Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Dari dr. Amang Surya P, Sp.OG Ke dr. Dharma Banjarnahor, Sp.OG

Konten [Tampil]

Dari dr. Amang Surya P, Sp.OG Ke dr. Dharma Banjarnahor, Sp.OG, mungkin ini judul yang tepat dalam menggambarkan perjalanan kehamilan saya, dari anak pertama dan kedua.

Kedua dokter spesialis kandungan ini punya tempat tersendiri di hati saya, terutama dokter Dharma, yang menyertai selama 9 bulan kehamilan kedua, nolongin pas persalinan bahkan teman terbaik dalam berkonsultasi masalah menstruasi yang bermasalah.

Ini agak membagongkan ya, bisa-bisanya saya ibu berhijab, tapi memilih dokter kandungan laki. Dan aslinya di awal saya nggak pernah membayangkan mau milih dokter kandungan laki, karena malu.

Makanya, perjalanan kehamilan pertama saya, hanya 7 bulan dibersamai dengan dokter Amang, setelahnya saya mencari dokter kandungan perempuan, biar nggak malu, karena rencana memang mau lahiran pervaginam.

Baca juga : Begini Cara dan Alasan Saya Memilih Dokter Kandungan di Surabaya 


Cerita Memilih dr. Amang Surya P, Sp.OG Di Kehamilan Pertama

Ketika mengetahui kehamilan pertama, luar biasa bahagianya saya. Kami sudah menikah selama 7 bulan, dan telinga udah brebekan (kalau kata orang Jawa), mendengar pertanyaan,

"Udah isi, belum?"

Karenanya, ketika mengetahui saya positif hamil dengan membaca 2 garis merah di testpack yang saya periksakan, luar biasa bahagianya kami.

Langsung deh minta suami untuk mencari dokter kandungan perempuan, alasannya biar lebih nyaman dan nggak malu.

Ketemu deh, kalau nggak salah dulunya tuh dokter tersebut praktik di sebuah klinik yang ada di sekitar jalan dekat kebun binatang Surabaya (nggak usah di-spill, nggak enak, hehehe).

Daftarlah suami, dan ketika waktunya, pergilah kami ke klinik tersebut. Nggak lama antri, kamipun masuk ke ruangan dokter.

Entah hari itu dokternya capek atau gimana, tapi si dokter lebih banyak diam, dan tiba-tiba mengeluarkan kata yang kurang lebih kayak gini,

"Belum keliatan nih Mbak, memang ada pembengkakan rahim, tapi belum keliatan apa-apa. Nanti kontrol lagi ya, takutnya hamil di luar kandungan

Uwowwww, saya yang hamil di luar nikah aja udah bikin bergidik, ini ditambah hamil di luar kandungan, serasa tulang saya melempem semua, auto overthinking.

Tapi sebenarnya bukan semata 'hamil di luar kandungan' itu yang bikin saya bergidik, melainkan caranya berkomunikasi.

Karena panik, akhirnya minta suami cari dokter cewek yang lain, dan ketemu, kami datang entah seminggu atau 2 minggu setelahnya, dan tanggapan serta pelayanannya juga mirip.

Dokternya cenderung diam, nggak senyum, ditutup dengan,

"Belum keliatan, datang lagi ya, takutnya hamil anggur".

Astagaaahhhh.

Ini para dokter serius nggak mempelajari kondisi psikologis pasien kah?. Apalagi untuk pasien ibu hamil anak pertama?.

Karena kesal, saya akhirnya mengikuti kata teman kantor, di mana dia merekomendasikan dokter kandungannya ketika hamil.

Teman kantor ini juga punya masalah ketika awal periksa pada dokter perempuan, bahkan yang ini malah tragis sih, hehehe.

Dia periksa ke dokter kandungan pertama, dikatakan kalau janinnya tidak berkembang, dan diminta untuk segera dibersihkan atau dikuret.

Nah kebetulan teman kantor ini memang udah agak berumur, dan susah banget mereka mendapatkan kehamilan tersebut, rasanya nggak rela dengan opsi tersebut, akhirnya dia periksa deh ke dokter Amang, dan guest what?.

Janinnya baik-baik aja doooongggg!.

Untung dia nggak ikutin perintah dokter kandungan pertama. Duh!.

Karena itu, saya ikutan deh, langsung daftar ke dokter Amang, meskipun antriannya panjang banget, dan teman saya udah ngomong kalau harga konsultasi dan obatnya memang lebih mahal dari lainnya.

Dan begitulah, cerita saya bertemu dengan dokter Amang Surya, yang ketika itu praktik di sebuah klinik yang ada di jalan Diponegoro, Surabaya.

Baca juga : Pencegahan Hamil Di Luar Kandungan, Simak! 


Momen Memorial Saat Konsultasi Dengan dr. Amang Surya P, Sp.OG

Seingat saya, ada sekitar 6 - 7 bulanan saya periksa kandungan di dokter Amang. Karena setelah mendekati HPL saya kembali mencari dokter kandungan perempuan beserta tempat melahirkannya.

Alasannya, saya berniat untuk lahiran pervaginam, dan saya malu kalau ditolong dokter laki. 

Dan alasan lainnya, saya nggak mampu membayar biaya persalinan di tempat praktik dokter Amang. Saat itu, dokter Amang praktik di RS Husada Utama, you know lah di sana mihil aka mahal. 

Namun selama beberapa bulan menjadi pasien kontrol bulanan sama dokter Amang, ada banyak kenangan yang saya ingat, lebih dari antrian yang lama, hahaha.

Salah satu memori yang paling saya ingat adalah seperti ini,

Saya lupa pastinya, saat itu kontrol kandungan saya usia ke berapa, tapi yang jelas saya udah minta suami untuk daftar sebulan sebelum kontrol ulang.

Dan coba tebak, meski masih sebulan jadwal kontrol saya, tapi ternyata antrian udah lumayan panjang. Namun karena memang butuh ya, dilakonin saja.

Sebulan kemudian, tiba jadwal kontrol saya, kami berangkat ke kliniknya pukul 10 malam, karena perkiraan dilayanin pukul 11. Pas nyampe di klinik, saya terheran-heran, kok pasien masih banyak banget yang antri?.

Ternyata, dokternya belum ada dong, menurut kabar perawatnya, dokternya sedang ada operasi mendadak di RS Husada Utama.

Mau nggak mau, kami menunggu dengan sabar deh.

Sejam kemudian, barulah mobilnya muncul, dan yang mencengangkan, baru aja mobil nyampe di parkiran klinik, belum juga ban mobil berhenti dengan sempurna, pintu mobil sudah terbuka, dan dari dalam turun dokter Amang, tergesa-gesa bahkan setengah berlari menuju ruangannya.

Ketika melewati pasien, tak lupa dia meminta maaf karena baru muncul, dan kami semua yang menunggu rasanya adem banget di hati melihat sikap demikian.

Karena keterlambatan tersebut, saya mendapat giliran diperiksa pukul 1 malam. Meski sudah sebegitu malam, dan wajah dokter terpampang banget rasa lelah yang menggelayut di matanya. Akan tetapi keramahan masih terus diperlihatkan.

Senyum tak pernah putus dari bibirnya, dengan ramah mengajak ngobrol kami, bertanya ada keluhan apa, gimana gerakan bayi, gimana ini itu, mual apa enggak. Pokoknya banyak hal yang dibicarakan, tanpa menunggu kami yang harus bertanya dulu.

Sungguh, saya belum pernah menemukan dokter seperti dia, yang paham betul bagaimana menghargai pasiennya, dan paham banget kalau uang yang dikeluarkan pasien, seharusnya worth it untuk segala kenyamanan pasien.

Mungkin karena keramahan tersebut, rasanya tidak ada pasien yang mengeluhkan kalau biayanya terbilang lebih mahal ketimbang dokter lainnya.

Dan seingat saya, dalam beberapa bulan menyertai kontrol kandungan saya, tak pernah ada satu kalipun saya merasa momen yang nggak asyik, selalu menyenangkan dan merasa sangat nyaman dengan keramahannya.


Tentang dr. Amang Surya P, Sp.OG

dr. Amang Surya P, Sp.OG dulunya memang dokter spesialis kandungan yang terkenal, dan ketika saya googling untuk keperluan menulis ini, saya baru ngeh kalau ternyata beliau sudah menjadi spesialis Obstetri dan Ginekologi (Obgyn) terkemuka di Surabaya yang ahli dalam fertilitas dan program hamil (IVF/bayi tabung)

Dr. dr. Amang Surya Priyanto, Sp.OG, F-MAS lengkapnya. menempuh S1 di Fakultas Kedokteran Unair Surabaya, 1985 – 1992.

Di 1998 – 2002, beliau melanjutkan kuliah S2 ) Kuliah Spesialis Obstetri dan Ginekologi (Sp.OG) di Fakultas Kedokteran UNSRI, Palembang.  

Kemudian, pada tahun 2005 – 2012 melanjutkan Subspesialis Fetomaternal (F-Mas) di Fakultas Kedokteran UNAIR, Surabaya. 

Saya baru ngeh, ternyata ketika kami menggunakan jasanya untuk kontrol kandungan, di tahun tersebut beliau sedang melanjutkan sub spesialisnya di Unair.

Saat ini Dr. dr. Amang Surya Priyanto, Sp.OG, F-MAS praktik di 3 RS besar di Surabaya, yaitu:

  • ASHA IVF RS PHC SURABAYA, di mana beliau menjadi salah satu dokter fertilitas terbaik yang menangani pasien-pasien pejuang garis dua.
  • Ciputra Hospital Surabaya di mana beliau fokus pada Bedah Minimal Invasif (Minimal Access Surgery/MAS), dan Subspesialisasi Fertilitas dan IVF.
  • Waron Hospital Surabaya, yang merupakan rumah sakit miliknya.


Dokter Kandungan yang Menangani Kehamilan Pertama Saya

Selain dokter Amang Surya, dan 2 dokter perempuan yang bikin saya overthinking di awal kehamilan, ada pula dokter kandungan perempuan, yang menangani persalinan saya.

Jujur, saya beruntung banget asal milih dokter di RS SMS (Surabaya Medical Service) karena letaknya di tengah kota, dekat rumah mertua, dan dokternya kebetulan ada cewek, plus biayanya terjangkau.

Dokternya adalah dr. Suraiya, Sp.OG, yang bikin saya jantungan, tapi 'bertanggung jawab'. Beliau meminta saya sesar di usia kandungan yang masih kurang sebulan lagi. Shock buanget pokoknya saat itu.

Tapi, beliau juga yang memeluk saya di ruang operasi, ketika saya gemetar ketakutan minta ampun, karena pertama kali menjalani sesar.

Sepertinya, sekarang dokter Suraiya ini hanya praktik di RS PKU Muhammadiyah Surabaya. Btw, beliau adalah dokter kandungan perempuan yang asyik sih, menurut saya.


Cerita Memilih dr. Dharma Banjarnahor, Sp.OG Di Kehamilan Kedua

Kehamilan kedua, bahagianya juga sama.

Kami sudah menunggu lama, karena si Kakak Darrell sudah hampir 7 tahun, dan ketika saya udah pasrah anak cuman satu aja, si Kakak. Tiba-tiba suatu hari saya iseng beli testpack karena penasaran menstruasi saya terlambat datangnya.

Dan iyes, garis dua merah, tapi masih samar.

Belajar dari pengalaman kehamilan pertama, jadi kami putuskan akan ke dokter setelah telat 4 mingguan, biar janinya udah terlihat lebih jelas.

Namun sayangnya, keesokan harinya kali ya, tiba-tiba saya ngeflek, panik banget ketika melihat pakaian dalam saya ada bercak darahnya.

Overthinking jauh lebih parah ini mah, karena saya paling takut kalau sampai keguguran.

Maka secepatnya kami cari dokter kandungan, dan asal pilih aja pakai dokter kandungan yang praktik di apotek Pahala Sidoarjo, nggak jauh dari tempat tinggal kami. 

Dan begitulah, itu kali pertama saya ketemu dr. Dharma Putra Perjuangan Banjarnahor, Sp.OG.

Ketika pertama kali bertemu, kesannya biasa. Dokter Dharma terkesan lebih diam, tapi ketika kami masuk, senyumnya mulai menyertai wajahnya, tak henti sampai kami pulang.

Yang paling bikin nyaman dari dokter ini adalah, bukan hanya terlihat diam, tapi ternyata beliau sabar banget menghadapi pasiennya.

Menjawab dengan detail apapun pertanyaan kami, bahkan terlalu detail, sampai-sampai beliau seperti lupa, kalau kami pasien, bukan mahasiswa kedokteran, wakakakakak.

Kami selalu keluar dari ruangannya dengan senyum puas dan bahagia. Karena apapun yang kami keluhkan ditanggapi. Apa juga yang kami tanyakan dijelaskan sedetail-detailnya. Pokoknya, sepertinya prinsip beliau adalah, mengobati overthinking ibu hamil itu penting.

Selain sikapnya yang ramah, tempat praktiknya dekat banget dari tempat tinggal kami, sehingga kami nggak perlu antri lama di sana. Pun juga, harga kontrolnya murah meriah banget, obat-obatan yang diberikan juga nggak mahal-mahal amat, standarlah.

Bukan hanya itu, beliau juga nggak sangat terbuka dengan memberikan pilihan sepenuhnya pada pasien, mau lahiran pervaginam, atau sesar, monggo wae.

Dan beliau juga nggak pelit berbagi ide, di mana dan gimana nanti saat lahiran. Kayak saya dulunya yang bingung mau lahiran di mana, dan memutuskan untuk sesar karena hamil pertama juga sesar.

Dokter Dharma lalu memberikan ide untuk pakai BPJS saja, dia juga yang memberitahukan gimana caranya aagar BPJS nya bisa dipakai, harus ke faskes 1 dulu, disuruh periksa darah juga di puskesmas faskes 1. Lalu, menjelang persalinan juga diminta ketemuan di RS tempat dia praktik, di RSUD dr. Soewandhie Surabaya.

Berkat beliau, saya melewati masa kehamilan dan persalinan yang benar-benar terencana, sejak awal hamil, hingga persalinan.

Saya bahkan sudah mempersiapkan semuanya sejak awal. Di tanggal pilihan saya untuk sesar, kami bisa berangkat ke RS dengan bawa koper besar, sudah dengan BPJS bayi yang siap diaktifkan, serta berbagai perlengkapan lain untuk sekalian bikin Akte Kelahiran.

Semua perhatian lebih dari dokter Dharma ke pasiennya, benar-benar membekas di hati, dan nggak heran pasiennya semakin hari semakin banyak.

Apalagi, tarifnya lebih terjangkau dibanding dokter kandungan lainnya, khususnya dokter kandungan yang ramah ya.


Tentang dr. Dharma Banjarnahor, Sp.OG

Sama dengan dokter Amang, dr. Dharma Putra Perjuangan Banjarnahor, Sp.OG, juga telah menyelesaikan Subsp.KFM dan menjadi seorang Dokter Kandungan di Ciputra Hospital Surabaya.

Dokter Dharma menyelesaikan pendidikan dokter umumnya di Universitas Sumatera Utara tahun 1991 - 1998, kemudian melanjutkan spesialis kandungan di Unair Surabaya pada tahun 2005 - 2010.

Kemudian di tahun 2019 - 2022, beliau menyelesaikan Subsp. KFm Maternal and Fetal Medicine Residency Program di Unair Surabaya.

Saat ini,  dr. Dharma Putra Perjuangan Banjarnahor, Sp.OG, Subsp.KFM praktik di Ciputra Hospital Surabaya, dan di RSUD dr. M. Soewandhie.

Baca juga : Ibu Hamil Makan Mie Instan, Boleh Nggak Sih? 


Kesimpulan dan Penutup

Perjalanan kehamilan saya mengajarkan satu hal penting, yaitu dalam memilih dokter kandungan bukan soal jenis kelamin dokter, tapi soal rasa aman, empati, dan komunikasi yang membuat ibu merasa didampingi, bukan sekadar diperiksa.

Dan perjalanan kehamilan saya, bersama Dr. dr. Amang Surya Priyanto, Sp.OG, F-MAS di kehamilan pertama, maupun bersama dr. Dharma Putra Perjuangan Banjarnahor, Sp.OG, Subsp.KFM  di kehamilan kedua, saya belajar bahwa dokter yang baik bukan hanya yang pintar secara medis, tetapi juga yang mampu menenangkan hati pasiennya.

Apalagi kehamilan merupakan perjalanan penuh emosi, mulai dari campuran bahagia, takut, panik, dan harap, juga di momen seperti itu, kehadiran dokter yang ramah, sabar menjelaskan, serta menghargai keputusan pasien, terasa seperti anugerah besar.

Dari pengalaman ini, saya sadar bahwa kenyamanan pasien jauh lebih penting daripada gengsi, asumsi, atau bahkan rasa malu. Karena ketika kita merasa aman dengan dokter, kita bisa menjalani kehamilan dengan lebih tenang, lebih siap, dan lebih bahagia.

Dan buat para calon ibu di luar sana, semoga cerita saya ini bisa jadi pengingat, pilihlah dokter yang membuatmu merasa didengar, bukan sekadar ditangani. Karena di balik setiap proses persalinan, ada cerita, ada perjuangan, dan ada hati yang ingin dihargai.


Baubau, 17-02-2026

Referensi:


Post a Comment for "Dari dr. Amang Surya P, Sp.OG Ke dr. Dharma Banjarnahor, Sp.OG"