Izinkan Anak Menikmati Emosi Dan Rasa
Belajar dari diri sendiri, di mana sejak kecil saya lahir dan besar di lingkungan budaya yang lumayan kolot. Menganggap sebuah emosi itu buruk, dan tak mengizinkan sama sekali anak, bahkan semua orang memiliki, apalagi menikmati hal itu.
Saya tumbuh mengikuti anggapan tersebut, cengeng tapi nggak boleh nangis. Bahkan parahnya lagi, lelah tapi tak boleh istrahat.
Lalu, saya bertemu dengan papinya anak-anak, yang dididik dengan ajaran adalah, biasa ketika lelah ya harus istrahat. Adalah biasa ketika bad mood dan minta waktu menyendiri, serta adalah normal ketika pengen nangis, ya nangis aja dulu.
Awal-awalnya saya shock dengan cara hidup keluarga papinya anak-anak, yang bahkan ketika dapur berantakan, tapi sudah lelah, ya udah biarin aja dulu.
Yang ketika normal ada orang tidur siang, bahkan sedang masak dan lelah, ya matiin kompor dan tiduran sebentar.
Intinya, saya semacam menemukan sesuatu yang berlawanan dengan cara hidup bagaimana saya dibesarkan. Awalnya nggak nyaman, tapi lama-lama nyaman juga, meskipun nggak bisa diikutin sepenuhnya 100%.
Ternyata sulit mengubah kebiasaan hidup yang sudah kita lakukan sejak kecil, dan betapa ngaruhnya kebiasaan yang kita bentuk sejak kecil.
Baca juga : 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat Menyambut Ramadan
Ketika Tak Diizinkan Menikmati Emosi dan Rasa
Saya ingat betul ketika menikah dulu, kebetulan saya menikah di Baubau, di rumah kakak saya. Mama yang menyiapkan semuanya, termasuk memesan dekorasi pelaminan dan kamar serta lainnya.
Suasana sangat ramai, kamar pengantin dihias dengan indah oleh vendor yang dipilih mama. Ada kali 2 hari mereka menyelesaikan ngedekor semuanya, termasuk kamar.
Resepsi diadakan sehari bertepatan dengan akad nikahnya. Saya akad nikah di pagi hari, siang harinya sekiar pukul 12 atau 1 siang, kami lalu duduk di pelaminan.
Sekitar pukul 3 atau 4 sore, acara resepsi selesai, meninggalkan banyak makanan sisa.
Setelah selesai, bukannya istrahat, kakak malah meminta kami langsung beres-beres. Rumah memang terlihat sangat kotor saat itu, jadi saya dan suami lantas sadar diri ikut membersihkan, meskipun baru saja akad nikah dan resepsi.
Ibu mertua sampai sedikit kesal melihat kami yang bahkan belum juga menikmati kamar pengantin, eh malah sudah dibongkar semuanya, lengkap denga bunga-bunga dan hiasan lainnya.
Menurut kakak saya, agar cepat selesai, nggak nyimpan pekerjaan. Padahal, badan rasanya udah mau rontok, gegara berbagai kegiatan yang dilalui sejak kemarenan.
Dan mama sebenarnya membayar dekorasi tersebut hingga bebehari setelah acara.
Begitulah, bahkan saya nggak dibolehkan menikmati rasa ingin merasakan tidur di kamar pengantin. Atau minimal rasa istrahat setelah badan nyaris rontok saking lelahnya.
Tapi itu belum seberapa
Tahun lalu, saya kecelakaan jatuh dari motor ketika membonceng mama dan Adik Dayyan. Alhamdulillah mama nggak kenapa-kenapa, meskipun benjol di kepalanya.
Saya juga secara keliatannya nggak kenapa-kenapa, cuman benjol aja di bagian pelipis kanan, muka saya jadi kotak sebelah, memar di bagian bahu kanan sama lutut kanan.
Tapi yang saya rasakan, ketika jatuh itu, saya seperti hilang kesadaran, rasanya ngantukkkk banget, tapi suara tangisan si Adik di belakang saya, memaksa saya untuk terbangun.
Saya takut dia kenapa-kenapa, karena nggak pakai helm juga.
Lalu, saya kan kembali berkendara, karena mama tidak berusaha untuk kasih ide mampir di puskesmas atau semacamnya. Dan di tengah perjalanan, saya merasakan kayak mau pingsan, tapi dikuat-kuatin, dada rasanya sesak.
Sampai di rumah kakak juga, ide saya periksa ke RS juga nggak ditanggapin, cuman disuruh istrahat, padahal rasanya udah berkunang-kunang.
Tapi nggak sampai di situ saja, masih dalam keadaan pusing, dada sesak, saya nggak bisa sembarang nafas, karena dada bagian kanan tuh sakitnya minta ampun. Tapi malah diajak untuk cari beberapa barang.
Sorenya langsung pulang meskipun dianterin, dan sampai di rumah mama saya langsung harus masak dan beraktifitas seperti biasanya.
Ada kali sekitar 3 mingguan baru hilang tuh nyeri di dada, luar biasa sakit, sementara saya harus selalu beraktfitas seperti biasanya.
Baca juga : Jatuh Dari Motor
Di sisi lain, terlihat bagus ya, biar nggak manja sama rasa nyeri, tapi tau nggak sih, saya merasa lelah batin, berasa hidup dengan kejar-kejaran setiap hari, bahkan tak bisa menghela nafas dengan tenang.
Ada semacam pemberontakan di hati, apalagi saya sudah merasakan betapa asyiknya ketika saya diberikan waktu untuk menikmati emosi dan rasa, di keluarga papinya anak-anak.
Selain tak dibolehkan menikmati rasa sakit, saya juga tak dibolehin menikmati emosi. Nggak boleh nangis meski sedih, disuruh istigfar saja dan sabar.
Nggak boleh protes, meski ketidak adilan menerpa saya, dan itu membuat saya muak, dan tak pernah betah berada di tengah-tengah keluarga.
Kebiasaan Menikmati Emosi dan Rasa Di Keluarga Papi Anak-Anak
Berbeda dengan kebiasaan di keluarga saya, di keluarga papinya anak-anak justru berkebalikan. Saya bisa menikmati rasa lelah saya, dan itu tak masalah.
Ketika sakit, semua meminta untuk diperiksa ke dokter, minum obat dan lainnya. Untuk case yang ini awalnya saya pikir karena keluarga papi anak-anak kan awam terhadap kesehatan, sementara keluarga saya memang orang kesehatan.
Tapi, rasanya memang beda loh ketika kita lagi sakit, terus mendapatkan validasi bahwa,
"Iya, kamu sakit, kamu butuh istrahat, kamu butuh diobatin!"
Itu tuh rasanya semacam menjadi manusia yang normal nggak sih?.
Di perlakukan dengan diberikan waktu untuk menikmati semua rasanya, semacam dimanusiakan, diizinkan menjadi manusia.
Manusia yang butuh istrahat, manusia yang butuh menangis saat merasa sakit dan sedih, manusia yang butuh tertawa atau berbicara ketika dada sesak.
Karen itulah, saya selalu merasa lebih nyaman berada di tengah-tengah keluarga papinya anak-anak, meskipun saya nggak paham ya, apakah mereka benar-benar tulus kepada saya.
Tapi, karena saya bisa menjadi manusia normal, jadinya saya nyaman.
Izinkan Anak Menikmati Emosi Dan Rasa
Belajar dari hal tersebut, saya ingin menerapkan ke diri sendiri, untuk menghargai hak anak menikmati rasa dan emosinya.
Well, masih dalam tahap belajar sih, kadang juga saya masih sering lupa untuk itu.
Tapi, dengan memikirkan diri sendiri, kesadaran tersebut muncul kembali.
Memang butuh kesabaran luar biasa sih untuk menerapkan hal ini, apalagi sekarang saya hidup di tengah keluarga dan kultur yang memandang, emosi dan rasa itu nggak penting.
Budaya di sini memang seringnya memahami bahwa semua emosi itu bentuknya buruk, dan ketika anak-anak mengalami emosi buruk, seperti menangis, bersedih dan lainnya, orang-orang cenderung memaksa anak untuk segera diam atau jangan bersedih.
Padahal, dengan mengizinkan anak menikmati emosi dan rasa, bikin mereka bisa membedakan perasaan dan suasana hatinya. Berikutnya, PR buat parents untuk mengajarkan mereka agar bisa mengelola emosinya dengan baik.
Gimana caranya?
Berikutnya akan kita bahas lebih detail ya.
How about you, parents?.
Baubau, 13-02-2026

Post a Comment for "Izinkan Anak Menikmati Emosi Dan Rasa"
Link profil komen saya matikan ya Temans.
Agar pembaca lain tetap bisa berkunjung ke blog masing-masing, gunakan alamat blog di kolom nama profil, terima kasih :)