Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Adik dan Kakak Itu Berbeda!, Cerita Curhat Adik Dayyan

Konten [Tampil]
curhat adik dayyan bahwa dia berbeda dengan kakaknya

"Mami loh aslinya nggak tahu, kalau adek itu nggak sama kayak kakak!"

Si Adik memulai pembicaraan ketika kami dalam perjalanan pulang dari sekolahnya, siang tadi. Saya mempertajam pendengaran, mencoba melawan suara kendaraan lainnya di jalanan kecil tersebut.

Meski kami melewati jalan tembusan, ternyata ada banyak kendaraan juga yang lewat di jalan tersebut. Akibatnya suasana tetap bising, meskipun nggak separah di kota-kota besar lainnya.

"Hah, maksudnya gimana, Dek?", tanya saya, kurang paham dengan omongannya.

"Itu loh, yang mami bilang adek udah 8 tahun masih ngompol, sementara kakak dulu nggak gitu!", si Adik mencoba menjelaskan, di tengah kebisingan yang mulai sedikit mereda karena saya berhasil menyalip beberapa kendaraan yang berjalan lambat.  

Seketika udara sejuk menerpa kami, sepertinya kehangatan mentari yang bersinar cerah tapi terasa hangat tak buas memberikan cahaya teriknya seperti biasanya.

Mungkin karena beberapa hari terakhir ini di Baubau sering turun hujan, bahkan 3 hari lalu hujan turun dengan derasnya sejak siang hingga tengah malam, menyisakan banjir di beberapa lokasi.

"Oh maksudnya tiap anak nggak sama ya, Dek?", tanya saya lagi.

"Iya, namanya saja beda, kakak Darrell dan Adek Dayyan, orangnya juga beda, satunya besar, satunya kecil", jelasnya lagi.

Saya tersenyum sambil menahan tawa, takut si Adik akan tersinggung jika saya menertawakan bicaranya. Anak bungsu saya ini memang sedikit berbeda dengan kakaknya yang lebih cuek. Si Adik terkesan lebih sensitif, lebih perasa juga.

Tapi jujur, saya hampir ngakak mendengar pemikiran anak usia 8 tahun sekarang. Memang ya, generasi Alfa itu adaaaa aja pemikirannya.

"Adek kok bisa berpikir kayak gitu, adek dengar di mana tuh pendapat kayak gitu?", tanya saya.

"Adek pikir sendiri!", jawabnya tegas.

Terenyuh saya, sekaligus malu karena si Adik bisa-bisanya berpikir demikian.

Memang sih, saya sering memarahinya karena kebiasaannya yang masih mengompol ketika tidur, bahkan sampai sekarang yang usianya udah 8 tahunan.

Saya kesal karena gara-gara si Adik suka ngompol, saya jadi tak pernah bisa tidur nyenyak dan cukup seperti yang dibutuhkan normalnya manusia.

Bahkan ketika masih ngantuk, saya harus memaksakan diri untuk bangun, dan memaksa si Adik segera ke toilet untuk pipis di malam hari. Itupun sulit banget karena biasanya dia tidur bagaikan terbius, susah banget dibangunin.

Nggak kehitung lagi udah berapa kali saya marah dan membentaknya gegara masalah kebiasaan mengompol ini. Masalahnya kami masih menumpang di rumah orang, tidur di kasur orang, dan saya malu banget jika dia harus mengotori kasur orang dengan ompolnya.

Saking seringnya saya marahin, suatu hari saya bertanya, kalau Adik besar mau beliin mami apa?. Tau nggak apa jawabnya?.

Kasur, buat gantiin kasur orang yang kena ompolnya, huhuhu.

Yang menyakitkan buatnya adalah, ketika saya marah saat dia mengompol, saya sering membanding-bandingkan dengan kakaknya.

"Liat tuh Dek, kakak aja sebelum usia 2 tahun dia udah nggak ngompol loh!"

Itu saja yang saya ulangi, tanpa saya sadari ternyata kalimat tersebut menorehkan luka mendalam di hati si Adik, sampai kepikiran sendiri gitu.

*******


By the way, pagi tadi saya nggak sengaja liat konten di instagram, ada seorang ibu yang sedih karena anaknya dikategorikan ABK (anak berkebutuhan khusus), berdasarkan test dari psikolog anak. 

Hal ini dikarenakan si ibu sering banget membentak anak tersebut.

Mengetahui hasil tersebut si ibu merasa sangat sedih dan terpuruk, berasa dia adalah ibu yang gagal sedunia.

Saya juga ikut merasakan kesedihan si ibu, karena been there.

Jujur, saya adalah seorang ibu yang bisa dikatakan jauh dari sempurna, eh jangankan sempurna, sebatas sabar dikit aja, enggak. 

Ada kalanya (terutama ketika lagi ada masalah, seperti ketika di Surabaya lalu), saya gampang meledak-ledak, anak-anak selalu kena bentakan.

Well, aslinya sekarang juga sih, hanya agak berkurang karena si Kakak ikut neneknya, dan saya hanya berdua saja dengan si Adik. Jadi emosi saya cuman nggak stabil ketika si Adik slow motion dalam melakukan apapun. Atau ketika dia terlalu fokus main HP atau komputer, ketika si Adik mulai belajar bohong tentang shalat dan wudhu, atau ketika si Adik mulai keseringan ngomong kasar.

Banyak juga ya, hiks.

Baca juga : Ketika Si Kecil Mulai Terbiasa Ngomong Kasar


Ketidak stabilan emosi saya memang parah, apalagi menjelang datang bulan. Duh itu nafsu untuk ngamuk naik berkali-kali lipat.

Rasanya kondisi saya sangat tak ibuable. Tak seharusnya di dekat anak-anak yang kerjaannya lebih sering berantem.

Bahkan sampai sekarang sih, ketika anak-anak jarang bertemu, giliran mereka bertemu, hanya dalam 5 menit terjadilah jejeritan yang mengguncang tetangga. Si Adik yang nangis kencang karena berantem dengan kakaknya.

Astagfirullah.

Dalam keadaan normal aja, saya bisa kehilangan kesabaran menghadapi anak-anak yang suka berantem. Apalagi dalam keadaan lagi banyak pikiran, duit menipis, ditambah menjelang menstruasi, uwow sekali dah itu.

Yang terjadi adalah bentakan demi bentakan menerpa anak-anak, bahkan bukan hanya bentakan, tapi juga disertai omelan dan kadang kata-kata yang kurang baik, huhuhu.

Ini sudah terjadi sejak lama, dulunya tuh saya sering sampai memohon-mohon kepada papinya anak-anak agar kami bisa lebih baik dalam komunikasi, jangan suka kabur-kaburan, agar anak-anak tak melihat kami berantem, atau anak-anak menerima luapan emosi saya.

Dengan putus asa saya mengatakan bahwa takut kalau kami hanya membesarkan monster, karena anak-anak pastinya trauma dengan amukan emosi maminya yang tidak stabil.

Tapi papinya nggak peduli.

Lama-lama saya sadar, kalau percuma berharap pada manusia yang memang nggak mau tahu atau paham dengan kesehatan mental anak. Jadilah saya memikirkan sendiri, gimana caranya ya agar anak-anak bisa tumbuh di bawah asuhan maminya yang sering marah dan meledak-ledak.

Salah satunya adalah dengan tak bosan-bosan untuk meminta maaf kepada anak-anak, disertai pelukan dan kata-kata penjelasan juga pengakuan positif akan anak.

Baca juga : 5 Hal yang Saya Lakukan Setelah Memarahi Anak Untuk Meminimalisir Dampak Trauma Ala MamiRey


Tentunya selain semua hal yang saya lakukan untuk meredam emosi atau manajemen emosi agar tak selalu membentak anak ya.

Bukan hanya memeluk, meminta maaf, menjelaskan perasaan dan kondisi maminya. Tapi saya juga selalu memantau dan mengevaluasi sikap anak, terutama si Adik.

Apakah dia jadi berubah murung, atau jadi bandel di sekolah.

Alhamdulillah, sejauh ini saya belum menemukan hal-hal perubahan yang ekstrim sih. Anak-anak, terutama si Adik masih suka ngobrol dan bercerita tentang harinya kepada saya. Bahkan bisa dibilang masih cerewet bercerita apa saja ke saya.

********


"Adek sengaja ikut orang Buton, biar nggak diketawain", sambung si Adik, meneruskan ceritanya siang tadi. 

By the way, salah satu momen yang paling bikin saya semangat mendengarkan curhatan si Adik tuh ketika di atas motor berkendara bersama.

Ini bukan hanya momen yang asyik buat si Adik, karena maminya mau mendengarkan ceritanya dengan seksama, lalu bisa mengobrol tentang apa saja. Tapi juga merupakan momen terbaik buat saya yang jujur bosan banget dengan kegiatan antar jemput anak.

Iya, jujur sejujur-jujurnya nih, saya tuh udah bosan banget dengan kegiatan antar jemput anak sekolah. Apalagi sekolahnya lumayan jauh dari tempat tinggal kami.

Well, memang sih cuman ditempuh dengan waktu yang nggak lama, tapi persiapannya antar jemput itu juga lumayan buat saya yang introvert ini. 

Mungkin karena saya introvert kali ya, jadinya yang namanya keluar rumah tuh rasanya malas banget. Bahkan saya lebih suka seharian nggak ke mana-mana, kalau enggak karena butuh banget, malas banget keluar.

Tapi kan kegiatan antar jemput anak sekolah ini nggak mungkin bisa saya delegasikan ke orang lain ya. Mau ke siapa, cobak?.

Mau ikut ojek online, tekor juga tuh. Minta tolong orang, ya nggak enak juga. Terpaksa deh saya harus menghadapi ketidak sukaan saya untuk terus menjalani antar jemput anak sekolah.

Dan untuk mengobati hati yang aslinya nggak suka melakukan hal itu, saya mengubah perjalanan kami pergi dan pulang sekolah menjadi hal yang menyenangkan, yaitu mengobrol di atas motor.

Hal ini ternyata jadi sesuatu yang menyenangkan, bukan hanya untuk saya yang terdistraksi dari rasa bosan dan kesal. Tapi juga terutama dirasakan si Adik yang bisa bercerita banyak hal, dan direspon serius dan positif oleh maminya.

"Maksudnya gimana tuh, Dek?", tanya saya kurang paham dengan omongan si Adik.

"Iya, adek ikut orang Buton aja!", jawabnya.

"Ikut ke mana maksudnya, Dek?", maminya memang agak telmi (telat mikir), hahaha.

"Itu loh Mi, Adek ikut logat Buton aja, kayak teman-teman Adek, biar enggak diketawain!", jelasnya.

Saya semakin menahan tawa, tak mau merusak momen serius kami mengobrol di atas motor. Untungnya si Adik duduk di depan saya, jadi dia tak menyadari maminya nyaris ngakak mendengar obrolannya.

WellI, memang nggak bisa dilihat sih, orang maminya pakai masker, hahaha.

"Memangnya ada yang ketawain adek ya di sekolah?", tanya saya.

"Nggak sih, teman-temannya adek belum ada yang ketawain adek, kayaknya mereka nggak berani sama Adek!", jawabnya percaya diri.

 "Ya, nggak apa-apa dong Dek, kalau berbicara dengan teman adek pakai logat Buton, yang penting Adek tetap paham cara berbicara yang benar!", jelas saya.

Well, masalah bahasa ini juga memang sering jadi hal yang serius saya bicarakan dengan anak-anak. FYI, sampai saat ini saya masih berbicara dengan bahasa Indonesia dan dialek yang sering saya gunakan di Surabaya,

Bukan logat Surabaya sih, karena orang Surabaya mah pakai bahasa Jawa Suroboyoan. Manalah saya bisa berbicara bahasa Jawa demikian.

Tapi pakai bahasa Indonesia yang lebih benar, baik penyusunan maupun penyebutannya.

Semua itu bukan tanpa alasan. Semata-mata karena pengen melindungi anak-anak dari bully-an. Saya pernah banget merasakan bagaimana nggak enaknya di-bully gegara bahasa.

Orang Buton memang selalu menggunakan bahasa Indonesia, tapi baik penyebutan maupun penyusunan katanya bisa dibilang aneh karena kebolak balik (berasa sama dengan lagu 'tabola bale' ya, hahaha).

Udah gitu, banyak huruf yang hilang, yang kalau didengar oleh orang awam, bakalan bingung banget.

Misal,

Saya jadi sa.

'Saya mau makan', jadi 'Sa mo makan!'.

Bayangkan orang awam mendengar kalimat itu, kalau kata 'mau' yang menjadi 'mo', mungkin masih bisa sedikit dipahami ya. Tapi kalau kata 'saya' yang berubah jadi 'sa', keknya sulit dipahami.

Yang ada orang awam akan mengartikan bahwa 'sa' itu adalah nama orang, hahaha.

Pengucapannya juga lucu bagi orang awam, terutama penyebutan huruf E.

Penyebutan E di Buton itu kebanyakan disebut dengan 'tebal', seperti penyebutan 'E' oleh orang Medan. Bedanya kalau orang Medan tuh lebih ditekan, kalau orang Buton lebih smooth tapi 'E lebar/tebal'.

Saya merasakan banget bagaimana pertama kali ke Surabaya ketika hendak kuliah dulu. Awalnya sih tinggal sama tante yang orang Surabaya, dia udah terbiasa mendengarkan logat orang Buton, jadi nggak banyak protes.

Nah masalahnya setelah saya masuk kuliah, saya minta ngekos. Dan ketika itulah saya semakin sering berinteraksi dengan banyak teman yang kebanyakan orang Jawa, dan mereka sering banget menertawakan logat saya yang lucu.

Dulunya sih saya cuman bisa ikut tertawa, tapi sebenarnya kesel juga diketawain gitu. Makanya saya nggak mau anak-anak mengalami apa yang maminya rasakan dulu, meminimalisir bully-an juga sih.

Baca juga : Bahasa dan Dialek Khusus Bersama Anak Di Rumah Agar Anak Mudah Beradaptasi


Akan tetapi, siapa sangka, langkah mencegah bully-an yang maminya lakukan ke anak-anak, khususnya ke si Adik, malah bikin dia jadi bingung dalam berkata-kata.

Mungkin juga karena saya sebagai parents, sudah terkontaminasi logat Buton. Di mana kadang saya juga menyadari kalau mulai menggunakan kata-kata dengan 'E' yang tebal.

Nah si Adik juga gitu, bahkan kadang lebih parah. Dia kebingungan menempatkan mana 'E tipis', mana 'E tebal'. 

Sering banget dia mengucapkan kata dengan 'E tipis' semua, padahal dalam pengucapan bahasa Indonesia kan ada juga yang memang menggunakan 'E tebal', hahaha.

*******


Hal-hal seperti itu hanya bisa saya ketahui saat kami mengobrl, atau kegiatan yang mana si Adik curhat ini itu dan maminya mendengarkan dengan seksama.

Dan itu biasanya lebih sering terjadi saat kami berkendara di atas motor.

Yang penting perjalanan kami masih tergolong perjalanan biasa di dalam kota, karena kalau ke luar kota saya seringnya ngebut dan nggak bisa mendengarkan suara si Adik dengan baik karena bising oleh suara angin.

Meski demikian, ada juga momen ketika saya lagi malas mendengarkan curhatan si Adik, salah satunya ketika saya lagi pengen bersenandung di atas motor, mengikuti suara lagu yang diputar di Spotify dan masuk ke telinga saya melalui earphone.

Jika sudah seperti ini, biasanya saya malas menjawab semua pertanyaannya, karena lagi asyik nyanyi. Dan si Adik yang bete lama-lama ikutan nyanyi, meskipun dia nggak dengar lagunya, hahaha.   

Yup, momen mendengarkan curhat si Adik memang seringnya menjadi momen yang paling membahagiakan buat si Adik. Ya buat maminya juga sih.

Meskipun tidak selalu harus ketika sedang mengendarai motor bersama. Kadang juga si Adik curhat ketika masih kami sedang hendak tidur. Ada kalanya juga ketika kami sedang masak, atau sedang makan dan maminya sedang tidak fokus di HP.

Lalu kemudian saya tersadar, betapa beruntungnya saya ya. Tak pernah merasa kesepian, selalu ada teman curhat yang jujur curhatnya lucu-lucu juga kalau dipikir dengan normal, hahaha.

Kadang juga curhatan si Adik bikin saya merinding, seolah tersadarkan betapa banyaknya dosa-dosa saya sebagai ibu yang mengasuhnya.

Anyway, begitulah.

Sesungguhnya anak memang dikirim dengan suatu alasan penuh berkah untuk orang tuanya. Hanya saja kadang kelelahan membuat kita, eh khususnya saya sebagai parent, lupa menyadari hal itu.

Yang terlihat di saya (kadang) anak tuh jadi sebuah beban. Padahal anak adalah sebuah keberkahan luar biasa yang Allah berikan hanya untuk orang-orang pilihan-Nya saja. Iya nggak?

Demikianlah cerita tentang curhat si Adik, yang awalnya sederhana tapi ternyata mindful banget. How about you, parents?.


Baubau, 31-01-2026

Post a Comment for "Adik dan Kakak Itu Berbeda!, Cerita Curhat Adik Dayyan"