Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Cerita Single Fighter Mom Working, Kerja Shift Bawa Anak

Konten [Tampil]

single fighter mom bawa anak ngantor

Sudah hampir 6 bulan saya kembali bekerja kantoran di sebuah klinik medis swasta di kota Baubau. Sebuah pekerjaan yang berbeda dengan background pendidikan saya, dan juga setelah 10 tahun menjadi IRT sejak terakhir kali resign dari kerja kantoran terakhir.

As you know, alasan saya resign sebelumnya dan menjadi ibu rumah tangga atau IRT adalah karena tak ada yang bisa mengurus anak dengan baik.

Lalu tentunya ketika saya kembali bekerja kantoran, mungkin ada yang bertanya-tanya, 

"Terus, anaknya gimana sekarang, siapa yang urus atau jaga?"

Fyi, ketika resign dahulu si Kakak masih berusia 5 tahunan, belum ada adik Dayyan. Lalu akhirnya 2 tahun paska resign, si Adikpun hadir.

Baca juga : Resign Tanpa Mikir

Tentu saja, setelah ada si Adik, nggak ada lagi rencana saya akan balik kerja kantoran, terlebih setelah menekuni dunia tulis menulis. Rasanya saya udah pasrah untuk mendalami dunia tersebut, nggak kepikiran sama sekali untuk kembali kerja kantoran.

Sayangnya ternyata rencana tak selalu selaras dengan realita. Nyatanya setelah 10 tahun kemudian, saya akhirnya kembali kerja kantoran di usia yang sangat tidak muda lagi, di tambah si Adik tetap saja belum ada yang bisa bantu jagain.

Si Adik berusia 7 tahun ketika saya kembali bekerja, awalnya sih ada tantenya yang bisa bantuin jaga. Sayangnya karena otak kotor orang terdekat, hubungan kami jadi renggang.

Saya akhirnya kembali menjaga sendiri si Adik, di mana dia ikut ke manapun saya pergi, termasuk bekerja kantoran.

Masalahnya adalah, jam kerja saya adalah shift-shift an. Ada kalanya pagi, lalu siang, juga malam. Ditambah si Adik juga harus sekolah, dan tentu saja saya sendiri yang harus antar jemput dia.

Di kantor, saya sering stres terutama ketika ada pasien dan si Adik ikut-ikutan mendekat ke pasien. Takut banget dia tertular penyakit, karena keuangan saya masih kocar kacir, takut juga kalau sakit bayar dokter pakai apa.

Untungnya, saat ini si Adik seringnya masuk siang. Dia masuk pukul 10.30 dan pulang pukul 13.30. 

Jika saya masuk shift pagi, maka dia akan bersiap lebih pagi dan ikut saya ke kantor sambil menunggu waktu masuk sekolah. Biasanya saya akan mencuri waktu untuk mengantarnya ke sekolah di pukul 10.00 pagi.

Namun kadang saya juga terpaksa mengandalkan ojek online ketika ternyata klinik sedang ramai.

Untungnya lagi, kota Baubau itu hampir tak pernah ada kemacetan, jadi saya hanya membutuhkan waktu sekitar 5-7 menit untuk mengantar atau jemput si Adik di sekolahnya jika dari klinik.

Meski demikian, ada juga masa-masa saya kesal, ketika masih pengen fokus bekerja, eh kok harus stop sejenak untuk antar atau jemput si Adik.

Atau ketika si Adik ada di klinik, dan yang dia lakukan kalau enggak fokus di depan komputer, ya dia sering dekat-dekat pasien.

Saya nggak enak sama teman-teman ketika si Kakak sibuk gunakan komputer, yang seringnya kalau enggak ngobrol sama ChatGPT ya, nonton YouTube kartun atau DIY kertas.

Kadang dia juga bikin-bikin sesuatu di scratch. Saya juga nggak mau matanya rusak karena seharian di depan komputer.

Baca juga : Ketika Harus Membawa Anak Ke Tempat Kerja

Jika sudah dilarang, si Adik seringnya marah dan banting-banting kaki, kadang juga nutup pintu dengan kencang yang ofkors memicu emosi saya.

Lalu ketika dia dilarang main komputer, dia akan keliling klinik, bermain pesawat terbang dari kertas. Kadang juga dia main dengan anak-anak teman kerja lainnya ketika diajak ortunya ke klinik.

Ketika main sama anak lain juga dia sering bikin bete, karena suka banget godain anak orang sampai nangis. Kasian sih sebenarnya, si Adik tuh kesepian karena dia cuman bisa ketemu teman di sekolah. Pulang sekolah dia nggak pernah punya teman main kecuali pas di klinik ada anak lain.

Hal lain yang menantang adalah ketika shift malam, si Adik tentu saja harus ikutan karena dia nggak berani tidur sendiri di kos (saya ngekos, btw).

Jadi ya kami tidur di mana saja, kadang di bed UGD, kadang di kamar perawat, kadang juga di ruang dokter. Sedih sih, gegara itu waktu tidur si Adik jadi terganggu, dia jadi sering tidur malam sampai pukul 12 malam karena nggak mau tidur kalau saya belum tidur.

Sementara nggak mungkin kan saya datang ke klinik, nyampe langsung tidur.

Ah begitulah, kata orang saya beruntung bisa kerja kantoran sambil urus anak. Tapi orang-orang mungkin tak paham bahwa tak ada pekerjaan yang orientasi uang banyak, kalau waktu kerjanya penuh dengan distraksi.

Nyatanya, saya bisa bawa anak ke sana ke mari dengan mudah ya, karena memang saat ini banyak waktu lowong di kantor. Coba saja kalau saya bekerja di perusahaan yang ramai, manalah bisa seperti ini.

Beruntung? bisa jadi, tapi kalau ditanya dengan penghasilannya? ya gitu deh, hahaha.

Intinya demikian, sesungguhnya kerja sambil bawa anak itu, nggak selalu baik. Entah itu buat saya sebagai ibu pekerja yang seharusnya memberikan kinerja profesional, maupun anak yang jadi tak bisa punya waktu istrahat normal dan lingkungan yang normal, karena harus berkutat dengan pekerjaan maminya.


Baubau, 26-01-26  


 

Post a Comment for "Cerita Single Fighter Mom Working, Kerja Shift Bawa Anak"