Assalamu'alaikum :)

Salam kenal, saya Rey, ibu dari 2 orang putra. Di blog ini bercerita tentang Parenting, Family dan Healthy

Mengajarkan Tentang Najis Pada Anak

Saturday, January 23, 2021

Mengajarkan Tentang Najis Pada Anak

Parenting By Rey - Mengajarkan najis pada anak, sebaiknya memang sejak dini, bahkan sebenarnya namanya bukan mengajarkan, tapi membiarkan fitrah anak tetap ada.

Sebagaimana, fitrah anak yang dilahirkan itu, udah termasuk nggak nyaman dengan yang namanya najis. Terlihat, ketika pipis dan pup, bayi pasti nangis karena merasa nggak nyaman.

Namun, karena keberadaan pospak atau popok sekali pakai, membuat banyak orang tua merasa terbantukan, sekaligus bisa merusak fitrah anak tentang najis atau kebersihan.

Di mana, mulai dari yang awalnya anak nggak nyaman bahkan dengan pipisnya sendiri, sampai akhirnya jadi terbiasa karena memakai popok sampai benar-benar penuh, bahkan kadang bayi udah pup pun, tetap dibiarkan sejenak, dengan berbagai alasan.

Siapa yang kayak gini?
Yang jelas adalah, saya! hahaha.

Si kakak sih baru kenal popok sekali pakai ketika usianya 3 bulan, namun si adik, sejak lahir udah kenal yang namanya pospak.

Meskipun demikian, kedua kakak beradik tersebut, Alhamdulillah sudah lebih mengenal najis sejak kecil, setidaknya Alhamdulillah... mereka sangat jijik terhadap kotorannya sendiri.
Sehingga tidak ada drama, keduanya menyentuh apalagi memainkan kotorannya.

Bagaimana caranya, membuat anak bisa mengerti najis atau kotorannya sejak kecil?
Mungkin karena beberapa hal yang saya lakukan, seperti:


1. Mulai sejak dini


Ini mungkin juga karena mereka terlahir dari seorang ibu yang jijikan minta ampun.
Iya, saya tuh jijikan banget, syukurlah jiwa keibuan saya masih ada, sehingga masih bisa nahan jijik membersihkan kotoran anak-anak sendiri, hahaha.

Tapi serius, saya sangat jijik terhadap sesuatu yang kotor.
Karenanya, sejak bayi, bahkan popok bekas anak saya bungkus sedemikian rupa, agar tidak mencemari udara.

Dan juga, adalah hal menjijikan buat saya, untuk membiarkan kotoran anak di mana-mana, selain jijik, saya juga mikirin najis yang akan mengenai orang sholat.

Karenanya, saya tidak pernah membiarkan kotoran anak, baik air seni maupun tinjanya, mengotori rumah, bakalan segera saya bersihkan semuanya.

Mungkin, karena sejak kecil anak terbiasa berada di tempat yang bersih, jadinya dia merasa tidak nyaman dengan bau yang menyengat dari sesuatu yang kotor.

Bukan hanya tentang najis kotorannya sendiri, tapi juga dengan kotoran lainnya, misal kotoran hewan, maupun hal-hal lainnya, yang memang kotor.


2. Contohkan pada anak


Semua parents pasti tahu kan, bahwa anak-anak adalah peniru ulung.
Jadi, udah bisa dipastikan mengapa kakak beradik ini mengerti tentang najis sejak kecil.
Ya karena melihat maminya yang jijikan.

Jadi, jangankan mau nyentuh kotorannya, bahkan si adik histeris banget, jika dibersihin kotorannya belum cepat ngalir, malah mendekati kakinya.

Lebay sih, tapi setidaknya dia tahu, bahwa kotorannya itu najis dan kotor, sehingga nggak akan ada drama si kecil mainin kotorannya sendiri. 
So, ternyata jadi mami yang jijikan itu berfaedah juga :)


3. Sounding


Ini harusnya yang nomor 1 ya, di mana even sejak anak baru lahir, membiasakan untuk sounding, bahwa ini kotor, ini najis, itu nggak boleh disentuh, adalah penting ya.  

Karena, anak-anak akhirnya terbiasa dan mengerti serta ingat selalu kata-kata maminya, bahwa ini tuh kotor atau najis.
Dan terlebih dicontohkan, dengan mimik, di mana yang kotor tidak boleh disentuh dan harus segera dibersihkan, lama-lama anak akan terbiasa karena sounding kita.


4. Biasakan dengan konsisten


Ini yang paling menentukan sih, yaitu konsisten.
Konsisten akan membentuk anak dengan sendirinya mengetahui mana najis yang harus segera dihindari dan dibersihkan secepatnya.

agar anak mengerti tentang najis

Lucky me, saya jijikan.
Jadi, biarpun lagi lelah atau ngantuk, kalau ada yang kotor mah, dijamin saya belain bersihin dulu sebelum lanjut tidur.

Jadinya, tidak pernah ada celah yang membiarkan anak-anak nyaman dengan najis atau kotorannya, karena setiap kali ada najis atau kotoran, ya segera dibersihkan.


Demikianlah hal-hal yang saya lakukan, sebagai cara mengajarkan tentang najis atau kotoran kepada anak, agar anak tidak sampai menyentuh kotorannya, terlebih sampai memainkan kotorannya sendiri.
Karena fitrah anak yang dia bawa sejak lahir adalah, mengerti najis, jadi tugas kita sebagai orang tua, ibu khususnya, untuk memastikan fitrah tersebut selalu ada pada habbit anak.

Kalau Moms lainnya, punya tambahan cara apa untuk mengajarkan najis atau kotoran pada anak? 
Share yuk :)


Sidoarjo, 23 Januari 2021


Sumber: Pengalaman pribadi 
Gambar: Canva edit by Rey

Comments