Ketika Adik Dayyan Didiagnosa Mata Malas (Amblyopia) Dengan Penuh Drama
"Ini harus segera ke Makassar, dia kena amblyopia, bahasa awamnya mata malas, itu berbahaya, segera diperiksa di Makassar, sebelum terlambat, karena anak tidak bisa liat nanti, dan tidak bisa diapa-apain!"
Karuan saja saya panik setengah mati, ketika mendengarkan diagnosa seorang dokter mata di sebuah klinik medis swasta di kota Baubau, beberapa waktu lalu.
Ketika Adik Dayyan Didiagnosa Mata Malas (Amblyopia)
Seperti yang saya ceritakan di postingan sebelumnya, kalau saya mendapatkan kabar dari guru si Adik, kalau dia kesulitan melihat tulisan di papan tulis.
Alhasil, saya segera ke optik Melawai untuk periksa ukuran matanya. Tapi karena petugasnya nggak yakin, jadi disarankan konsultasi ke dokter mata dulu.
Awalnya saya denial, coba ke optik Internasional juga, dan ternyata hasil ukuran mata si Adik beda banget dengan optik Melawai.
Baca juga : Pengalaman Periksa Mata di Optik Melawai dan Optik Internasional di Baubau
Karena makin bingung dengan ukuran yang berbeda, jadinya saya putuskan untuk ke dokter mata aja dulu.
Mulailah saya searching dokter spesialis mata di Baubau, nanya-nanya teman-teman, dan menurut informasi yang saya dapatkan, ada 3 faskes yang menjadi tempat praktik dokter spesialis mata di kota Baubau.
Ada di RS Palagimata atau RSUD kota Baubau, RS Siloam dan Klinik Utama Azzahra.
Setelah mikir-mikir, saya memutuskan untuk berkonsultasi ke dokter spesialis mata di Klinik Utama Azzahra, alasannya tentunya dalam segi biaya ya.
As we know, Siloam tuh terkenal dengan biaya yang lumayan pricey, meskipun pelayanannya memang terkenal paling ramah.
Sementara di RS Palagimata, meski ada kakak saya di sana, tapi memang lokasinya lebih jauh, prosedurnya juga mungkin lebih panjang. Serta pasiennya lebih banyak karena di sana memang merupakan pusat rujukan semua pasien di kepulauan Buton.
Jadi saya putuskan untuk konsultasi di klinik Azzahra aja, nggak peduli dokter matanya siapa aja.
Sebelumnya saya sempatkan mampir dan bertanya dulu, kebetulan saat itu diterima oleh adminnya, dan dijelaskan bahwa biaya konsultasi dokter spesialis mata di situ adalah 200ribu, belum termasuk obat-obatan. Sementara biaya admin sudah include.
Karena saya bekerja di klinik medis juga, dan paham banget kalau biaya konsultasi dokter spesialis tuh memang rata-rata 200ribuan. Tapi biasanya ada tambahan jasa perawat dan adminisrasi. Jadi jika biaya yang ditagihin cuman 200ribu all in, harusnya murahlah.
Periksa Mata Adik Dayyan Di Klinik Utama Azzahra Baubau
Dan begitulah, Senin 2 Maret 2026 kemaren, sekitar pukul 16.00 WITA, datanglah saya ke klinik Azzahra yang berada di jalan Seram no. 21, Baubau.
Saat itu terlihat ada beberapa pasien yang antri, tapi memang semuanya orang dewasa bahkan lansia.
Saya diterima oleh seorang mbak-mbak administrasi, dia meminta saya mengisi form persetujuan. Dengan lancar saya isi, meskipun sedikit kesal karena Mbaknya terlihat jutek dan dengan sikap nggak sopan. Dia mengangkat kakinya di depan saya, yang mana karena mejanya kecil, of course keliatan nggak sopan banget.
I know sebenarnya saya harus fokus aja ke masalah konsultasi dokter, tapi cerita ini penting, karena akan terakumulasi semuanya yang berkaitan dengan bagaimana saya merespon diagnosa dokter.
Saya mengisi form tersebut dengan lancar, karena yes, di klinik kami, tugas saya ya ngisi form itu, hahaha.
Setelah saya isi, kemudian diminta menunggu.
Karena kliniknya memang kecil banget, dan pasiennya lumayan banyak, alhasil saya dan Adik Dayyan nunggu di luar.
Syukurlah nggak lama kami nunggu, terdengar panggilan nama si Adik. Saya segera ke dalam menanyakan apakah saya dipanggil?.
Mbak adminnya mengiyakan, dan meminta saya masuk ke ruangan, karena bingung Mbaknya terpaksa mengantar saya ke ruangan periksa yang terletak di bagian belakang.
Pas masuk, saya langsung disambut oleh seorang ibu-ibu yang langsung memerintah si Adik untuk segera bersiap diperiksa.
Jujur di sini, level kedongkolan saya mulai naik.
Si ibu yang saya pikir adalah dokter, sama sekali nggak nyapa saya, nggak nanya keluhan saya, bahkan nggak ngasih tahu, saya harus duduk di mana, meanwhile di ruangan itu, ada meja dan 2 kursi yang berhadapan, tapi saya nggak ngerti, di bagian mana nih kursi buat pasien.
Karena bete, akhirnya saya cuman berdiri sambil memperhatikan si Adik yang mulai diperiksa oleh si ibu dengan diminta mengenakan kacamata yang lensanya bisa diganti-ganti.
Dan jangan tanya gimana kebingungannya si Adik.
Btw, itu adalah kali ke-3 dia periksa mata, dan baru kali ini periksanya udah berasa kayak dar der dor, cepet-cepet banget.
Kasian si Adik, belum juga memproses apa yang diperintahkan si ibu, kacanya udah diganti.
Dan ketika selesai, saya diminta menunggu di luar, barulah saya ngeh ternyata si ibu itu bukan dokter, sepertinya perawat. Saya nanya dong, berapa ukuran mata si Adik? katanya minus -125 kedua matanya.
Waoooo, makin beda lagi.
Ketika saya bertanya, kok beda ya dengan pengukuran di optik?, katanya nanti aja dijelasin oleh dokternya. Oke, akhirnya saya keluar dan menunggu di luar.
Ada kali 45 menit saya nunggu, sampai akhirnya nama si Adik dipanggil.
Kali ini, saya diantar oleh kedua orang ke ruangan tersebut, ada Mbak admin dan perawatnya. Dan berbeda dengan sebelumnya, si Mbak admin dan perawat terlihat lebih ramah, mulai ada senyumnya.
Hati saya kembali nyaman, dan melangkah dengan semangat ke ruangan dokter.
Di dalam ruangan, saya dipersilakan duduk di kursi yang ada di depan dokter. Dan belum juga sempat buka mulut menceritakan masalah si Adik, dokternya udah nyerocos duluan.
"Ini keluhannya apa?"
"Coba ke sini kamu, berdiri di sini!" dokter meminta si Adik berdiri di depan sebuah alat lain yang berada di dekat meja dokternya, lalu saya nggak seberapa perhatikan lagi apa yang dokter itu lakukan, sepertinya dia menyenter matanya.
Sementara saya mulai nyerocos menceritakan masalahnya, bahwa si Adik kesulitan melihat tulisan di papan tulis, kata gurunya matanya suka dipicingkan (sepertinya dokternya fokus ke kata 'dipicingkan' ini).
Lantas,
"Duh masih kecil kok minusnya sudah tinggi banget, ini harus di bawah segera ke Makassar, anaknya kena mata malas!"
Saya blank, bingung memproses ucapan si dokter.
Sepertinya saya menjawab gini,
"Hah, kok bisa Dok?"
"Iya, adeknya larang dulu main HP, ini kebanyakan main HP ya?"
Deg, rasanya tensi saya mulai naik,
"Enggak Dok, anak saya selalu terkontrol screen time-nya, masalah matanya ini sepertinya dari kebiasan membaca buku dengan cahaya kurang!"
"Iya, di depan ibu kan bisa saja anak nggak main HP, tapi mana ibu tau di belakang ibu, ketika dia sama teman-temannya?", kata si dokter.
"Insya Allah kalau HP terkontrol, Dok. Anak ini ikut saya hampir 24 jam", jawab saya, tetap nggak terima.
"Intinya segera ke Makassar, Bu, jangan ditunda-tunda lagi" kata dokternya lagi.
"Kalau saya minta resep kacamata aja dulu, Dok, gimana?, karena mungkin nanti kenaikan kelas baru bisa kontrol ke kota lainnya!"
"Iya, saya bikinkan resep kacamata, tapi kalau saya harus segera ke Makassar, biar diukur dengan baik masalah mata adeknya, jangan ditunda-tunda, kalau terlambat tidak bisa diapa-apain, dioperasi juga tidak bisa, akhirnya ya tidak bisa lihat!", dokternya memberikan nasihat sambil menulis resep kacamatanya.
Saya udah lupa apa yang saya lakukan saat itu, rasanya saya terdiam saja, karena udah mix feeling banget.
Belum juga reda kesalnya dituduh anak main HP mulu, eh disuruh segera ke Makassar dengan alasan di Baubau nggak ada alat yang bisa digunakan buat ukur mata malas pada anak.
Saya masih pengen banyak bertanya, tapi sepertinya dokternya sangat buru-buru, mungkin karena pasiennya banyak, dan waktu sudah menunjukan pukul 5 lebih, bentar lagi bakalan buka puasa.
Alhasil saya nurut saya disuruh keluar, dan diminta ke kasir apotik untuk ambil obat bayar biaya dokternya.
Saya berjalan dengan linglung ke rak apotik, sebenarnya masih banyak pertanyaan berkecamuk di kepala saya. I mean, kalau ke Makassar ini ke mana? ke dokter siapa?, klinik atau RS mana?, bawa apa?.
Tapi langkah saya sudah sampai di depan rak apotek.
Drama di Kasir Apotek
Dengan seidkit linglung, saya tiba di hadapan (mungkin) apoteker, seorang lelaki yang sepertinya berusia sekitar 30an atau 40an?.
"Bayarnya di mana ya?" tanya saya.
"Bayar di sini, Bu!" jawabnya.
"Ini obatnya ya!", sambungnya, dengan muka datar.
"Wah banyak ya obatnya, ini pemakaiannya gimana?", tanya saya.
"Ya ini, makanya saya baru mau jelasin", si apotekernya menjawab dengan nada meninggi.
Saya ke-trigger, udahlah ini masih linglung dengan diagnosa dokter dan penjelasan yang sebenarnya nggak memuaskan, eh dihadapkan dengan ke-tantrum-an apotekernya.
Tapi saya masih bisa diam, dan mendengarkan penjelasan apotekernya.
"Ini obat tetesnya diteteskan ke mata 6 kali sehari, vitaminnya satu kali sehari, setiap pagi habis sarapan", jelasnya.
Saya diam mendengarkan perkataannya.
"Totalnya 400ribu!"
"Bisa QRIS"? tanya saya, sebenarnya ini lebih ke pernyataan kalau saya mau bayar pakai QRIS karena sebelumnya udah nanya di admin, dan katanya bisa pakai QRIS.
"Tidak bisa!", jawabnya ketus.
"Lah, katanya tadi bisa, terus saya bayarnya gimana dong?", jawab saya.
"Memang tidak bisa!, bayar transfer saja, ini nomornya!", jawabnya sedikit meninggi dan ketus.
Wah kali ini saya udah nggak bisa diam,
"Ya kan wajar saya nanya, Mas, nggak usah marah-marah, kalau saya kerja di sini, pasti paham, nggak perlu nanya!", jawab saya dengan intonasi mulai meninggi.
"Iya ibu, bayar transfer bisa!", si apoteker mulai menurunkan intonasinya.
"Lagian, ngapain sih marah-marah sejak tadi, abis ini saya review ya klinik ini, termasuk sikap jutek masnya!", kata saya, kesal.
Baru deh sikapnya makin lunak, mulai menampakan senyum, meskipun kaku banget.
"Saya minta invoice ya, yang detail biayanya, dokternya berapa, obatnya berapa?", kata saya.
Nah loh, si Rey yang sering bikin invoice dengan detail mulai beraksi.
"Iya bu, ini saya bikinkan!"
Biaya Pemeriksaan Mata Anak di Klinik Azzahra Baubau
Terlihat si mas apoteker ini mengambil kwintasi, menulis tanda terima pembayaran, dan dibelakangnya dilengkapi dengan rincian biaya yang ditagihkan.
Dan begini biayanya.
- Obat / vitamin, Optalvit : 105.000,-
- Obat tetes mata, Cendo Lytters (2) : 70.000,-
- Biaya konsultasi dokter : 200.000
- Administrasi : 25.000,-
Baca juga : Pengalaman dan Biaya Konsultasi Dokter Spesialis Dokter Gigi Anak di Surabaya
Apa Itu Mata Malas (Amblyopia) Pada Anak?
Setelah pulang, saya penasaran dong dengan apa itu mata malas atau amblyopia pada anak?. Saya browsing-browsing deh, sekalian sharing di medsos, berharap banyak teman-teman yang sharing pengalaman jika pernah punya masalah yang sama.
Amblyopia merupakan gangguan penglihatan yang muncul pada anak. Seringnya terjadi pada salah satu mata anak. Di dunia medis, amblyopia dikenal dengan sebutan sindrom mata malas.
Adapun amblyopia biasanya terjadi, karena kerja otot mata dan saraf otak tidak sinkron. Hal ini menyebabkan salah satu mata mengalami penurunan kemampuan untuk melihat.
Kondisi ini sering dialami oleh bayi baru lahir hingga berusia 7 - 15 tahun. Akan tetapi kalau dibiarkan tanpa penanganan, amblyopia bisa ada hingga dewasa.
Apa Penyebab Mata Malas Pada Anak?
Setidaknya ada 3 penyebab mata malas pada anak, yaitu:
- Mata juling, biasanya ditandai dengan penglihatan ganda. Dan karena menghindari penglihatan ganda tersebut, otak mengabaikan sinyal visual dari mata yang bermasalah. Karena itulah mata tersebut lama-lama akan mengalami penurunan penglihatan.
- Gangguan refraksi, biasanya diakibatkan karena perbedaan ketajaman penglihatan mata, seperti rabun jauh, rabun dekat, atau astigmatisme. Karena perbedaan tersebut, otak akan mengandalkan mata yang penglihatannya lebih jelas untuk melihat. Dan mata satunya terabaikan, sehingga memicu terjadinya mata malas.
- Kondisi medis lain, di mana masalah pada mata yang membuat penglihatan menjadi terganggu, seperti katarak atau kelopak mata turun (ptosis).
Gejala Mata Malas Pada Anak
Seperti penjelasan di atas, bahwa penyebab mata malas ini kan karena penglihatan mata anak tuh berbeda tajamnya satu sama lainnya, sehingga akan menimbulkan gejala seperti:
- Anak sering memicingkan atau menyipitkan mata ketika melihat sesuatu.
- Anak sering menutup sebelah mata saat melihat sesuatu.
- Anak sering memiringkan kepala saat melihat.
- Mata anak terlihat tidak sinkron (mata juling).
- Mata anak terlihat sayu
Kesimpulan dan Penutup
Pengalaman memeriksakan mata si Adik Dayyan dan didiagnosa mata malas oleh dokter, benar-benar meninggalkan banyak mix feeling buat saya. Panik, kesal, bingung, bahkan sempat merasa seperti parents yang gagal menjaga anak. Padahal niat saya datang ke dokter justru untuk mencari kejelasan dan diskusi.
Diagnosa tentang amblyopia atau mata malas memang bukan hal yang bisa dianggap remeh. Dari yang saya baca, kondisi ini memang perlu ditangani sejak dini agar tidak berdampak pada penglihatan anak di masa depan. Tapi sebagai parents, tentu kita juga butuh penjelasan yang jelas, tenang, dan tidak menambah rasa takut yang berlebihan.
Lesson learning buat saya, ketika menyangkut kesehatan anak, parents memang harus aktif mencari informasi dan tidak ragu mencari second opinion. Apalagi ketika hasil pemeriksaan berbeda-beda, seperti yang saya alami antara dua optik dan dokter mata.
Karena yang paling kita inginkan hanyalah agar anak-anak kita bisa tumbuh sehat, melihat dunia dengan jelas, dan menjalani masa kecilnya dengan nyaman tanpa rasa sakit atau ketakutan.
Dan buat parents yang mungkin sedang mengalami hal serupa, semoga cerita ini bisa menjadi pengingat bahwa panik itu manusiawi, tapi mencari informasi yang tepat jauh lebih penting. Jangan ragu bertanya, jangan takut mencari pendapat dokter lain, dan tetap tenang dalam mengambil keputusan untuk kesehatan anak.
Baubau, 05-03-2026
Sumber Referensi:
- Pengalaman pribadi
- https://www.alodokter.com/amblyopia-mengenal-penyebab-gejala-dan-pengobatannya diakses 05-03-2026








Post a Comment for "Ketika Adik Dayyan Didiagnosa Mata Malas (Amblyopia) Dengan Penuh Drama"
Link profil komen saya matikan ya Temans.
Agar pembaca lain tetap bisa berkunjung ke blog masing-masing, gunakan alamat blog di kolom nama profil, terima kasih :)