Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Menantu Mertua Tak Akur, Salah Siapa?

Konten [Tampil]
Menantu Mertua Tak Akur, Salah Siapa?

Parenting By Rey - Masalah menantu mertua ini rasanya merupakan salah satu masalah yang paling digemari untuk digibahkan *lah? hahaha.

Tapi serius, masalah ini memang sangat krusial dalam rumah tangga, bahkan ada banyak pernikahan yang akhirnya karam karena masalah menantu mertua yang tak akur.

Paling sering adalah, masalah menantu wanita dengan ibu mertuanya, meskipun ada juga masalah menantu lelaki dengan ibu mertuanya, namun sangatlah sedikit.
Mungkin karena kebanyakan istri sangat membela suaminya di depan orang tuanya, sementara hanya sedikit sekali ada suami, yang mau membela istrinya di depan orang tuanya.


Menantu Mertua Tak selamanya Akur


Rasanya, hanya sedikit menantu perempuan yang begitu beruntung, mendapatkan mertua yang sebaik orang tuanya, saya termasuk, meski nggak selalu sebaik orang tua sendiri.

Kedua mertua saya, biarpun tidak sejahat mertua di sinetron azab, tetap juga lebih memilih anaknya ketimbang menantunya, jika ada masalah.
Memang ya, hanya sedikit orang yang mampu menghilangkan bias sebagai ikatan darah, dalam menyelesaikan sesuatu.

Namun, setidaknya, kedua mertua saya masih lebih manusiawi dibanding cerita mertua yang dzalim.

Sebenarnya, mertua saya tak serta merta bisa menerima saya.
Awalnya, bahkan bapak mertua saya terkesan tidak menerima saya.
Beruntung, si pacar dulunya lagi cinta mati pada saya, sehingga meski antara saya dengan bapaknya terjadi konflik, namun si pacar tetap memilih memperjuangkan hubungan kami.

Syukurlah, akhirnya bapaknya melunak dan menyetujui hubungan kami melangkah ke jenjang yang lebih serius.

Dan siapa sangka?
Setelah menikah, bapak mertua adalah sosok yang jauh lebih berjasa yang selalu turun tangan di saat hubungan kami di ujung tanduk.

Ibu mertua?
Beliau mah tidak banyak protes, setidaknya di depan saya.
Yang jelas, ibu mertua memang sosok yang sangat mencintai anak-anaknya dengan memberikan kebebasan penuh pada anak-anaknya.

Karenanya, ketika si pacar sudah sedemikian ngototnya memilih saya, ibunya hanya bisa menerima dan mendoakannya.

Sampai akhirnya kami menikah.
Setelah menikah, bisa dibilang kami minim konflik, justru konflik itu terjadi di belakang saya.
Di depan saya, semua keluarganya sangat menghormati.

Namun, meskipun demikian, selalu ada celah bagi saya dan mertua, yang sampai kini, setelah belasan tahun menikah, sama sekali nggak bisa dihubungkan dengan baik.

Yaitu, saya sama sekali tidak pernah merasa masuk langsung dalam keluarga.
Saya tidak pernah update kabar keluarga, meskipun jika saya ke rumahnya, seolah nggak terjadi apa-apa, tapi jauh di lubuk hati saya, ada jarak yang sangat lebar antara saya dengan mertua maupun dengan keluarga besar paksu.

Namun, saya memilih untuk tidak menjadikan hal itu sebagai masalah, karena tanpa konflik saja, seharusnya itu udah sangat menjadikan saya sebagai menantu yang beruntung.

Karena, di luar sana, sebenarnya masih banyak wanita-wanita yang berstatus sebagai menantu, yang selalu disalahkan oleh mertuanya.

Saya sering mendapatkan cerita dari sahabat saya, bahkan beberapa orang, mengirimkan saya email, dan bercerita tentang mertuanya yang selalu tak suka padanya.

Meskipun juga, saya tak bisa mengatakan kalau itu adalah salah mertuanya, karena saya tak tahu pasti, sebenarnya memang benar mertuanya nggak suka padanya, atau memang hanya tingkat baper di hati yang berbicara.

Karena kalau dipikir-pikir, saya pun sering banget mendapatkan teguran dari mertua, namun memang caranya lebih halus.
Dan saya juga menanggapi dengan pikiran positif, jadinya masalahnya tidak berkembang.


Menantu Mertua Tak Akur, Salah Siapa? 


Akan tetapi, jika memang menantu mertua tak bisa akur, salah siapa sih sebenarnya?
Apakah mertua yang tak kenal zaman?

Menurut saya, semua itu adalah salah yang punya orang tua.
Jika menantu perempuan yang tak akur dengan mertua, berarti salah suaminya.
Dan, jika menantu laki-laki yang tak akur dengan mertua, seharusnya itu juga salah dari istrinya.

Kok bisa?

Ya karena yang paling bisa memahami dan dipahami oleh mertua ya anaknya.
Bukan anak orang yang baru masuk dalam kehidupannya, yang sudah dijalani selama puluhan tahun memiliki anaknya.

Karenanya, sebagai anak dan pasangan, sewajibnyalah kita yang lebih menjadi penengah antara orang tua dan pasangan kita, jangan biarkan pasangan kita menghadapinya sendiri, karena pasangan kita tetap orang lain buat orang tua kita, dan pasangan kita, tidak memahami orang tua kita, seperti kita memahami mereka.

So, kalau memang orang tua kurang menyukai pasangan kita, sudah semestinya kita melindungi pasangan kita, dengan menjelaskan hal yang bisa membuat orang tua bisa mengerti dan memahami, kalau bagaimana pun sikap dan tabiat menantu, itu udah masuk satu paket pilihan anaknya, yang mana.. mau nggak mau memang orang tuanya wajib menerimanya.

Demikian juga, ketika pasangan merasa tidak nyaman dengan orang tua kita, sudah sewajibnya kita tampil menengahi dan menjelaskan, bahwa orang tua adalah paket dari pasangan kita, selama tidak melanggar batasnya, mau nggak mau memang pasangan wajib menerima orang tua kita sebagai mertuanya.

Nah ini nih yang jarang banget dilakukan seorang anak, khususnya para suami.
Kebanyakan, para suami cenderung memilih lari dari situasi yang tidak bisa membuatnya memilih tersebut.

Menantu Mertua Tak Akur, Salah pasangan

Padahal, masalah menantu mertua itu tidak selalu pilihan, namun sebagai tantangan sebagai anak dan pasangan, untuk bisa mendamaikan keduanya.
Kurang lebih sama dengan paksu.

Dia memang tidak pernah membiarkan saya merasa dikucilkan atau disepelekan oleh keluarganya, tapi caranya kebablasan, yaitu dengan menutup celah hubungan saya dengan keluarganya.
Karenanya, biarpun sudah belasan tahun menikah, saya tetap merasa asing terhadap keluarga.

Namun kembali lagi, ada saatnya memang kita kudu memilah, masalah mana yang harus dipikirkan, dan masalah mana yang sebaiknya diterima saja.
Selama tidak merugikan satu sama lainnya, ya udah diterima saja.

Karena masih banyak masalah penting di dunia ini, yang harus kita baperin, hahaha.

So, masalah menantu mertua yang tak akur memang kebanyakan merupakan salah pasangan.
Yang tak mau atau tak mampu mendamaikan orang tua dan pasangannya dengan baik.
Meskipun kadang juga disebabkan oleh rasa baper yang begitu mendalam.

Jadi, solusinya adalah, komunikasikan pada pasangan dengan baik, serta kurangi bapernya.
Dan, sebijaknya sih lebih baik tidak tinggal di rumah mertua, jika memang tak akur.

Demikianlah...

Sidoarjo, 22 Januari 2021


Sumber: pengalaman dan opini pribadi
Gambar: Canva edit by Rey 

3 comments for "Menantu Mertua Tak Akur, Salah Siapa?"

  1. 1. MERTUA & MENANTU TIDAK AKUR SALAH SIAPA.??

    Kalau menurut saya yaa salah menantu.. Baik menantu perempuan atau laki2, Terlebih yang masih numpang atau satu rumah....Karena Mertua itu yaa tak ubahnya orang tua kita yang harus kita hargai atau kita hormati...Meski terkadang selalu tidak sependapat dengan sang Menantu.

    Ingin tak mau terbebani dengan mertua yang keluar dari rumah, Atau mengontrak rumah. Namun meski sudah berbeda tempat dengan Mertua ada kalanya kita harus tetap wajib berkomunikasi secara bijak dengan Mertua yang memang tak ubahnya seperti orang tua kita sendiri...Akan lebih bagus lagi antara Pasutri seharusnya saling memahami watak Mertuanya masing2...Sederhananya mungkin seperti itu meski terkadang masih banyak Pasutri yang ribet dengan hal seperti itu. Bahkan masalah dengan Mertua selalu kerap dibesar2kan sampai pada akhirnya tanpa sadar bisa menjadi dosa yang semakin lama semakin menumpuk.

    Dan saya pribadi juga orang yang kurang begitu nyaman bila berlama2 dekat dengan Mertua, Atau tinggal dirumah Mertua.

    Bahkan membaca artikel ini saya jadi teringat pernah kala itu 3 hari dirumah Mertua karena beliau sedang sakit...Dan istri saya menyuruh saya menemaninya...Sayapun menyanggupinya walau sedikit menyebalkan memang.不 不 不 Jadi apapun itu yaa mau tidak mau selalu pasang wajah penuh kebohongan Haaahaaa..不 不

    Akhirnya saya cerita ke Istri saya... "Vin aku 3 hari dirumah mamamu serasa hampir 3 tahun lamanya, Gimana seminggu kali yaa?"..

    Iyaa pun membalasnya...."Lhaa apa bedanya sama mamamu yang sama nyebelin"...Akhirnya saya dan istri hanya tertawa...Karena sebelum menikah baik saya dan istri masing2 salin menceritakan watak orang tua kami masing2. Dan dari situ saya dan istri bisa saling memakluminya, Dan tetap menghormatinya sebagai orang tua walau terkadang memang harus mengalah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. 2. Sebenarnya antara Mertua dan Menatu sehebat apapun orangnya sudah barang tentu tetap akan ada perselisihan dan perbedaan...Maka dari itu sebelum menikah calon Pasutri itu seharusnya membicarakannya dan saling memahami watak orang tua masing2 sewaktu dalam tahap pengenalan diri...Biasanya hal ini cendrung diabaikannya atau menganggap hal biasa.

      Intinya jangan tanya ini salah siapa? Akan lebih baik merubahnya menjadi yang lebih baik...Walau yang masih menumpang hidup sama Mertua maupun yang tidak tetap sama.

      Malah saya sendiri suka salut melihat orang yang mampu tinggal sama Mertuanya sampai punya anak, Dan dengan segala macam dramanya. Kalau saya mungkin sudah Stroke duluan dah.不 不 不

      Eehh panjang amat komentar gw...Nahloo 喫 Kabuuur aahh!..

      Delete
    2. Kaaanng, beruntungnya dirimu menemukan istri sekeren Mba Vin Vin hehehe.
      Etapi dirimu juga kece sih, semua nggak dimasukan ke hati ya.

      Intinya saling bisa memahami, suami paham perasaan istri yang nggak nyaman dengan mertua, istri juga gitu.

      Lah coba diriku ngomong gitu ke suami, langsung auto ditampar kali saya, baperan banget mah paksu itu kalau masalah keluarganya hahahaha

      Tengkiu insightnya Kang, bener banget, daripada rempong, mending jauh-jauh deh dari rumah mertua, baik mertua ortu suami maupun istri :D

      Delete