Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pengalaman Periksa Mata Anak di Optik, Hasil Berbeda dan Jadi Bingung

Konten [Tampil]
periksa mata anak di optik baubau

"Assalamu'alaikum mama Dayyan, mau menyampaikan perihal Dayyan,..................., Tolong apakah Dayyan bisa diperiksakan matanya. Jangan sampai mata Dayyan rabun........."

Sebuah pesan panjang masuk melalui whatsapp, dari wali kelas si Adik, yang intinya memberitahukan kalau si Adik terlihat kesulitan melihat tulisan di papan tulis. Dia sering memicingkan mata ketika melihat tulisan, sehingga dicurigai matanya minus.

Jujur ketika membaca pesan tersebut, hati saya mencelos. Berasa sedih banget, merasa gagal jadi ibu yang baik untuk memastikan anak-anak tetap sehat.

Dalam hati semacam menyalahkan diri, mengapa kok anak-anak saya punya masalah serius dengan tubuhnya. Si Adik matanya, sementara si Kakak masalah pada giginya.

Padahal saya nggak punya banyak uang. BPJS juga terlalu complicated diurus.

Lalu kesal setengah mati sama papinya yang terkesan nggak peduli dengan masalah anak-anaknya. Sampai akhirnya saya istigfar, dan mencoba tenang untuk memikirkan solusinya.

Baca juga : Pengalaman Ke Dokter Gigi Anak Surabaya untuk Masalah Gigi Kakak Darrell


Dugaan Penyebab Mata Minus Pada Adik Dayyan

Sebenarnya sudah lama saya curiga atas masalah mata si Adik, karena dia sering kali terlihat mengusap matanya ketika membaca, atau fokus melihat sesuatu.

Tapi saya abai, karena dia nggak pernah mengeluh secara langsung atas penglihatannya. Jadi, ketika gurunya memberitahukan hal itu, saya jadi semakin yakin atas masalah mata si Adik.

Mengapa awalnya belum yakin? karena rasanya anak-anak saya tuh masih dalam tahapan aman dalam berinteraksi dengan layar gadget. 

Mereka jarang banget nonton TV, bahkan meski ada TV, jarang banget dinyalakan. Penggunaan ponsel juga jarang. Saya sangat ketat mengatur jadwal penggunaan ponsel buat mereka. Hanya boleh di weekend saja, itupun ada batasan waktunya juga.

Tapi memang sih, saya kecolongan di masalah membaca buku. Karena saya paham anak-anak juga bosan di rumah melulu, saya memang membatasi banget interaksi mereka di luar rumah. Jadi kan kasian mereka bosan kalau ini nggak boleh, itu nggak boleh. Karenanya, saya bebaskan mereka baca buku, dan karena itulah mereka suka membaca.

Baca juga : 10 Cara Bikin Anak Gemar Membaca Ala MamiRey

Dan memang sih, untuk masalah membaca ini, banyak kebiasaan anak-anak, baik si Kakak maupun si Adik yang buruk.

Saking sukanya membaca, sering terjadi anak-anak tuh nggak dengar kalau dilarang berhenti baca dan harus tidur. Dulu sering terjadi, saat mereka tidur di kamar, saya nggak perhatikan lagi, karena sibuk di depan laptop.

Nantilah beberapa saat tiba-tiba saya dengar suara mereka dari kamar, ketika saya periksa, ternyata mereka belum tidur dong. Dan selama beberapa saat itu, mereka gunakan buat membaca di dalam selimut, hanya diterangi cahaya senter mini yang redup, ckckckck.

Dan itu nggak terjadi sekali dua kali, hampir setiap hari mereka akan membaca sebelum tidur. Katanya buat mancing ngantuk (bisaaaa aja ya alasan para gen Alpha ini!).

Sudahlah membaca di tempat yang gelap, plus membacanya sambil tiduran pulak, lengkap sudah.

Jadi, kalau ditanya apa penyebab mata minus pada Adik Dayyan, sepertinya sih salah satu penyebabnya ya karena membaca.

Kalau untuk masalah gen atau keturunan, well bisa jadi sih, tapi bukan dari saya, harusnya. Meski saya berkacamata, tapi saya pun murni karena dulu juga suka baca dan ketambahan suka pelototin monitor gadget tanpa henti.

Akan tetapi, saudara-saudara papinya memang, khususnya yang perempuan, semuanya berkacamata. Bahkan ada satu tantenya, adik papinya, sudah menggunakan kacamata sejak SD.  


Pengalaman Periksa Mata Di Dua Optik Berbeda di Baubau dan Hasilnya Beda Jauh

Tanpa menunggu waktu lama, segera saya ajak si Adik ke optik. Sebenarnya pengen ke dokter mata dulu, tapi karena dana saya memang sangat terbatas, jadi saya putuskan saya langsung ke optik saja.

Jadi, beberapa waktu lalu saya kebetulan lagi main keLippo Plaza Buton, dan di situ ada optik Melawai, mampirlah saya dan menjelaskan kalau butuh kacamata buat si Adik.

periksa mata anak di optik melawai baubau

Kamipun diajak pilih-pilih kacamata dulu, dan karena pertimbangan dana, kami memilih kacamata dengan harga terjangkau.

periksa mata anak di optik melawai baubau

Berikutnya, si Adik diajak ke sebuah sudut ruangan untuk diperiksa matanya.

Alat yang digunakan untuk periksa mata di optik tersebut menggunakan alat manual, tapi detail banget. Ada kali 30-40 menit saya menunggu si Adik diperiksa matanya.

Akan tetapi, saya udah wanti-wanti ke petugasnya, apakah boleh saya ambil kacamata yang minusnya nggak terlalu setinggi yang diukur?.

Petugasnya bilang, bisa asalkan kita cek dulu kenyamanan anak dalam menggunakan kacamata itu.

Setelah selesai, ternyata minus di mata si Adik bikin saya shock, tinggi banget dong. Yang kanan sih cuman - 0,5 (kalau ga salah, saya lupa, hahaha), sementara yang kiri tinggi banget, sampai -1.25.

periksa mata anak di optik melawai baubau

Terdapat pula silinder di kedua matanya, tapi masih di bawah angka 1.

Karena saya nggak yakin, petugasnya juga jadi nggak yakin.

Masalah nggak yakin saya tuh disebabkan karena sebelumnya, saya juga pernah periksa mata di situ, dan saya paham bagaimana ribetnya periksa mata manual itu.

Apalagi sesi yang kita disuruh pilih, 

"Mana yang bulat, ini atau ini?"

Jujur, menurut saya keduanya sama bulatnya, hahaha.

"Atau, lebih jelas mana?, ini atau ini?"

"Sama Mbak, keduanya sama jelasnya, hahaha"

Kalau saya aja bingung menjawabnya, apalagi anak kan ye?.

Akhirnya, petugasnya bilang nggak apa-apa, periksa aja dulu ke dokter mata, biar lebih jelas.

********


Tak lama kemudian, saya mampir ke sebuah klinik tempat praktik dokter mata di Baubau, saya tanya berapa biayanya, kata petugasnya jasa dokter  200ribu, sudah termasuk administrasi, akan tetapi belum termasuk tindakan.

Namun karena saat itu saya buru-buru mau masuk kerja, jadinya urung nunggu dokternya. Setidaknnya saya udah tahu berapa biayanya.


Kemarin,, kebetulan saya libur dan sedang berada di luar, iseng saya mampirlah di sebuah optik lainnya, Optik Internasional. 

Ketika sampai, optik sangat sepi, tapi ada satu petugas perempuan yang berjaga. Saya kemudian mengatakan bahwa mencari kacamata buat si Adik, dan shock ternyata di situ cuman ada kacamata yang standarnya aja seharga 1,3 jutaan.

Frame aja minimal 500ribu, sementara untuk lensa minimal 800ribu.

Tapi memang kualitasnya lebih bagus sih, lebih nyaman juga dipakai anak.

Saya bertanya, apakah saya numpang periksa mata saja dulu, jadi saya tahu berapa biaya yang harus saya siapkan untuk kacamata si Adik. Dan ternyata, bisa.

Lalu si Adik diajak masuk ke dalam sebuah ruangan kecil dengan sekat kaca. Di dalam si Adik disuruh meletakan dagunya di sebuah alat periksa mata. Saya udah bersiap-siap duduk menanti selesainya pemeriksaan.

Dan ternyata, nggak sampai 5 menit, pemeriksaannya selesai.

Saya shock, karena sebelumnya di optik Melawai, saya harus menunggu lama banget untuk pemeriksaan mata si Adik. 

Ternyata, di optik ini, pemeriksaannya melalui digital atau komputerisasi. Jadi, mereka hanya perlu scan mata pasien, lalu akan diperiksa melalui alat tersebut.

Pasien tak perlu membaca huruf-huruf seperti pemeriksaan di optik melawai yang menggunakan alat manual tapi lebih detail.

Akan tetapi, hasilnya lebih bikin shock. Bisa-bisanya minus mata si Adik berbeda jauh dari pemeriksaan di Optik Melawai. 

Hasil pemeriksaannya adalah kedua mata si Adik minus 0,75, tapi silindernya di atas 2.

Pegimana ceritanya tuh beda buanget!.

Saya nggak tahu ya, apakah petugasnya nggak mau saya pakai data tersebut untuk beli kacamata di optik lain, atau memang hasilnya kayak gitu. Tapi yang jelas, saya jadi makin bingung setelah mengetahui kalau pemeriksaan mata di optik itu, bisa beda banget hasilnya.

Bukankah itu berbahaya ya, apalagi ini untuk anak-anak, jika salah menggunakan kacamata tak sesuai dengan ukurannya, bisa-bisa akan muncul masalah lain pada mata anak.

Gegara hasil pemeriksaan yang berbeda tersebut, mau nggak mau saya harus cari opsi lainnya untuk pemeriksaan mata si Adik, ya di dokter mata aja.

Nantikan cerita saya selanjutnya tentang bagaimana hasil pemeriksaan di dokter mata ya.


Kesimpulan dan Penutup

Dari pengalaman tersebut, saya belajar satu hal penting sebagai parent, yaitu di mana kita merasa sudah cukup menjaga anak, sudah membatasi gadget, sudah berusaha memberikan yang terbaik. Tapi tetap saja ada hal-hal yang luput dari perhatian kita. Nyatanya kesehatan anak tidak semata soal niat baik dalam pencegahan, tapi juga soal kesiapan menghadapi kenyataan.

Hasil pemeriksaan yang berbeda justru membuka mata saya bahwa urusan kesehatan anak memang tidak bisa setengah-setengah. Meski kondisi keuangan terbatas, tetap harus ada usaha mencari kepastian, supaya langkah yang diambil benar-benar tepat dan tidak menimbulkan masalah baru di kemudian hari.

Saya juga belajar untuk berhenti terlalu lama menyalahkan diri sendiri. Karena menjadi ibu bukan tentang selalu benar, tapi tentang mau terus belajar, memperbaiki, dan berjuang semampunya.

Sekarang yang bisa saya lakukan adalah melangkah satu per satu, mencari pemeriksaan yang paling akurat, dan memastikan si Adik mendapatkan penanganan terbaik yang bisa saya usahakan.

Semoga ke depan, bukan hanya mata anak yang lebih terjaga, tapi juga hati ibunya lebih kuat menghadapi segala kekhawatiran.

Dan semoga cerita ini bisa jadi pengingat, bahwa kadang perhatian kecil yang terlambat kita sadari, justru bisa jadi langkah awal untuk menjaga masa depan anak lebih baik lagi.


Baubau, 02-03-20026

Post a Comment for "Pengalaman Periksa Mata Anak di Optik, Hasil Berbeda dan Jadi Bingung"