Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Ketika Si kecil Mulai Terbiasa Ngomong Kasar

Konten [Tampil]
si kecil ngomong kasar


"Anjing! K*nt*l!"

Saya tercekat, menebalkan pendengaran namun ternyata emosi lebih dulu bercokol.

"Apa Dek? ngomong apa tadi?"

 Si Adik terdiam, nggak mungkin juga dia ngaku kan?. Lagian maminya salah strategi nanyanya sih. Tapi, bukan MamiRey namanya kalau nggak tuntasin masalah penting kayak anak ngomong kasar gini.

Biasanya, si Adik akan protes kalau dia nggak melakukan hal yang dituduh, tapi karena kali ini dia diam, jadi saya yakin si Adik barusan memang berkata kasar.

Berikutnya, si Adik akhirnya menerima hukuman atas perilaku tidak terpuji tersebut. Dan setelah semua mereda, saya mencoba mendekatinya, memeluk dan minta maaf karena sudah menghukumnya.

Baca juga : 5 Hal yang Dilakukan Setelah Membentak Anak untuk Meminimalisir Dampak Trauma Ala MamiRey

Lalu setelahnya, saya ajak ngobrol tentang hal 'ngomong kasar' atau berkata makian' tersebut.


Cerita si Adik Ketahuan Ngomong Kasar

Jadi ceritanya si Adik nggak sering mengucapkan kata-kata kasar atau kotor atau makian tersebut. Biasanya dia berkata hal itu karena keceplosan saat main game di HP.

Eits, tahan dulu nasihatnya,

"Makanya jangan suka kasih HP"

Atau,

"Alhamdulillah anak aku nggak pernah main HP!"

Nyatanya si Adik memang nggak sering-sering dikasih HP, dia cuman bisa main HP ketika Sabtu dan Minggu atau hari libur aja. Itupun dengan waktu yang sangat terbatas, nggak seharian.

Nah, si Adik ini kalau main HP tuh bukan cuman tangannya yang sibuk bergerak di layar HP, mulutnya juga. Kalah ya berisik, menang juga berisik.

Kalau kalah itulah seringnya dia kesal, dan keluarlah kata-kata kasarnya. Bahkan kadang kalau dia kesal, HPnya dibanting, duh.

Itulah alasannya, mengapa saya membatasi banget si Adik main HP, karena bikin dia jadi tantrum aja.

Nah, sebenarnya lagi sudah lama saya curiga dia keceplosan ngomong kasar ketika main HP. Tapi karena pendengaran saya juga agak terganggu setelah punya anak, jadinya saya cuman mengira-ngira, apakah benar si Adik memaki.

Barulah beberapa hari lalu, saya benar-benar mendengar, meskipun kurang jelas, kata-kata kasarnya.

Luar biasa emosinya saya.

Gimana nggak kesal ya, bahkan mendengar anaknya orang, anak orang dewasa ngomong kasar kayak 'anjing' gitu, saya kesal. Lah ini dengar anak sendiri ngomong kayak gitu.

Apalagi, saya juga tidak pernah mendengar anak-anak ngomong kasar. Si kakak yang memang sekolah SD di sekolah Islam, terbiasa mengucap,

"Astagfirullah!"

Ketika dia kesal.  

Jadi, jujur saya kesal setengah mati mendengarnya.

Baca juga : Anak dan Gadget, Begini Gaya Parenting Ala MamiRey 


Penyebab Anak Ngomong Kasar

Ketika si Adik sudah tenang, dan saya sudah meminta maaf karena sudah memarahi dan menghukumnya, sayapun mencoba mengorek informasi, dari mana si Adik mendengarkan kata-kata seperti itu. 

Menurut si Adik, dia mendengar kata-kata demikian dari teman-temannya di sekolah. Kadang juga mendengar anak-anak SMA yang ngekos dekat tempat tinggal kami.

Menyedihkan memang sih masalah pengaruh lingkungan ini, tapi kita memang nggak bisa menghindari hal tersebut.

Setidaknya, ada beberapa penyebab mengapa anak bisa ngomong kasar atau kotor, di antaranya:


1. Dari Lingkungan Dalam Rumah

Anak-anak sangat pandai meniru, karenanya pengaruh lingkungan itu penting sekali. Salah satunya adalah lingkungan dalam rumah.

Kalau parents suka ngomong kasar atau memaki, jangan heran jika anak-anak juga suka ikutan memaki dalam kesehariannya.

Makanya suka sedih banget kalau liat orang dewasa, apalagi ibu-ibu yang ringan banget ngomong 'anjing' dalam kesehariannya. Nggak kebayang bagaimana anaknya meniru ucapan tersebut, sedih deh.

Lebih sedih lagi, ketika anak tersebut membawa kebiasaan memaki tersebut ke luar rumah, lalu menularkan anak lain melalui lingkungan luar rumah.

Lingkungan dalam rumah ini, meliputi sikap semua anggota keluarga dalam rumah tersebut. Baik ayah, ibu maupun anggota keluarga lainnya yang berada di rumah tersebut.

Dalam problem si Adik, Alhamdulillah dia tak pernah mendengar saya berkata kasar pakai kata 'Anjing' atau semacamnya.  Ini pula yang jadi alasan kuat bagi saya untuk bijak berkata-kata saat marah.


2. Dari Lingkungan Luar Rumah

Selain lingkungan dalam rumah, lingkungan anak di luar rumah juga sangat berpengaruh pada kebiasaan anak. Lingkungan ini bisa berupa lingkungan sekolah, atau lingkungan teman bermain anak.

Untuk lingkup pertemanan si Adik selepas sekolah, bisa dibilang hampir tak pernah bermain dengan anak lainnya, selain anak-anak pekerja lain di klinik tempat saya bekerja.

Itupun jarang, karena mereka jarang ajak anak ke kantor.

Lingkungan yang di luar kontrol saya adalah lingkungan sekolah. Jujur sekolah negeri ini memang berbeda dengan sekolah swasta Islam. Seringnya guru tak bisa atau punya waktu lebih untuk mengontrol sikap dan ucapan murid-muridnya.

Akibatnya bisa ditebak, anak-anak sering kelepasan ngomong kasar di sekolah.


3. Dari Lingkungan Online

Selain lingkungan dunia nyata dalam dan luar rumah, lingkungan dunia maya juga merupakan celah nyata anak-anak mengetahui kata-kata kasar tersebut.

Apalagi di zaman sekarang, kata 'anjing' itu berasa biasa aja bagi banyak orang. Dan diucapkan hampir semua generasi Z, Alpha bahkan hampir semua orang.

Jika anak-anak mengakses dunia maya tanpa pendampingan, maka tak heran jika mereka ketularan mudah mengucapkan kata kasar tersebut.


6 Cara Mengatasi Anak Ngomong Kasar Ala MamiRey

Lalu bagaimana cara mengatasi anak ngomong kasar?. Kalau saya pribadi akan,


1. Cari Tahu Apa Penyebabnya

Langkah pertama yang saya lakukan adalah mencari tahu apa penyebabnya. Dari mana si Adik mendengarkan kata-kata kasar tersebut. Dengan demikian akan lebih mudah mengatasinya.

Hal ini tentunya hanya bisa kita lakukan ketika anak dan parents sudah tenang. Jadi berikan waktu sejenak agar baik anak maupun parents bisa menenangkan diri, baru deh bisa menanyakan dengan baik kepada anak. 


2. Sounding Tentang Buruknya Berkata Kasar

Being a parents emang nggak boleh capek 'cerewet' atau 'banyak omong' tapi yang positif. Karena kita butuh terus menerus sounding atau mengingatkan anak dengan segala cara yang baik agar anak tumbuh lebih baik.

Bisa dengan deep talk, terutama karena si Adik sudah berusia 8 tahunan ya, dan dia sudah bisa diajak sedikit memahami kehidupan nyata. 

Selain itu bisa juga dengan nasihat langsung, maupun lewat cerita.


3. Menjadi Role Model Anak

Anak-anak adalah peniru ulung, karenanya jadikan diri kita sebagai parents yang jadi role model positif bagi anak. 

Selalu berhati-hati dalam berkata, terutama ketika sedang marah.

Akan lebih baik membiasakan diri untuk mengucap asma Allah, agar anak meniru dengan baik.


4. Ada Konsekwensi, Ada Pujian, Ada Terimakasih

Memberikan konsekwensi berupa hukuman ketika melakukan kesalahan yaitu berkata kasar juga penting. Agar anak paham kalau parents benar-benar serius tentang 'berkata kasar' tersebut.

Dan bukan hanya hukuman, jangan lupa memujinya ketika dia berhasil tak berkata kasar, serta berterima kasih atas sikap baiknya.

Biasanya hal ini saya lakukan ketika deep talk di malam hari.


5. Awasi Pergaulannya

Mengawasi pergaulan anak juga penting, karena pengaruh lingkungan ini juga sangat kental buat anak. Pastikan anak-anak kita hanya bergaul dengan anak-anak yang juga terjaga sopan santunnya. Dengan demikian anak hanya akan ketularan hal-hal baik dari teman pergaulannya.

Akan lebih baik jika mendiskusikan hal tersebut kepada guru atau wali kelasnya, agar bisa saling membantu dalam pengawasan sikap baik anak-anak ketika di sekolah.


6. Batasi / Awasi Akses Dunia Maya

Dan yang tak kalah penting adalah membatasi akses anak akan dunia maya, terutama konten-konten dengan perkataan kasar.

Beruntung komputer di kantor yang kadang dipakai si Adik ketika bosan, tak ada audio-nya. Jadi kadang saya membiarkan dia menonton konten kartun tapi nggak ada audio maupun sub title-nya.  

Selalu dampingi ketika anak mengakses HP atau dunia maya, untuk memastikan apa yang dia akses itu aman dari konten-konten dengan bahasa yang kasar atau kotor.

Baca juga : Liburan Menyenangkan Dengan BRT Transit 


Penutup Dan Kesimpulan 

Mendengar anak sendiri mengucapkan kata-kata kasar memang menyakitkan. Rasanya seperti ditampar oleh kenyataan bahwa di tengah segala usaha kita menjaga, selalu ada celah yang bisa dimasuki oleh pengaruh luar. 

Tapi dari pengalaman ini, saya belajar satu hal penting: anak bukan sedang menjadi “nakal”, mereka sedang belajar, sayangnya dari sumber yang salah.

Si Adik Dayyan nggak tiba-tiba menjadi anak yang buruk. Dia hanya meniru apa yang sering ia dengar, baik dari lingkungan sekitar, pergaulan, maupun dunia maya yang nyaris tak berbatas. 

Dan sebagai parents, tugas kita bukan sekadar menghukum, melainkan membimbing, mengoreksi, dan yang paling berat adalah memperbaiki diri sendiri lebih dulu.

Mengatasi anak yang terbiasa ngomong kasar bukan perkara satu atau dua hari. Ia adalah proses panjang yang menuntut kesabaran, konsistensi, dan keberanian untuk terus mengulang hal yang sama: mengingatkan, memberi contoh, memberi konsekuensi, sekaligus memberi cinta.

Karena pada akhirnya, anak-anak kita tidak tumbuh dari kata-kata yang sempurna, tapi dari rumah yang mau terus belajar menjadi lebih baik.

Dan saya percaya, selama kita tidak berhenti mendampingi, selalu ada harapan untuk memperbaiki bahasa, sikap, dan hati mereka sedikit demi sedikit, hari demi hari.



Baubau, 04-01-2026

Post a Comment for "Ketika Si kecil Mulai Terbiasa Ngomong Kasar"