Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Cinta Itu Kita dan Mereka yang Rasakan

Konten [Tampil]
Cinta Itu

Parenting By Rey - Cinta itu...
Ada yang bisa nerusin?
Eh enggak ding, saya tidak sedang mencoba menuliskan kata-kata cinta untuk orang tercinta, terutama untuk suami, eaakkk.

Tapi saya sedang ingin berbagi opini, tentang beberapa hal yang kadang dinilai orang sebagai sesuatu yang salah menurut mereka.

Pernah nggak sih, kita melihat satu pasangan yang kayaknya tuh mereka menjalani hubungan yang toksik banget di mata kita?
Saya sering sih, dulunya.

Ketika pikiran judgemental saya merebak tanpa rem.
Segala-galanya saya komentari, terutama hubungan orang lain, teman-teman saya misalnya.

Seringnya sih saya ngerumpiin hal itu bersama sang pacar, yang setia mendengarkan saya ngerumpi sambil manggut-manggut aja.
Nggak ada komentar sama sekali, hahaha.

Dulunya saya berpikir, ah nggak asyik nih cowok, kok nggak mau nanggapin saya ngegibah, hahaha.
Lama baru saya menyadari, bahwa kecenderungan laki-laki tuh, kurang suka gibahin orang lain, apalagi hubungan orang.

Ya kecuali ngegibahnya sama sesama lelakinya kali ya, hahaha.


Cinta itu Kadang Terlihat Aneh dan Toksik Di Mata Orang


Jatuh cinta boleh, b*go jangan!

Cinta itu kita yang rasakan

Sering kan kita mendengar atau membaca tulisan seperti itu, bahkan mungkin kita sendiri pernah berpikir atau mengucap seperti itu, ketika kita melihat hubungan orang lain, yang sepertinya nggak sehat, tapi terus aja dilanjutkan.

Saya punya satu contoh nyata, terjadi kepada salah seorang Mbak Kos (teman kos) saya ketika masih ngekos dulu.
Mbak saya itu, udah datang ke Surabaya akibat patah hati yang luar biasa, ketika sang pacar yang udah menjalani hubungan bertahun-tahun dengannya, seenaknya meninggalkan dia untuk menikah dengan lainnya.

Susah payah Mbak tersebut bangkit dari rasa kecewa dan patah hatinya, sampai memutuskan pindah ke Surabaya.
Siapa sangka? di Surabaya dia bertemu dengan seorang lelaki yang sukses bikin dia bisa jatuh cinta lagi.

Namun sayangnya, ada begitu banyak perbedaan di antara mereka.
Pertama, agama atau keyakinan.
Si Mbak tersebut seorang Katolik, sementara si Masnya seorang muslim.

Kedua, masalah usia.
Si Mbak tersebut usianya lebih tua dari si Masnya.

Ketiga, masalah karakter.
Si Mas tersebut, entah karena merasa lebih muda, dia sungguh sering bersikap kayak seorang adik ke Mbaknya.

Duh, gemas banget liatnya.
Mbak tersebut sudah berusia lebih dari cukup waktu itu, mau nggak mau dia pengen hubungan mereka cepat diseriusin ke jenjang yang lebih serius, yaitu menikah.
Tapi si Masnya, entar entar mulu.

Kasian banget sih, sering banget mereka berantem masalah itu.
Nggak ada yang mau ngalah, nggak ada yang mau pisah juga, hahaha.
Ampuuunnn..
 
Sampai akhirnya setelah bertahun-tahun hilang kontak ama Mbak tersebut, di suatu waktu saya ketemu dengan dia dan masih sama si Masnya tersebut, ketika sedang berada di parkiran sebuah mall di Surabaya.
Astagaaaa... tahun berlalu, dan mereka masih bersama.

Tapi, saya udah nggak heran lagi sih ketika ketemu mereka, karena saya pernah nanya sama si Mbak tersebut, kenapa sih nggak putus aja? move on?
"Biarpun kadang memang kesal, ketika kami berselisih, tapi rasa itu jauh lebih kecil dari rasa bahagia bisa bersamanya"
Eaakkkk, hahahaha.

Saya jadi berpikir ketika itu, sejujurnya meski si pacar ketika itu baiknya minta ampun, paling memahami saya, paling bikin saya nyaman jadi diri sendiri.
Tapi memang sih, kalau dipikir dalam kacamata umum, tanpa melibatkan hati, hubungan saya dengan si pacar itu juga kurang sehat.

Gimana enggak?
Lah pacaran bertahun-tahun, nggak pernah ada kejelasan, kapan mau nikah.
Belum lagi, si pacar tuh belum punya masa depan yang lebih baik dan lebih bisa diandalkan.

Bisa dibilang, semua keluarga dan teman-teman di Buton, serta teman-teman kerja di Surabaya, mengatakan saya terlalu bucin, mau aja nunggu nggak jelas dalam hubungan nggak sehat seperti itu.

Etapi, saat itu di pikiran saya.
Saya merasa bahagia sih dengan si pacar.
Dan memang, selain masalah dia belum ngelamar karena belum punya duit mulu, dan nggak punya kerjaan yang bisa diandalkan mulu.

Si pacar tuh sempurna di mata saya, karena dia selalu membuktikan, bahwa semua akan baik-baik saja, dan memang semuanya akan baik-baik saja, tak peduli apapun yang dia lakukan, asal saya selalu baik-baik saja, huhuhu.

*Okeh baiklah, mau byor dipersilahkan kok, hahahaha.


Cinta itu Kita dan Mereka yang Rasakan


Nah ini dia, sesungguhnya semua itu adalah cinta, dan cinta itu hanya yang menjalani yang bisa rasakan, yang liat mah ibarat ada di luar kaca, melihat dengan jelas, tapi suara peringatan mereka nggak kedengaran, hahaha.

Cinta itu mereka yang rasakan

Kaca tersebut, sesungguhnya bukanlah hati yang buta sih menurut saya, jadi kalau ada kalimat tentang bucin atau budak cinta, atau cinta itu buta.
Saya rasa itu salah.

Kaca yang menghalangi penilaian orang tuh, adalah sebuah pola pikir, yang disingkronkan dengan hati.
Di mana, semua pasti menyadari, di dalam hidup ini, kita pasti akan mengalami yang namanya susah, sedih, kecewa, bahagia.

Nah cinta itu cuman perantara dari semua rasa tersebut.
Tapi, bonus dari cinta, bahagianya memang lebih meluber, karena sebagai manusia di mana bahwa Tuhan memberikan kita takdir, bahwa manusia hidup di dunia itu berpasang-pasangan.
Jadi, hidup berpasangan itu memang lebih meluber bahagianya.

Itulah mengapa, lebih sakit juga rasa kecewa.
Bukankah, sakit  dan kecewa itu dibuat, agar kita bisa merasakan perasaan bahagia?
Dan itu normal.

Tentu saja dengan berbagai rambu-rambu sih ya, di mana kita juga harus tahu yang namanya self love, jadi tahu batas mencintai dalam luka yang bisa kita hadapi.   

Jadi begitulah.
Cinta itu, hanya kita, dan mereka yang menjalaninya yang rasakan, orang lain mah mana tahu rasa sebenarnya.

So, tak semua hubungan yang terlihat toksik di mata kita adalah toksik.
Karena cinta itu, hanya kita dan mereka yang rasakan.
Eaaaakkkk.
Tulisan apaan sih ini, hahahaha.

Sidoarjo, 08 Oktober 2021


Sumber: pengalaman dan opini pribadi
Gambar: Canva edit by Rey

6 comments for "Cinta Itu Kita dan Mereka yang Rasakan"

  1. hehehe betul mbak, cinta itu yang bisa merasakan ya mereka yang lagi berbunga-bunga. kayak misalnya, temen aku lagi kasmaran, nahh ya cuman dia yang merasakan senengnya. aku sebagai temennya ikutan seneng juga, tapi "rasa cinta"nya beda

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha iya ya, kita rasanya senang dan bahagia karena liat teman kita bahagia :D

      Delete

  2. Berbicara akan cinta gak ada habisnya. Kadang cinta itu bisa membuat bahagia jika kitanya menemukan yang tepat. Namun, jika kitanya menemukan seseorang yang tidak tepat ya cinta berubah menjadi racun yang tentu bisa membuat fisik serta mental orang terdekatnya menjadi tersiksa itulah yang kami rasakan kini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semangaatt :D
      Btw kok blognya nggak bisa diakses? :D

      Delete
  3. Saya jadi penasaran. Kelanjutan mbak dan mas nya yg beda agama itu gimana yaa?
    Apakah salah satu di antara mereka pindah agama?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sayangnya saya udah lost contact ama si Mbak tersebut, tapi dulu memang mereka saling sepakat menikah beda agama.
      Masalahnya dulu tuh masih sulit cari info, ada yang bilang, kalau nikah beda agama di Indonesia itu, kudu salah satu pura-pura ngalah, karena hanya boleh nikah di KUA atau gereja :D
      Ribet sih ya :D

      Delete