Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Ketika Suami Tidak Mau Terbuka Tentang Keuangan

Konten [Tampil]
Ketika Suami Tidak Mau Terbuka Tentang Keuangan

Parenting By Rey - Di dalam sebuah pernikahan, sikap saling terbuka adalah hal yang paling penting dan mendasar, terutama terbuka dalam hal keuangan rumah tangga.

Karena yang namanya rumah tangga, sejatinya memang udah nggak ada sesuatu yang disembunyikan satu sama lainnya.

Ibarat kata beberapa wanita, udahlah saling liat semua-muanya, sampai hal yang paling privacy seperti bagian vital masing-masing ya, tapi bisa-bisanya masih ada hal lain yang disembunyikan satu sama lainnya.

Terlebih untuk masalah keuangan ya, karena masalah uang ini sungguh sama pentingnya, ibarat tangga dari rumah tangga.
Eh salah, penyangga ding, hahaha.

Selain itu, hal penting lainnya, mengapa setiap paangan kudu saling terbuka adalah, lah pegimana dong kalau salah satu meninggal duluan, terus yang satu nggak tahu aset atau hutang dari rumah tangganya?
Bahkan lebih parahnya, nggak tahu kalau punya tabungan di bank, misalnya.

Yang ada, tabungannya agak diam aja selamanya di bank, sementara mungkin amat sangat dibutuhkan oleh anak-anaknya, iya nggak?

That's why, penting banget deh yang namanya sebuah pasangan untuk saling terbuka dalam hal keuangan rumah tangga, baik pemasukan, pengeluaran maupun hutang.


Memilih Suami yang Mau Terbuka Tentang Keuangan


Mengingat betapa pentingnya saling keterbukaan tentang keuangan di antara pasangan suami istri, maka adalah sebuah hal penting bagi para lajang, untuk memasukan kriteria pasangan yang mau saling terbuka mengenai keuangannya, agar nggak jadi masalah di dalam rumah tangga.

menyikapi Suami Tidak Mau Terbuka Tentang Keuangan

Saya pribadi, termasuk sosok yang beruntung menemukan lelaki seperti itu, meskipun saya agak kecele dikit sih, dan baru saya sadari setelah 10 tahun berumah tangga.

Sejak pacaran, si pacar memang udah menunjukan sosok yang care dan percaya banget sama saya.
Sehingga ketika dulu dia sudah bekerja dan mendapatkan gaji, semuanya diserahkan ke saya, dengan alasan agar ditabung buat nikah.

Saya rasa, lelaki yang mempercayakan gajinya ke pacarnya, bisa jadi sosok lelaki yang terbuka tentang keuangan.
Dan memang itu terjadi sampai kami menikahpun, hal tersebut tetap berlanjut.

Selama bertahun-tahun menikah, semua gaji suami selalu diberikan ke saya.
Sayangnya, saya sepertinya kurang peka (tauk deh, si Rey ini perempuan, tapi nggak peka, hahaha).
Menjelang 2-3 tahun pernikahan, paksu mulai sembunyi-sembunyi tentang keuangan.

Alhamdulillahnya sih, paksu nggak sembunyiin uang buat hura-hura, tapi pengen punya uang pegangan sendiri agar bisa dijadikan modal buat nambah pemasukan.
Salahnya sendiri nggak ngomong, jadinya ketahuan saya, malah ribut besar deh, hahaha.
 
Sebenarnya saya nggak marah banget untuk masalah dia sembunyiin uang sih, karena toh uang itu bukan uang gaji bulanan dia, dan paksu nggak pernah mengurangi gaji yang diberikan ke saya setiap bulannya, malah nambahin kalau ada rezeki sekecil apapun itu.

Tapi saya kesal sekali karena kebohongannya.
Ah begitulah wanita, kita-kita memang bencinya karena dibohongi nggak sih?
Aslinya kita juga nggak terlalu marah dengan masalah lain yang masih bisa ditolerir, iya nggak?
Iyain aja deh, hahaha.


Ketika Suami Berubah Tidak Mau Terbuka Tentang Keuangan 


Sayangnya, semua rutinitas dan kebiasaan saya nerima gaji suami secara utuh itu, mulai berubah ketika 10 tahun pernikahan.

Dari yang awalnya gaji suami jadi molor, dengan berbagai alasan.
Hingga akhirnya gaji yang diberikan ke saya cuman separuh-separuh, sampai akhirnya kadang nggak ngasih sama sekali, hahaha.

Oh tapi tenang aja, paksu Alhamdulillah masih punya hati nurani kok, biar kata gajinya nggak pernah lagi dikasih ke saya secara utuh, tapi dia masih selalu mencukupi kebutuhan utama di rumah.

Bertanggung jawab dengan makanan yang kami butuhkan, serta kebutuhan lain seperti listrik, air, uang sekolah si kakak, meskipun sering juga saya harus turun tangan melengkapinya.

Paksu makin tertutup mengenai keuangan bahkan masalah yang dihadapinya, saya sampai depresi sendiri menghadapinya.
Sampai akhirnya saya berusaha berdamai sendiri dengan keadaan, dan baru saya mulai sedikit demi sedikit memahami masalah paksu.

Paksu memang punya masalah keuangan, dan dia nggak mau saya ikut kepikiran.
Padahal ya, saya justru merasa lebih ringan kalau saya tahu jelas masalahnya, karena saya juga bisa ikut bantu menyelesaikannya.

Tapi nyatanya dia tetap bertahan, nggak mau melibatkan saya.
Kesal banget tahu nggak sih.

Gimana nggak melibatkan saya, orang saya juga butuh uang buat ini itu di rumah, sementara gara-gara dia nggak pernah mau jujur masalahnya, seringnya dia nggak ninggalin duit sepeserpun buat kami di rumah.

Lelah dengan keadaan, saya berdamai sendiri dengan izin Allah.
Dengan bantuan beberapa teman-teman yang selalu ngasih nasihat, bahwa ya udah... nggak usah terlalu fokus bersikeras untuk sebuah hal yang memang keras.

Mending ikuti aja maunya, kalau memang merasa ketakutan dengan masalah duit, ya udah usaha aja dulu cari duit sendiri.

Dan Alhamdulillah, saya beruntung dikasih kemampuan cari uang melalui online, masih dekat dengan anak-anak.
Meskipun nggak gampang, tapi toh akhirnya bisa juga.

Perlahan namun pasti, saya jadi lebih tenang.
Dan ketika saya tenang, paksu juga ikut tenang.
Rezekinya juga mulai lebih tenang juga.

Tapi....
Masalah nggak mau terbuka tentang keuangan, tetap dipegang teguh, sampai saat ini.
Meskipun mostly sikap paksu udah balik kayak dulu.
Tapi tidak dengan sikap mau mempercayakan keuangan pada saya selaku istri.       

Padahal ya, saya nggak terlalu nuntut dia nyetor gajinya semua ke saya.
Yang saya inginkan tuh, dia mau berbagi masalah keuangan keluarga ini.
Biar saya tau, apa sih yang sedang kami hadapi ini?


Menyikapi Suami yang Tidak Mau Terbuka Tentang Keuangan


Saya pikir, kemauan saya sebenarnya nggak terlalu berat ya?
Saya nggak nuntut harus beli ini itu, yang saya butuhkan cuman pengen tahu apa yang sedang kami hadapi dalam hal keuangan?

Cara menyikapi Suami Tidak Mau Terbuka Tentang Keuangan

Nggak berlebihan kan ya?
Wajar kan ya kalau saya merasa kecewa?

Tapi...
Parents.... you know? kecewa itu sungguh sangat melelahkan, serius!
So, daripada kecewa, mending jangan kecewa, *loh, hahahaha.

Yup, setelah bertahun-tahun struggling dengan stres mendekati depresi kayaknya, nyaris bunuh diri pula, hahaha.
Akhirnya saya memilih untuk, belajar menerima keadaan, dan berdamai dengannya.

Alhamdulillah mulai saat itu, sedikit demi sedikit, saya menjadi lebih tenang, bisa dapat duit dan punya uang pegangan sendiri, biar kata paksu nggak ngasih gajinya lagi.

Semua fokus saya alihkan ke cari uang, belajar berdamai.
Dan paksu, pelan tapi pasti kembali jadi sosok yang manis, biarpun sosok yang suka nyetor semua masalah keuangannya dulu, masih tertinggal entah di mana hahaha.'

Enggak mudah sih sebenarnya, bahkan hingga saat ini saya masih kadang dihinggapi perasaan takut yang enggak-enggak.
Karena saya nggak tahu masalah keuangan keluarga kami.

Taunya si paksu memenuhi semua kebutuhan makanan di rumah, bayar listrik, bayar air meski sering ketunda, hahaha.
Uang sekolah dan lainnya juga dibayar meski kadang saya ikutan juga sih.

Tapi, semua keadaan yang nggak enak dan nggak nyaman di hati saya, wajib saya singkirkan, setidaknya sisihkan aja dulu, karena itu sungguh melelahkan.

Dan begini cara saya menyikapi suami yang tetap nggak mau terbuka masalah keuangan,


1. Meyakini bahwa mengubah suami itu lebih sulit ketimbang mengubah diri sendiri


Belasan tahun menikah, berbagai masalah rumah tangga sudah saya alami dan jalani, membuat saya cukup untuk menyimpulkan, bahwa kebanyakan rasa tidak bahagia dalam sebuah pernikahan tuh, kadang bahkan seringnya disebabkan oleh ekspektasi kita yang terlalu tinggi kepada pasangan, lalu berusaha mati-matian mengubah pasangan.

Apalagi untuk saya yang memang tumbuh dalam pengasuhan orang tua dengan target sempurna, hahaha.
Tentu saja hal itu bikin saya berusaha agar semua di sekitar saya juga sempurna seperti yang saya inginkan, duh!  

Meskipun sebenarnya, hal-hal yang saya pikir sempurna itu memang beneran kudu diubah ya dari pasangan.
Misal, mengubah pasangan biar nggak merokok, mengubah pasangan biar mau saling terbuka dalam masalah keuangan dan semacamnya.

Itu penting kan ya.
Tapi, yang jadi masalah, kalaulah pasangan kita nggak mau berubah, kan berabe?
Yang ada, kita bakalan menderita selamanya, tidak menemukan kebahagiaan dalam pernikahan.

Kalau belum ada anak sih nggak masalah banget ya, tinggal say babay.
Tapi kalau udah ada anak?
Duh anak tuh butuh orang tuanya, bukan butuh ibu bahagia kalau harus terpisah dari ortunya (menurut saya ya).

So, daripada ngabisin energi dan kebahagiaan untuk mengubah suami, mending saya gunakan untuk mengubah pola pikir dan menerima kekurangan suami, toh juga masih di batas toleransi yang masuk akal.

Dan ternyata itu jauh lebih mudah loh, karena diri kita ya kita sendiri yang kendalikan.
Pola pikir kita juga.


2. Melihat dan mensyukuri tanggung jawab suami lainnya 


Alhamdulillah sih ya, rezeki saya tuh dijodohkan dengan lelaki yang pada dasarnya baik, meski nggak sempurna.
Bahkan kalau dipikir-pikir, saya jauh lebih beruntung dari banyak wanita atau istri zaman sekarang.

Paksu yang masih terus bertanggung jawab, masih berjuang biarpun nyaris nggak ada jalan, tidak mau menyerah dengan saya, meski saya bolak balik ngajak cerai, hahaha.

Paksu juga sosok yang sangat peduli sama saya, rajin bantuin kerjaan rumah, nge-handle anak-anak meskipun enggak sempurna seperti yang saya inginkan.
Rajin mijetin saya setiap di rumah (meski ujungnya ada maunya, hahaha).

Bahkan paksu nyaris nggak pernah protes kalau saya akhirnya bangun siang, lalu anak-anak dia yang handle, meski ya kacau, hahaha.

Saya rasa, semua wanita sebenarnya punya kelebihan suaminya masing-masing, meski nggak akan pernah sempurna seperti yang kita inginkan.

Masa iya, dengan semua kelebihan suami yang ada, saya langsung menutup mata hanya karena salah satu prinsip saya berbeda dengannya?

So, itulah yang membuat saya bisa berdamai dengan keadaan, karena menyetir pola pikir untuk melihat kelebihan suami lainnya.


3. Menunjukan kerja sama dalam ekonomi keluarga


Biarpun paksu diam membisu ketika saya tanya mengapa dia nggak mau berbagi masalah keuangan rumah tangga dengan saya, dan paling menjawab nggak mau nambahin beban pikiran saya.

Tapi saya yakin, ada penyebabnya mengapa sekarang paksu bisa berubah seperti itu.
Mungkin cara saya mengelola keuangan tidak sesuai dengan harapan dia, salah sendiri juga dia ngga ngomong, dan memang itu karakternya, suka over estimate menganggap istrinya ahli nujum bisa tau jalan pikirannya, wakakakak. 

Yang saya lakukan sekarang adalah, mengambil lagi kepercayaannya terhadap saya, bahwa saya beneran ingin berbagi dan bekerja sama, bahwa saya memang mikir kalau tahu beban ekonomi kami tapi itu jauh lebih baik ketimbang saya nggak tahu sama sekali.

Dengan cara menunjukan kalau saya mau bekerja sama dalam hal ekonomi.
Jadilah sekarang saya tetap cari duit di rumah, dan duitnya dipakai untuk pelengkap hal-hal yang belum bisa suami berikan lagi.

Entah itu kebutuhan baju anak-anak, jalan-jalan, hingga semacam dana darurat ketika paksu kewalahan memenuhi kebutuhan kami.


4. Tetap manfaatin waktu buat mencari pemasukan sendiri


Yang jadi pikiran ketika suami nggak mau berbagi beban ekonomi keluarga itu adalah, saya jadi nggak tahu apa yang kami hadapi, nggak tahu pemasukannya, pengeluarannya.

Dan untuk berjaga-jaga, ya mau nggak mau saya tetap berusaha cari uang sendiri dari rumah.
Dengan demikian, meski paksu udah jarang ngasih duit ke saya, saya tetap punya pegangan sendiri.


5. Berdoa 


Ini sebenarnya harus di poin pertama ya, tapi nggak masalah di taruh paling akhir, karena saya ingin memberikan gambaran dulu atas usaha saya, dan bagaimana saya menjalaninya.

Dengan berdoa.
Meminta agar kami selalu diberikan yang terbaik, dijauhkan dari hal-hal yang berat yang nggak bisa saya pikul dengan ikhlas.

Meminta diberikan rezeki, kesabaran, kekuatan.
Dan Alhamdulillah, itu work banget buat saya.

Demikianlah cara saya mengatasi hal yang jadi beban pikiran dan masalah, ketika suami tidak mau terbuka masalah keuangan.
Dijalani saja dengan ikhlas, insha Allah hasilnya juga lebih baik, karena kita lebih tenang menghadapinya.

Aamiin.

How about you, parents?


Sidoarjo, 26 November 2021


Sumber: opini dan pengalaman pribadi
Gambar: canva edit by Rey

4 comments for "Ketika Suami Tidak Mau Terbuka Tentang Keuangan"

  1. Sindirannya makjlep, menusuk jantung secara perlahan wkwkwkkw
    ini serti gagasan menguak dompet suami papers. hihihi
    sepandai-pandainya suami menylempitkan gaji di tempat perrsembunyian, pasti akan tercium juga.
    Klo gak ketemu pasti dibongkar sendiri

    ReplyDelete
  2. Pernah dengar gak mba, 90% pasangan bercerai masalah terbesarnya adalah krn ekonomi. Dan ya memang benar, terbuka pada pasangan memang udah hukumnya wajib ya.
    Kalo gak terbuka, ya buat apa menikah? Betul gak?
    Dan sbg istri juga wajib punya penghasilan sendiri, bener gak? Krn disaat suami bermasalah dgn ekonomi, sang istri bisa jadi back upnya.
    Anw, thanks for sharing and tipsnya ya. Sehat² selalu buat Mba Rey dan keluarga ya.

    ReplyDelete
  3. Semua rumah tangga punya masalah masing2. Mana ada pernikahan /suami yang sempurna. Tapi bagaimanapun, istri selalu merasa dirugikan. Karena wanita itu sangat sensitif. Tapi selagi kebutuhan keluarga dipenuhinya, kenapa harus ribut. Banyak kok, wanita di luar sana dijadikan mesin Atm oleh suami. Diajak bercerai suaminya tak mau. Boro2 ngasih duit, malah dia yang numpang makan pada istri. Mereka bisa bertahan dan kayaknya aman2 saja. Meskipun di batinnya mungkin hancur berkeping2. Selamat sore ananda Rey. Terima kasih telah berbagi pengalaman.

    ReplyDelete
  4. Biasanya sih ada yang namanya uang laki2, buat menuhin hobi. Misalnya buat beli raket badminton, stik game ataupun sepatu futsal. Tapi ketika istri nemu uang itu, jadinya uang sial. Udah diumpetin masih jg ketahuan :D

    ReplyDelete