Assalamu'alaikum :)

Salam kenal, saya Rey, ibu dari 2 orang putra. Di blog ini bercerita tentang Parenting, Family dan Healthy

Suami Menyuruh Istri Resign Demi Anak

Friday, January 29, 2021

Suami Menyuruh Istri Resign Demi Anak

Parenting By Rey - Beberapa hari belakangan ini, saya sering banget membaca hal tentang (semacam) patriarki di medsos.

Bermula di sebuah akun tempat curhatan para lelaki (katanya), yang mana ada seorang lelaki berstatus suami, melayangkan curhatannya tentang keinginannya agar istrinya jadi IRT (Ibu Rumah Tangga) aja buat ngurus anak.

Si lelaki tersebut juga membagikan ceritanya, bermula dari kejadian anaknya ketabrak sepeda, karena mertuanya yang jagain anak sedikit lalai menutup pintu, karena sedang sakit.

Tak pelak lagi, sang lelaki tersebut jadi sedikit memaksa istrinya, agar mau resign demi menjaga anak-anaknya, mengingat toh gajinya juga udah lebih dari cukup untuk membiayai keluarga (katanya).

Langsung dah otak nyinyir saya ikutan kayak mamak lainnya, ya udah... kalau memang gajinya banyak, kenapa nggak hire nanny buat jaga anaknya aja sih?
Dan dibawah pengawasan mertua?

Gitu aja kok ya repot? hehehe.

Terlebih, alasan istrinya mengapa nggak mau resign, ya karena dia takut, suatu saat suaminya kenapa-kenapa, dianya gimana coba buat melanjutin hidup dan membesarkan serta menyekolahkan anak?

Soooo wifey banget nggak sih?
Banyak banget nih para istri yang berpikiran tentang hal ini, apalagi kalau liat iklan para pebisnis MLM, di mana katanya istri itu wajib punya penghasilan sendiri, karena suami mah kalau nggak diambil Tuhan, ya diambil pelakor *eh, hahaha.

Lalu, entahlah nyambung atau gimana, beberapa waktu kemudian, saya membaca status seorang friendlist facebook saya.
Yang nulis sih laki-laki, di mana dia menyoroti tentang pemahaman patriarki yang keliru dari kebanyakan wanita.

(Kebanyakan) wanita, menurutnya maunya enaknya aja.
Ketika dianjurkan untuk di rumah saja, khususnya jika anak-anak memang sedang dalam masa pertumbuhan, kebanyakan berdalih kalau itu adalah patriarki.

Mengapa hanya boleh lelaki, ketika menikah masih terus menjalani karirnya, mengapa menikah itu, seolah memenjarakan perempuan dalam rumah?

Padahal ya, para lelaki masih meneruskan karirnya bukan semata aktualisasi diri, tapi itu adalah tanggung jawab berat, baik kepada Tuhan, maupun terhadap harga dirinya sebagai suami atau kepala keluarga.

Sementara wanita, kebanyakan sih bekerja hanya demi aktualisasi diri, gajinya pun kebanyakan buat dirinya sendiri, entah membeli skin care, maupun hal-hal lain yang dia sukai.

Seketika saya jadi sedikit tertampar oleh tulisan itu.

Dan kemudian, kemaren malam, saya menonton sebuah film India, yang membahas tentang feminisme yang benar-benar bebas.
Duh kok jadi semacam saling berkesinambungan sih.


Tentang Istri Harus di Rumah aja demi Anak


Kalau pendapat pribadi saya, amat sangat setuju, bahwa seorang istri sebijaknya di rumah saja, terlebih kalau anak masih kecil.
Meskipun, pendapat itu tidak serta merta ada di pikiran saya, bahkan sampai saat ini, saya masih berjuang keras untuk bisa berdamai dengan kenyataan tersebut.

Iya, sejujurnya saya benci banget, jika harus di rumah demi anak, tapi nggak bisa fokus melakukan hal itu.

Oh ya, FYI, maybe i am lucky, tapi Alhamdulillah, keputusan saya tentang menjadi IRT itu merupakan keputusan sendiri, tanpa ada tekanan dari siapapun, kecuali kondisi, hehehe.

Iya, paksu sama sekali tidak pernah melarang saya bekerja, bahkan sepertinya dia lebih suka saya bekerja, karena kalau saya kerja, kami Alhamdulillah nggak pernah sampai benar-benar kekurangan financial.

Namun, sebenarnya kalau saya bekerja dari rumah, dia kurang setuju, karena saya bakal kurang istrahat, dan jadinya maramara mulu, hahaha.
Akan tetapi, lucky me lagi, paksu memang bukan tipe yang suka ngelarang-ngelarang dengan keras, terlebih jika kondisinya memang di luar kemampuan dia.

Namun sejujurnya, memutuskan jadi IRT itu adalah keputusan saya sendiri, karena sudah beberapa kali terbukti, setelah punya anak, saya bekerja seolah hanya untuk bayar daycare ama dokter doang, huhuhu.

Si kakak, jadi sering sakit-sakitan, kadang 2 kali sebulan kami kudu ke dokter anak, di mana biayanya juga nggak sedikit.
Hal itu membuat saya kesal, karena semacam cuman dapat capeknya doang, dan mengorbankan perasaan anak, karena si kakak juga nggak suka kalau dia dititipin.

Akhirnya, saya lebih memilih mengorbankan perasaan saya, meski mungkin menurut beberapa orang hal itu salah.
Tapi gimana dong ya, kadang memang butuh modal juga untuk mengikuti semua mau kita.

Misal, saya nggak suka jadi IRT, saya maunya jadi wanita karir yang sukses.
Tapi saya nggak punya modal mental yang cukup untuk membiarkan anak bolak balik ke dokter, sering terlihat sedih jika saya tinggalkan, khususnya kalau dia lagi sakit, tapi saya nggak berani untuk izin di kantor, hiks.

Itu buat saya sih ya, yang memilih mengorbankan keinginan diri, demi anak, meskipun ya sebenarnya nggak berkorban-korban banget, karena bahkan di rumahpun, saya masih bisa beraktualisasi, meski kaki di kepala dan sebaliknya, hahaha.

Namun, tidak semua wanita seperti saya.
Ada juga yang lebih memilih menebalkan mentalnya, dengan mencari solusi lain buat masalah anak, sehingga mereka masih bisa tetap bekerja di luar, membangun karirnya di luar.

Dan lucunya, biasanya yang kayak gitu, malah berjodoh dengan suami yang (terlihat) patriarki dengan  menginginkan istri di rumah saja dulu, setidaknya sampai anak-anak mandiri nanti.

Hidup memang lucu ya, saya bahkan pengen tuh disuruh kek gitu, apalagi kalau suaminya menyuruh demikian, tapi benar-benar bertanggung jawab, yaitu mengambil semua tanggung jawab financial, baik kebutuhan harian, maupun kebutuhan utama lainnya, seperti sandang, papan dan pangan.

Oh, bukan suami saya nggak bertanggung jawab sih ya, Alhamdulillah meski kadang dengan error, tapi beliau selalu menunjukan tanggung jawabnya, sayangnya tanggung jawabnya tidak sesuai dengan impian saya, yang pengennya sih tak perlu berlebihan, asal jangan juga kurang banget sampai merugikan orang lain.

Tapi lupakan sejenak masalah financial, mari membicarakan alasan terbesar mengapa para wanita menjadi IRT, yang mostly karena anak.   

Ini masih jadi perdebatan sih ya, karena sebijaknya anak itu bukan hanya tanggung jawab istri, tapi juga suami.
Karena anak kan nggak hanya butuh ibu, tapi juga ayah.

Sayangnya, kondisi seringnya tidak memungkinkan untuk itu, dan jika kondisi tidak memungkinkan, mau nggak mau ya kudu ada yang ngalah, dan saya memilih mengalah, karena saya yakin jauh lebih baik saya yang mengasuh anak-anak ketimbang papinya.


Apakah Patriarki jika Suami Menyuruh Istri Resign demi Anak?


Menurut saya, tidak selalu patriarki sih ya, tergantung kondisinya.
Karena, banyak juga suami yang fun-fun aja jika istrinya bekerja, karena merasa bebannya jadi lebih ringan, ketimbang istri di rumah aja, hehehe.

Suami Menyuruh Istri Resign Demi Anak

Terlebih, banyak juga loh, yang suaminya santai aja meski istri kerja, tapi ketika di rumah, sang suami nggak mau ikutan mengerjakan pekerjaan di rumah.

Ada juga, yang suami insecure sehingga melarang istri bekerja, dan memaksa istri hidup serba kekurangan dan menerima keadaannya.
Ada!
Ada banget nget, hahahaha!

Karenanya, meskipun ada sebagian istri yang menganggap kalau bekerja itu sebagai aktualisasi diri, tapi sejujurnya banyak wanita yang bekerja itu ya karena nggak mau hidup dalam kekurangan.

Ya kali, sejak kecil orang tuanya mengorbankan apapun demi menyekolahkan anak-anaknya, tujuannya apa? ya agar anak bisa memanfaatkan pendidikannya untuk bisa hidup lebih baik lagi.
Apalagi, kalau yang memang sejak kecil hidupnya di bawah rata-rata seperti saya.

Rasanya, setelah besar dan menikah, tapi tetep kesulitan itu, semacam saya tuh orangnya malaaass banget, hahaha.
Apalagi jika memang usia masih produktif, dan memang punya potensi untuk itu kan.

So, saya ngerti banget jika kebanyakan wanita atau istri yang memilih tetap bekerja, sedrama apapun yang mereka alami tentang anak.  
Bahkan saya, meskipun memutuskan jadi IRT, bukan berarti saya hanya mau diam saja menjalani masa-masa sulit karena kekurangan financial.

Tidak, saya tetap berusaha bagaimanapun caranya, yang penting saya berusaha, masalah hasil mah itu urusan Tuhan.

Namun, beda lagi ya, jika memang suami sudah mengusahakan semuanya, sandang, pangan dan papan, meskipun belum semewah para borjuis, namun kehidupannya mencukupi, tak perlu berhutang ataupun kebingungan membayar ini itu lagi, bahkan kebutuhan pribadi istripun dipenuhi dengan baik.

Lalu punya masalah anak yang benar-benar urgent, lalu sang istri tetap ngotot bekerja di luar hanya karena alasan aktualisasi diri, saya rasa itu adalah sebuah egoisme sih ya.

Meskipun, itu hanya pendapat saya ya.
Tak perlu diambil hati.

Karena, sebagaimanapun kita seorang wanita yang butuh menjadi diri sendiri, ada masa di mana kita harus menunda semua itu, yaitu ketika punya anak, karena waktu tak bisa diputar kembali, sementara kita masih bisa beraktualisasi, ketika anak-anak memang kurang membutuhkan waktu orang tuanya, seperti saat mereka masih kecil.

Demikianlah.

Sidoarjo, 29 Januari 2021


Sumber: pengalaman dan opini pribadi
Gambar: Canva edit by Rey  

Comments

  1. Waah,,, kalau saya sih maunya saya saja yang di rumah mengurus anak dan kebutuhan rumah tangga. Suka tidak tega melihat istri yang kerepotan menghandle kelakuan anak laki saya yang mainnya fisik banget. Apalagi kalau pulang dari kantor, sama-sama lelah, anak balita pasti tidak mengerti sepenuhnya bahwa kita butuh istirahat. Makanya, saya sajalah jadi tumbal main dan "dianiaya" sama anak.

    Kalau kesempatan itu datang, saya ingin sekali jadi bapak rumah tangga. Menghabiskan waktu bersama anak. Kecuali memasak, tugas saya di rumah adalah mencuci pakaian istri dan anak, dan bergantian bersama istri untuk menyeterika, mencuci piring, membersihkan rumah dsb. Mungkin bisa nyambi jadi go-clean saya untuk menambah penghasilan.

    Tapi menjadi bapak rumah tangga nampaknya tidak mungkin sekarang ini. Kami punya kebutuhan, terutama kebutuhan si anak bocah, yang belum bisa tercukupi kalau salah satu dari kami tidak bekerja dan punya penghasilan tetap. Maka dari itu kami memutuskan untuk tetap bekerja di kantor dan berbagi tugas di rumah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya ya, mainnya anak laki itu sungguh ekstrim, anak-anak saya mainnya berdua, selalu saja bikin jantungan, dan udah sering banget jatuh, saling kejedot, abisnya mainnya aksar banget hiks.

      Semoga nanti bisa tercapai jadi bapak rumah tangga yang bisa juga tetap berpenghasilan ya :)

      Delete
  2. resign atau tetep kerja tetep diperlukan diskusi berdua ya mbak
    kecuali seperti yang mba Rey bilang tadi, suami sanggup mengatasi financial keluarga seutuhnya mungkin
    kadang kala ada istri yang memang nggak bisa diem meskipun dirumah aja, kalau yang pinter masak bisa jadi istri istri itu akan membuka pesanan makanan atau catering mungkin
    mungkin kalau kebanyakan diem dirumah, bisa bosan juga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah iya, eh btw saya sejujurnya nggak pinter masak, makanya nggak pernah mau bantuin mertua di dapur, karena nggak pede hahaha.
      Tapi meskipun demikian, tetap saja saya berusaha masak, dan lama-lama bisa, meski nggak pinter :D

      Delete
  3. Ini situasinya lagi saya banget mba. Meski ga kerja kantoran, tp saya tetap kerja dari rumah jd blogger begini. Dan hasilnya lumayanlah, cm gara2 kemarin terlalu jor2an akhirnya suami minta stop krn anak2 jd agak terlantar. Tapi saya tetap nego agar setidaknya bisa terima 1-2 kerjaan per bulan dan tetap prioritasin anak. Soalnya saya bukan tipe yg bisa jadi full time IRT, bisa stress dan senewen saya 😅

    Kalau secara ekonomi emang cukup, tapi ya cukup aja ga berlebih gimana. Selain biar saya ttp waras, uang yg saya dapat juga sebahian besar saya tabung buat nambahw tabungan krn cita2 kami jg spy bs rumah sendiri someday.

    Aku jg merasa kalau pas lg menghadapi suatu masalah ada aja bacaan2 yang cocok dgn situasi yg sedang kita hadapi ya. Spt saya menemukan artikel mbak Rey ini hehe... semangat ya mba.

    ReplyDelete