Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Menyesal Setelah Menikah dan Punya Anak Nggak Guna, Lakukan Ini!

Konten [Tampil]

menyesali pernikahan

Menyesal setelah menikah? kayaknya banyak dipikirkan para istri di zaman sekarang. Mungkin juga para suami sih, bedanya mereka biasanya lebih memendam rasa itu.

Kalau istri kan memang lebih suka mengeluarkan isi hatinya, kalau enggak curcol sama bestie-nya, ya curhat di medsos.

Curhat di medsos pun nggak melulu kek si Rey yang menjadikannya sebuah tulisan di status facebook atau blog. Kebanyakan sih para istri curhatnya di grup, atau di kolom komentar postingan orang lain, hehehe.

Setiap ada konten yang mempertanyakan tentang pernikahan, atau apa yang disesali dalam hidup. Atau juga apa yang ingin diubah kalau punya kesempatan kembali ke masa lalu.

Banyak yang berkomentar bahwa yang disesali adalah menikah, ada juga yang ingin kembali ke masa lalu dan nggak mau menikah.

Saya jadi overthinking sendiri ketika membacanya, lalu ikut bertanya, apakah saya juga menyesal setelah menikah, terutama setelah punya anak?.

Well, sebelum saya menjawab, kayaknya akan lebih baik jika kita mencari tahu akar penyesalan tersebut.


Ketika Pernikahan Tak Seindah Ekspektasi

Kalau dipikir-pikir, akar mula dari penyesalan telah menikah dan punya anak tuh, keknya bersumber dari satu hal nggak sih?. Yaitu, karena pernikahan yang dijalani, ternyata nggak seindah ekspektsi sebelumnya.

pernikahan tak seindah harapan

As we know
kan ye, hampir semua orang menikah ya dengan tujuan untuk menjalani hidup bersama dengan bahagia.

Hal ini dikarenakan, ketika sebelum menikah, kita sudah melihat banyak hal positif yang bikin kita yakin, kalau menikah dengan orang tersebut adalah terbaik untuk kita.

Sifatnya yang kita sukai, sesuai dengan harapan kita.

Apalagi, kalau pasangan kita punya kelebihan lain yang didambakan semua orang, misal good looking, kaya, sudah mapan dan punya modal sebelum menikah.

Tentunya ekspektasi kita bakalan sangat indah membayangkan bagaimana nanti kehidupan kita setelah menikah dengan orang tersebut.

Sayangnya, kita semua lupa, kalau kita manusia, menikah juga dengan manusia.

Setelah menikah, selamanya harus menjalani hidup bersama. Siang malam selalu ketemu orang yang sama. Mau nggak mau akhirnya kita bisa melihat dan merasakan langsung, semua hal tentang pasangan kita.

Bukan hanya hal-hal yang positif, tapi juga kekurangan dia, yang mungkin selama pendekatan belum sempat terlihat.

Keadaan makin bertambah runyam, ketika tanpa sadar kita pun akhirnya memperlihatkan semua kekurangan diri, yang mungkin pasangan kita belum pernah tahu sebelumnya.

Sikap kita, yang kadang luput dari kesadaran bahwa itu mengganggu buat pasangan kita, seperti itulah juga mungkin yang dialami pasangan kita. Ketika kekurangannya mengganggu kita, tapi dia tak sadar dan merasa itu penting buat kita.

Lama-lama, sikap tersebut menghilangkan semua rasa cinta yang pernah ada, meskipun perlahan. Ketambahan ada sosok baru yang mendekat dan menjadikan kita sebagai pembanding orang tersebut.

Dan begitulah, perlahan tapi pasti, kehidupan pernikahan yang tadinya indah dalam impian dan ekspektasi, berubah jadi bagai kehidupan neraka yang tidak membahagiakan.

Hilang sudah impian dari ekspektasi kita, perlahan berubah menjadi penyesalan.

Penyesalan ini, seharusnya akan lebih mudah jika kita punya banyak support system yang selalu akan mendukung kita. Ada ortu yang siap menampung, ada pekerjaan yang menjadi pegangan hidup.

Tapi, penyesalan akan menjadi sebuah siksaan berkepanjangan, ketika kita tak punya support system, bahkan sengaja menjauhi keluarga demi pasangan, ditambah sudah punya anak.

Ujungnya? hanya bisa menyesal, lalu curhat di beberapa tempat baik dunia nyata maupun dunia maya.

Ah, andai ekspektasi kita tidak demikian, tapi benarkah semua hanya karena ekspektasi? dan bagaimana seharusnya kita bersikap?.


Menyesal Setelah Menikah dan Punya Anak itu Nggak Guna

Kenyataannya, menyesal setelah menikah dan punya anak itu sebenarnya nggak ada guna sama sekali. Hanya menambah luka di hati.

menyesal tak guna

Apalagi, yang kita lakukan hanyalah duduk diam menyesali dan menangisi semuanya. Mental jadi rusak, kehidupan semakin jauh dari kebahagiaan, anak-anakpun ikut merasakan hal yang tak bahagia.

Lebih sedihnya lagi, diri yang menyesal itu, dan tak melakukan apapun untuk itu, hanya akan membuat diri kita semakin jauh dari kebaikan.

Baik fisik maupun mental.

Mental tentunya terganggu, jadi suka marah-marah, bisa juga jadi malas, sukanya bengong, scroll medsos aja sampai lupa waktu.

Hal ini tentunya akan berdampak ke fisik, di mana tentunya akan membentuk penampilan diri yang tidak sedap dipandang mata. Jangankan mata orang lain, bisa jadi mata diri sendiripun kesal melihat diri sendiri.

Kebayang kan, bukan hanya nggak guna, tapi 'hanya menyesal' akan membuat diri jadi manusia yang 'enggak banget!'.

Karenanya, lakukanlah sesuatu.  


Mengatasi Perasaan Menyesal Setelah Menikah dan Punya Anak Ala MamiRey

Kebanyakan orang pasti akan berpikir untuk bercerai jika merasa pernikahannya tidak bahagia, sampai menyesali telah menikah.

Tidak ada yang salah dengan ini, selama semuanya telah diperhitungkan baik-baik, dipersiapkan 2 kali lipat dibandingkan persiapan ketika hendak menikah. Apalagi kalau udah ada anak ya.

Dan terlebih jika memang punya support system, ada keluarga yang bisa menjadi tempat untuk 'pulang'.

agar tidak menyesali pernikahan

Namun, bagaimana jika memang nggak punya support system sama sekali, belum mampu juga bisa hidup mandiri bersama anak-anak, seperti saya?.

Ya mau nggak mau, melakukan beberapa hal yang intinya berdamai dengan semua keadaan yang ada,

Begini yang bisa dilakukan:


1. Selalu mengingat masa bahagia setelah menikah

Cara terbaik untuk bisa selalu bahagia adalah dengan menikmati masa-masa bahagia yang ada. Ye kan, setidak bahagianya kita setelah menikah, tentunya ada dong masa-masa indah setelah menikah dengan pasangan.

Mengingat hal-hal yang indah amat sangat mempengaruhi mood, bikin kita melupakan kesedihan yang ada. Dan otomatis perasaan kita juga jadi lebih bahagia. 

Selain itu, mengingat masa bahagia, membuat cinta di hati kita untuk pasangan yang mungkin telah meredup, akan kembali bersemi dan menguatkan kita.


2. Selalu mengingat dan menikmati masa-masa indah bersama anak-anak

Menyesal telah punya anak, karena anaklah penyebab terbesar kebanyakan orang bertahan dalam pernikahan meski tidak lagi merasakan kebahagiaan.

Tapi, karena menyesalinya adalah hal yang tak berguna, mending diubah dengan selalu mengingat dan menikmati momen-momen bahagia bersama ana-anak.

Carilah momen itu, dan nikmati lebih lama.

Contohnya saya, yang akan selalu bahagia ketika bisa tidur memeluk anak-anak. Rasanya tenang banget, jika bisa tidur dan menyadari anak-anak ada di samping saya, dengan sehat dan bahagia.

Masa-masa itulah yang selalu saya nikmati dengan baik, sehingga terbit rasa syukur tak terhingga, karena sudah diberi kesempatan menjadi ibu dari anak-anak yang terhebat.


3. Fokus memperbaiki diri karena percaya janji Tuhan, orang baik untuk orang baik

Cara lainnya adalah dengan melepas ekspektasi ke pasangan, dan mulai fokus ke diri sendiri. Percantik diri, bahagiakan diri dengan hal-hal yang kita sukai dan bisa dilakukan.

Sehingga mood jadi lebih baik, hati bisa lebih sabar, wajahpun bisa lebih segar dan berseri-seri.

Semua hal baik yang kita terapkan di diri sendiri, dengan keyakinan penuh akan janji Tuhan. Bukankah Dia akan memberikan hamba-Nya jodoh yang menjadi cerminan dirinya?.

Jadi kalau kita baik, tentu saja jodoh yang diberikan adalah yang baik juga, insya Allah. 


4. Membayangkan sisi gelap jika belum menikah, salah satunya kehilangan semua masa indah yang ada saat ini

Cara lain untuk mengatasi penyesalan setelah menikah dan punya anak adalah, dengan membayangkan hal-hal yang menyedihkan ketika kita belum menikah juga.

Bisa dengan membayangkan kita tak pernah menikah, itu berarti nggak akan pernah memeluk anak-anak kita. Lalu, bayangkan bisa jadi anak-anak kita dititipkan ke ibu lain yang tidak lebih baik dari kita?.

Atau bisa juga dengan mencoba memahami keluhan wanita lain yang belum menikah di usianya yang tidak muda lagi.

Ini sering banget kita temukan di media sosial, di mana meskipun banyak yang mengatakan kalau belum menikah di usia 30 apalagi sampai 40 tahun adalah terbaik. Tapi kalau saya sendiri memikirkan diri belum menikah, lalu belum memeluk anak-anak. Adalah sebuah siksaan tersendiri, dan secara tidak langsung seketika menghadirkan rasa syukur di hati, karena sudah menikah dan punya anak.

Begitulah.


Surabaya, 19 April 2024

#FridayMarriage

Sumber: opini dan pengalaman pribadi

Gambar: Canva edit by Rey


4 comments for "Menyesal Setelah Menikah dan Punya Anak Nggak Guna, Lakukan Ini!"

  1. Ahh iyaa saya paham mbak rasanya, walaupun belum paham bagaimana rasanya memeluk anak kecuali anak hewan peliharaan saya hehe. Dirasa menyesal setelah menikah, tapi akan terasa sedih juga ketika kondisi saat ini masih belum menikah dan belum mencapai tahap hidup bersama pasangan (karena masih terbiasa dengan orang tua). Memang yah mbak, sejatinya bahagia itu memang harus dari hati dan diri sendiri :')

    Btw salam kenal mbak, aku mbak nana baru pertama kali mampir kesini hehe boleh follow backnya mbak? Makasih yaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. benerrrr, bahagia itu seharusnya dari diri kita, jangan berharap dari orang lain :)

      Delete
  2. Setujuuuu. Ibaratnya udah terlanjur, masa iya cuma mau ditangisi. Capeeeek. Ya mending cari solusi. Walopun mungkin blm bisa lepas, aku setuju dengan cara yg kamu tulis.

    Aku sendiri tiap berantem Ama suami, kdg kami diem2an 3 hari. Di situ awal2 aku pasti masih marah. Tp hari kedua, biasanya aku mulai tuh inget2 semua kebaikan dia. Dan selalunya berhasil Rey. Jadi sayang lagi, dan sedikit nyesel kenapa juga sampe berantem. Akhirnya hari ketiga, kami biasanya udh saling ngomongan 😄.

    Mengingat kebaikan lebih ampuh sih, drpd inget yg jelek2. Ntr marahnya jadi ga reda2. Dan itu capeeek.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau ketemu tuh jadinya nggak bisa marah lama-lama ya, kalau saya nih malah nyaman-nyaman aja nggak saling sapa, karena jauh hahaha

      Delete