kebahagiaan serta finansial.
Biarpun banyak yang terlihat, ketika punya anak, sang ayah terlihat lelah oleh beban tagihan.
Sang ibu terlihat lelah, burik dan acak-acakan setelah punya anak.

Namun, ketentuan Sang Pencipta itu adalah yang terbaik daripada yang paling terbaik.

Karenanya, menjalani dengan penuh syukur, menggunakan modal akal, pikiran dan tenaga yang diberikan Allah agar ketentuan itu semakin terasa kebaikannya untuk para pasangan.

Dengan mempersiapkan mental dan juga finansial, sebelum tiba saatnya jadi pasangan dan parents.

How about you, Parents?


Sidoarjo, 21 April 2021

#RabuParenting

Sumber: Pengalaman dan opini pribadi
Gambar: Canva edit by Rey

Post a Comment for "Childfree, Antara Kebahagiaan, Finansial dan Ketentuan Sang Pencipta"