Pengalaman dan Biaya Periksa Mata Anak di RS Siloam Baubau
Sudah lama penasaran, berapa sih biaya berobat di RS Siloam Baubau, maksudnya sebagai pasien umum ya, bukan BPJS.
Tapi bukan berarti minta sakit, eh nyatanya dikasih ujian sakit melalui masalah pada mata si Adik, yang mengharuskan diperiksa oleh dr. Yosylina Pramudya Wardhani, Sp.M.
Jadi ceritanya, setelah nggak puas bahkan menyisakan kegundahan hati luar biasa, setelah periksa di dokter mata yang ada di klinik Azzahra Baubau. Si Adik kan didiagnosa mata malas oleh dokter mata di situ.
Dan bukan sekadar diagnosa, tapi disuruh untuk segera ke Makassar, kalau perlu minggu ini juga, jangan ditunda-tunda, takut anak nggak bisa melihat selamanya.
Wuih, dibilang gitu, tentu saja saya panik, sekaligus dongkol. Karena dokternya terburu-buru banget, nggak jelas mau ke Makassar kan ke mana?, atau setidaknya buatin rujukan kek.
Baca juga : Ketika Adik Dayyan Didiagnosa Mata Malas Dengan Penuh Drama
Daripada kesal dan bingung berlama-lama, maka saya putuskan cari second opinion di dokter spesialis mata lainnya.
Banyak orang menyarankan ke Siloam aja, dan hari itu juga saya cari nomor WA Customer Service RS Siloam.
Ketemu, nomornya CS RS Siloam adalah 0812 4139 6767.
Hari Minggu saya WA, tanyain dokter spesialis mata siapa aja yang praktik di Siloam, jam praktik nya kapan. Dijawab hari Senin, tapi cuman mengabari kalau dokter yang praktik ada dokter Yosy dan dokter Humairah.
Saya tanya jadwalnya kapan dan biayanya kira-kira berapa, eh nggak dijawab lagi. Akhirnya, saya putuskan untuk langsung bertanya di tempatnya di hari Rabu, 4 Maret kemaren.
Syukurlah, petugas yang bekerja di RS tersebut sangat ramah, ketika saya masuk dan bertanya di Mbak-Mbak front office tentang CS nya, langsung diarahkan dengan ramah ke meja CS-nya.
Mbak CS-nya menerima saya dengan sangat sopan dan ramah, bertanya tentang keperluan saya. Dan ketika saya menanyakan, tentang apakah ada alat yang bisa mengukur masalah mata malas ke anak. Si Mbaknya segera menelpon ke asisten dokter mata, dan katanya ada.
Sayangnya, Mbaknya nggak bisa menjelaskan secara rinci tentang alat-alat yang ada di RS tersebut, dan meminta agar saya ketemu dokter spesialis mata untuk lebih jelasnya.
Saya tanyakan, siapa dokter mata yang paling sering dicari pasien di RS Siloam, katanya keduanya sama, namun karena dokter Humairah baru bergabung dengan RS Siloam, jadinya kebanyakan pasien memilih dokter Yosy yang menangani mereka.
Namun untuk jadwal dokter Yosy di Rabu dan Jumat tuh harus operasi, jadi nggak ada di polinya. Jadi saya disarankan datang keesokan harinya.
Saya tanya lagi, berapa perkiraan biaya ke poli dokter mata, si Mbak CS cuman bisa menjelaskan biaya jasa dokternya 140ribu, ditambah administrasi 21ribu. Namun, untuk biaya keseluruhan tak bisa dijelaskan, karena ada juga biaya tindakan dan obat.
Ya udahlah, setidaknya saya sudah bisa mengira-ngira, kalau minimal biayanya masih di bawah 500ribu, terutama kalau nggak perlu pakai obat.
Pengalaman Mendaftar Sebagai Pasien Umum Di RS Siloam Baubau
Kamis, 05 Maret 2026 kemarin, saya dan si Adik datang ke RS Siloam Baubau dan sampai pukul 08.30. Pas nyampe pintu masuknya, saya melihat seseorang yang saya kenal di meja dekat pintu.
Ternyata keponakan saya, anak kakak sepupu yang merupakan lulusan Rekam Medis, dan sudah bekerja kurang lebih 3 bulanan di RS Siloam.
Ketika melihat saya, segera dia membantu saya untuk mendaftar dengan meminta KTP anak dan nomor HP saya. Awalnya terjadi sedikit negosiasi, ponakan saya mengatakan kalau pasien awal biasanya diarahkan ke dokter Humairah.
Tapi saya bersikeras mau ketemu dokter Yosy, biar nggak drama lagi. Akhirnya dimasukin ke antrian dokter Yosy, meskipun harus nunggu sampai pukul 10.45an.
Btw, saat itu masih 08.30an, hahaha.
Tapi nggak masalah sih, ketimbang memaksakan ke dokter lain, terus ternyata kurang puas juga. Bukan berarti dokter lain nggak bagus ya, tapi saya ingin mengikuti rekomendasi banyak orang yang mengatakan dokter Yosy paling sering dicari pasien.
Nggak lama menunggu, masuk WA dari nomor RS Siloam dan baru deh saya ingat, kenapa cobak saya nggak cobain daftar sejak kemarenan dari website atau aplikasi My Siloam? *duh.
Setelah selesai, keponakan saya datang memberikan kertas antrian, dan meminta saya ke counter 11 untuk dilakukan penimbangan berat badan anak.
Saya dan si Adik segera menuju ke tempat yang dijelaskan, berada di bagian kanan bangunan, melewati beberapa counter paling ujung.
Sesampai di sana, saya meletakan kertas di keranjang yang disediakan, dan tak lama kemudian nama si Adik dipanggil.
Seorang perawat meminta si Adik naik ke timbangan, setelah melepas tas dan sepatunya. Ternyata berat si Adik 28,8 kg dan tingginya 129 cm. Setelahnya si Adik diarahkan masuk ke sebuah ruangan, untuk diukur saturasinya. Saya lupa berapa saturasinya, karena fokus menjelaskan keluhannya kepada mbak perawatnya. Syukurlah perawatnya sangat ramah dan menyimak semua keluhan saya dengan sangat baik.
Setelahnya saya diminta menunggu di ruang tunggu, katanya akan dipanggil nomornya, dan akan terlihat di monitor TV yang ada di beberapa counter.
Lalu mulailah petualangan menunggu dokter ala kami, yang ternyata lamaaaaa banget, karena ada 9 antrian di depan kami.
Ada kali setengah jam menunggu, baru terlihat nomor antriannya mulai berjalan. Saya memantau antrian melalui monitor TV serta website siloam dengan menyecan lembar antrian yang diberikan rekam medis.
Dan setelah menunggu 3 jam lebih, akhirnya nama si Adik dipanggil.
Sungguh ya, lain kali kalau mau ke RS Siloam, mending daftar aja dari aplikasi Mysiloam. Nantinya kita bisa datang sesuai rentang waktu yang tertulis di nomor antrian kita. Jadi nggak kelamaan antri di RS.
Pengalaman Konsultasi dan Pemeriksaan Mata Anak oleh dr. Yosylina Pramudya Wardhani, Sp.M.
Setelah mendengar nama si Adik dipanggil, kami segera menuju ruang 2 yang merupakan ruangan dokter Yosy, dan dasar saya udah mabok nunggu kali ya, bisa-bisanya saya nyasar ke ruangan 1, untung diingatkan banyak perawat di Nurse Station dekat situ, hahaha.
Saya masuk ruang 2 dan disambut dengan ramah oleh dokter Yosy.
Ternyata, berbeda dengan fotonya di medsos Siloam Baubau, tampang asli dokter Yosy jauh lebih cantik dan adem dengan hijabnya.
Cara bicaranya tegas dan cepat, tapi tidak terkesan hanya terburu-buru, karena menyimak semua keluhan saya dengan baik, disertai pandangan menyimak ke wajah dan mata saya.
Saya lalu menceritakan kembali keluhan si Adik, yang mulai dari saya mendapatkan informasi dari wali kelasnya, kalau si Adik sepertinya kesulitan melihat tulisan di papan tulis.
Lalu kemudian saya periksa di optik Melawai dan tau ukuran matanya -1,25 dan -0,25 dengan silinder 2. Lalu periksa juga di optik Internasional dan diberitahu ukurannya -0,75 kedua mata.
Baca juga : Pengalaman Periksa Mata Anak di Optik Melawai Lippo Plaza Baubau dan Optik Internasional Baubau
Kemudian saya jelaskan juga, karena bingung saya ke dokter Sulianty di klinik Azzahra, kemudian didiagnosa mata malas oleh dokter, dan diharuskan segera ke Makassar.
Masalahnya dokternya nggak kasih tahu, di Makassar ke mana, mau diapain dan gimana?.
Setelah menyimak cerita saya, yang memang saya ceritakan dengan gaya bicara saya yang cepat, klop juga dokter Yosy juga ngomongnya cepat banget.
Dokternya meminta perawat atau asistennya kali ya, untuk mengukur mata si Adik. Dengan ramah si Adik diminta duduk di kursi yang ada di ruangan tersebut, karena kursinya memang untuk orang dewasa, jadinya si Adik nggak nyampe di alatnya.
Dokter meminta si Adik melepas sepatunya agar bisa naik ke kursi, dan baru aja naik kursi, dia langsung menempelkan dagunya di alat yang ada di depannya.
![]() |
| Fotonya diblur ya, karena lupa izin ke dokternya |
Dokter Yosy ketawa melihat sikap semangat diperiksa si Adik, hahaha.
"Saking udah periksa berkali-kali nih, Dok, jadi dia udah hafal dan familier, hahaha!", kata saya.
Asisten dokter mulai meminta si Adik untuk membaca beberapa tulisan yang ada di dinding, namun si Adik kesulitan membaca. Sampai akhirnya setelah kedua matanya diukur oleh perawat, gantian dokter Yosy sendiri yang mengukur mata si Adik, diganti beberapa lensa sampai akhirnya ketemu lensa yang cocok.
Dengan lensa itu, si Adik disuruh melihat ponsel, dan katanya nyaman aja. Gantian dikasih buku dengan beberapa jenis ukuran tulisan, mulai dari yang besar hingga yang kecil.
Si Adik lalu antusias membaca buku itu, kebetulan juga ceritanya bagus, dibacanya dengan mengenakan lensa yang dipakaikan, dengan jarak baca yang aman.
Sambil menunggu si Adik antusias membaca, dokter lalu menjelaskan bahwa dia akan memberikan resep buat si Adik pakai kacamata.
Saya nanya, minus berapa?.
Ternyata dokter hanya ingin fokus ke silindernya dulu, karena silindernya tinggi banget, satunya 2,5 dan mata satunya 3,5.
Ketika saya tanya, gimana dengan mata malasnya?.
Menurut dokter Yosy, belum perlu ada terapi mata malas, karena kalau diperiksa masalahnya tuh lebih ke kesulitan melihat jauh karena silindernya yang tinggi. Memang, jika dibiarkan ada kemungkinan menjadi mata malas, tapi untuk saat ini cukup diterapi pakai kacamata tanpa henti 24 jam selain mandi dan tidur saja.
Selain itu, dokter Yosy juga bertanya dengan hati-hati tentang si Adik,
"Kalau boleh tau Bu, gimana dengan screen time adeknya?"
"Dia jarang screen time kok Dok, matanya ini kayaknya gegara suka baca tapi di tempat yang cahayanya kurang", jawab saya.
"Wah bagus itu!", jawab dokternya.
"Bagus, tapi akhirnya matanya kayak gini deh, Dok", kata saya, sedih.
"Iya sih, nanti dikoreksi cara membacanya, nggak boleh di tempat yang cahayanya kurang, dan jarak bacanya harus aman. Tapi, anak suka baca itu bagus banget, karena di zaman sekarang, kebanyakan anak lebih suka main HP!"
"Saya bahkan kesulitan melarang anak saya main HP loh!", lanjut dokternya.
Konsultasi kami akhirnya berakhir, dengan solusi si Adik dikasih resep kacamata ukuran silinder, yang harus dipakai tanpa henti setiap harinya.
Lalu, setelah 6 bulan kemudian, kami diminta untuk kontrol kembali, semoga dengan pemakaian kacamata tanpa henti, bisa bikin mata si Adik jadi membaik.
Dokter Yosy juga meresepkan obat tetes mata, tapi saya tolak karena masih punya stock yang dapat dari konsultasi dokter sebelumnya.
Demikian deh, selesai pula konsultasi kami.
Biaya Konsultasi dan Pemeriksaan Mata Anak oleh dr. Yosylina Pramudya Wardhani, Sp.M. di RS Siloam Baubau
Saya keluar dari ruang dokter dengan membawa kertas resep kacamata, kemudian diarahkan ke counter 10. Dari counter 10 kami diarahkan ke counter 9 untuk pembayaran.
Dan berikut biaya konsultasi dan pemeriksaan mata ana oleh dokter Yosy di RS Siloam,
1. Diagnosa: Rp. 232.000,-
- Eye - auto refraktor : 76.000,-
- Eye - Slit lamp : 57.000,-
- Eye - Refraksi Subjective : 99.000,-
2. Consultation and visit: Rp. 140.000,-
3. Admin charge: Rp. 21.000,-
Total : Rp. 393.000,-
Kesan-Kesan Menjadi Pasien dr. Yosylina Pramudya Wardhani, Sp.M. di RS Siloam Baubau
Tak lengkap rasanya jika tanpa memberikan kesan-kesan setelah konsultasi dengan dokter salah satu dokter spesialis mata di RS Siloam Baubau, dr. Yosylina Pramudya Wardhani, Sp.M.
Dan begini kesan saya:
- Dokternya asyik, cocok buat saya untuk konsultasi, karena ramah dan perhatian, tegas tapi sopan.
- Ngomongnya cepat, tapi nggak terkesan buru-buru, masih mendengarkan keluhan pasien dengan peduli.
- Tidak memaksakan diagnosa tanpa banyak mendengarkan keluhan pasien.
- Tidak menghakimi, tapi mendengarkan dan menasihati dengan sopan.
- Meski bukan dokter spesialis mata khusus anak, tapi pendekatan dengan anak lebih baik.
Over all, saya puas berkonsultasi dengan dokter Yosy, dan bisa merekomendasikan bahwa dokter Yosy adalah dokter spesialis mata terbaik di Baubau.
Kesimpulan dan Penutup
Pengalaman periksa dan konsultasi dengan dokter spesialis mata di Siloam mengajarkan satu hal penting, yaitu jika menyangkut kesehatan anak, mencari second opinion itu sangat wajar dan perlu.
Apalagi jika diagnosa pertama bikin kita panik tanpa penjelasan yang cukup jelas. Dengan memeriksakan kembali ke dokter lain, setidaknya kita bisa mendapatkan gambaran yang lebih lengkap sebelum mengambil keputusan besar.
Pengalaman ini juga memberikan sedikit ketenangan buat saya. Bukan hanya karena penjelasannya lebih runtut dan mudah dipahami, tapi juga karena pendekatan dokternya yang mau mendengarkan cerita pasien dengan baik sebelum mengambil kesimpulan.
Soal biaya, ternyata berobat sebagai pasien umum di RS Siloam Baubau masih cukup masuk akal, setidaknya untuk konsultasi dokter spesialis mata dan pemeriksaan dasar seperti yang kami jalani. Total sekitar Rp393.000, yang menurut saya masih sebanding dengan pelayanan, fasilitas, serta penjelasan medis yang didapatkan.
Sekarang PR saya adalah memastikan si Adik disiplin memakai kacamata setiap hari sesuai anjuran dokter, serta memperbaiki kebiasaan membaca agar tidak lagi di tempat yang cahayanya kurang. Semoga dalam 6 bulan ke depan kondisi matanya bisa membaik dan tidak berkembang menjadi masalah yang lebih serius.
Buat parents yang mungkin sedang mengalami kebingungan serupa, semoga pengalaman ini bisa sedikit membantu memberikan gambaran. Kadang yang kita butuhkan bukan hanya pengobatan, tapi juga penjelasan yang membuat hati lebih tenang. Dan bagi saya pribadi, konsultasi dengan dr. Yosylina Pramudya Wardhani di RS Siloam Baubau kali ini memuaskan.
Baubau, 06-03-2026







Post a Comment for "Pengalaman dan Biaya Periksa Mata Anak di RS Siloam Baubau"
Link profil komen saya matikan ya Temans.
Agar pembaca lain tetap bisa berkunjung ke blog masing-masing, gunakan alamat blog di kolom nama profil, terima kasih :)