Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Cerita Adik Dayyan Pindah Sekolah Berkali-Kali

Konten [Tampil]

anak pindah sekolah berkali-kali

Adik Dayyan saat ini sudah duduk di kelas 2 SD di salah satu sekolah dasar negeri di kota Baubau, dan menjalani semester pertamanya. Tapi tau nggak sih, dia udah berkali-kali pindah sekolah, tepatnya 3 kali dalam 3 semester.

Jadi bisa dikatakan kalau si Adik Dayyan tuh pindah sekolah setiap ganti semester.

Udah berasa familiar juga kali ya buat si Adik, karena dia bahkan sejak TK udah mengalami yang namanya pindah sekolah.


Cerita Pindah Sekolah Dasar Setiap Semester

Jadi si Adik tuh awalnya sekolah di SD Islam Maryam Surabaya. Namun karena berbagai masalah menerpa, akhirnya setelah satu semester berlalu, si Adik terpaksa pindah sekolah ke salah satu SD negeri di Kabupaten Buton, Sultra.

Alhamdulillah proses pindahnya mudah, dan gratis.

Baca juga : Pengalaman Mengurus Pindah Sekolah Lintas Provinsi 

Singkat cerita, si Adik akhirnya masuk di sekolah negeri tersebut, menjalani masa semester dua kelas 1 SD di beda sekolah.

Dan Alhamdulillah semuanya berjalan lancar, si Adik bisa beradaptasi dengan baik, bisa berteman dengan teman sekelas dengan baik, bahkan bisa mengikuti pelajaran sekolah dengan baik.

Mungkin karena pindahan dari swasta ke negeri kali ya, dari kota sangat besar ke tempat yang terpencil (meski nggak terpencil banget sih), jadinya pelajarannya lebih sederhana ketimbang pelajaran di sekolah swasta.

Bahkan banyak pelajaran yang dulunya dia pelajari di sekolahnya sebelumnya, ditiadakan di sekolah sekarang. Dan karenanya si Adik berhasil meraih rangking atau juara 1 ketika semester kedua tersebut selesai. 

Baca juga : Ketika Kakak Darrell dan Adik Dayyan Juara 1 Kelas 

Akan tetapi, setelah kenaikan kelas si Adik, semua berubah kembali. Maminya harus ke kota Baubau untuk mencari pekerjaan, demi pemasukan. 

Melihat hal itu, tantenya mengusulkan agar si Adik ikut pindah ke Baubau saja, bersekolah di sekolah dasar dekat rumah mereka, sehingga memudahkan si Adik berangkat dan pulang sekolah.

Dan begitulah, si Adik akhirnya pindah lagi ke SD negeri di Baubau, dan menjalani hari-hari di kelas 2 SD sebagai murid baru lagi.

Hingga hari ini, setidaknya dia sudah menjalani masa 2 bulan pertama di sekolah tersebut, dan sejauh ini belum ada keluhan yang benar-benar bikin dia nggak nyaman.

Si Adik menikmati hari-hari sekolahnya, bisa mengikuti pelajaran dengan baik, bisa berteman dengan teman sekelas nya dengan baik. Meskipun off course ada drama juga, misal dia mengeluh digangguin teman yang nakal sampai nangis. 

Tapi over all, sejauh ini sih semuanya baik-baik saja. 

Masalah lainnya adalah, sesungguhnya terjadi sebuah masalah lagi, dan karenanya sepertinya si Adik bakalan pindah sekolah lagi. Namun saya masih mikirin hal ini sih, karena jujur pindah sekolah itu melelahkan sekali buat parent-nya.


Dampak Anak Pindah Sekolah Setiap Semester

Kalau secara teori, anak yang terlalu sering pindah sekolah berkali-kali menimbulkan dampak buruk, di antaranya:


1. Berisiko Mengganggu Kemajuan Akademis Anak

Karena meskipun setiap sekolah mengadopsi kurikulum yang dianjurkan pemerintah, tapi pada realitanya ada perbedaan metode pengajaran, proses belajar mengajar, hingga skema penentuan nilai.

Hal ini tentunya akan berpengaruh pada kemajuan akademis anak.

Namun Alhamdulillah tidak terlalu terlihat pengaruhnya pada si Adik, padahal dalam kondisi si Adik juga ketambahan perbedaan bahasa. Di mana meski bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia, tapi dialeknya berbeda, sehingga pemahamannya juga berbeda.


2. Berisiko Menghambat Perkembangan Sosial Emosional Anak

Kemampuan sosial emosional anak berkembang dengan pesat ketika masa sekolah. Dalam hal berinteraksi dengan orang lain, membangun jati diri hingga dalam masyarakat secara umum.

Sebuah studi yang dilansir oleh jurnal American Medical Association menjelaskan, bahwa anak yang pindah sekolah berkali-kali punya resiko 35% lebih besar gagal dalam sebuah pelajaran dan risiko 77% lebih besar memiliki gangguan perilaku.

Hal ini terjadi karena anak harus terus menyesuaikan diri dengan norma dan dinamika sosial di sekolah baru demi menjalin pertemanan, sehingga cenderung punya kepercayaan diri dan nilai hidup yang kurang kuat.

Untuk case ini, Alhamdulillah tak hal yang signifikan terjadi pada si Adik. 


3. Berisiko Mengganggu Kesehatan Mental Anak

Menurut psikolog dan peneliti dari Warwick Medical School, anak yang sering pindah sekolah berkali-kali, terutama untuk anak yang berusia di bawah 12 tahun, bisa menimbulkan risiko mengalami gejala psikosis atau kondisi gangguan mental. Yaitu kondisi ketika seseorang kesulitan membedakan mana kenyataan dan mana imajinasi.

Hal ini mungkin terjadi karena anak terlalu sering pindah sekolah, sehingga  dipaksa untuk bisa berbaur di sekolah baru, dan menimbulkan perasaan terkucilkan serta rasa percaya diri yang rendah.

Lalu kondisi tersebut membentuk pandangan diri anak, bahwa dia adalah “orang luar” yang tidak bisa diterima di manapun.

Namun, lagi-lagi untuk si Adik sendiri, sejauh ini saya tidak melihat tanda-tanda mentalnya terganggu karena kepindahan sekolah berkali-kali. 


4. Berisiko Membuat Anak Stres

Kadang sebagai parents kita kurang menyadari ketika anak yang pindah sekolah berkali-kali, mengalami  pengalaman emosional negatif ketika berusaha menyesuaikan diri di sekolah barunya.

Jika hal ini terjadi dalam jangka panjang, kesulitan dalam situasi sosial bisa mengakibatkan perubahan di otak dan sistem dopaminergik, sehingga otak menjadi lebih sensitif pada stres.

Ketika kortisol atau hormon stres berlebihan, tentunya bisa menimbulkan respon syaraf yang menyebabkan depresi serta gangguan kesehatan lain.

Karenanya, sering terjadi pada anak yang sering pindah sekolah, menjadi sulit fokus, sering berulah, dan mengalami perubahan mood akibat stres atau depresi.

Namun, kemampuan setiap anak dalam beradaptasi dengan perubahan ketika pindah sekolah berkali-kali memang berbeda, sehingga ada yang bisa melaluinya tanpa masalah, termasuk sejauh ini yang saya liat pada si Adik.



Kesimpulan Dan Penutup

Sering pindah sekolah memang bukanlah hal yang mudah, baik bagi anak maupun parents. Dari sisi akademis, sosial emosional, hingga kesehatan mental, ada banyak risiko yang mungkin dialami anak.

Namun, setiap anak memiliki kemampuan adaptasi yang berbeda-beda. Dalam kasus Adik Dayyan, meski sudah beberapa kali pindah sekolah sejak TK hingga kelas 2 SD, sejauh ini ia masih bisa beradaptasi dengan baik, baik dalam pelajaran maupun pergaulan di sekolah barunya.

Meski demikian, sebagai parent tentu perlu mempertimbangkan matang-matang sebelum memutuskan untuk kembali memindahkan anak ke sekolah lain. Sebab, proses pindah sekolah yang berulang kali dapat memberikan tekanan tersendiri, baik secara administratif maupun psikologis.

Harapannya, semoga ke depan Adik Dayyan bisa mendapatkan lingkungan sekolah yang lebih stabil sehingga ia bisa tumbuh, belajar, dan berkembang dengan lebih tenang tanpa harus terus berpindah-pindah. Karena pada akhirnya, yang paling penting bukan hanya pencapaian akademis, melainkan juga kebahagiaan, kenyamanan, dan kesehatan mental anak.


Baubau, 31 August 2025

Post a Comment for "Cerita Adik Dayyan Pindah Sekolah Berkali-Kali"