Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Waktu Terbaik Menikmati Peran Ibu adalah, Ketika Baru Punya Satu Anak Saja

Konten [Tampil]
Waktu Terbaik Menikmati Peran Ibu

Parenting By Rey - Beberapa waktu lalu, saya melihat konten video reels seorang teman di instagram, di mana dia ditanya banyak orang karena anaknya udah 5 tahun, tapi belum kasih adik ke anaknya.

Entah kenapa ya, saya tiba-tiba aja tuh, sekonyong-konyong dah, langsung komen, bahwa waktu terbaik menikmati peran seorang ibu seutuhnya tuh, adalah ketika baru punya anak seorang saja, dan itu baru saya sadari, ketika udah punya anak dua.
Waktu Terbaik Menikmati Peran Ibu

Entahlah, kenapa bisa setiba-tiba itu di kepala saya muncul pikiran tersebut, atau mungkin memang pikiran itu sudah lama tersimpan di alam bawah sadar saya ya?

Lalu, saya coba pikirkan dengan mendalam, dan memang sih, pikiran itu udah menetap di kepala, hanya saja belum pernah terlontar keluar.


Melihat Pola Parenting Ibu Satu Anak


Saya pikir, salah satu hal yang bikin saya punya pikiran seperti itu, karena melihat pola parenting beberapa ibu, yang baru punya satu anak saja.

Waktu Terbaik Menikmati Peran Ibu
Si Adik Dayyan yang aktif

Kebanyakan ibu-ibu muda tersebut, begitu semangat memamerkan ilmu parenting yang mereka adaptasi ke anak mereka.

Tak lupa diupload ke media sosial, kadang bahkan entah tanpa sengaja, konten yang mereka sebarkan, sedikit men-judge ibu lain yang belum bisa menerapkan ilmu parenting ke anak, seperti yang mereka lakukan.

Dulunya, saya cuman senyum masam ketika melihat konten atau tulisan seperti itu, sambil berkata di dalam hati,
"Cieeehhhh, yang lagi semangat jadi ibu, karena baru merasakan jadi ibu seorang anak"
Duh ya, si Rey memang sering julid juga ya, hahaha.

Sampai akhirnya saya nggak sengaja baca-baca tulisan lama saya di blog reyneraea.com, di mana di sana saya memang sejak dulu sering bercerita tentang hal-hal atau momen yang saya lewati bersama si Kakak, ketika si Adik belum hadir di antara kami.

Dan saya tertegun.

Iya loh, ternyata saya juga pernah kayak ibu-ibu muda tersebut, hahaha.
Idealis, bahkan terbilang super idealis!

Bedanya, saya bisa dibilang jarang, bahkan hampir nggak pernah menuliskan sesuatu yang terbaca bahwa pola pengasuhan saya paling benar, yang lain itu salah.

Karena as you know parents, kalau yang pernah membaca tulisan-tulisan saya, pastinya tahu banget, saya tuh menulis kek lagi ngomong ke diri sendiri, alias cuman fokus ke diri sendiri, menceritakan diri sendiri.
Jadinya jarang banget bahas orang lain, kecuali yang memang punya hubungan langsung dengan saya.


Pengalaman Menjadi Ibu Satu Anak


Selain membaca tulisan lama, hal lainnya yang bikin saya menyadari bahwa punya satu anak adalah the best moment being a mom buat saya adalah, ketika melihat foto-foto lama yang sebagian sempat tercetak, sebagian juga sempat tersave di google drive.

Sebagian lainnya sudah hilang bersama hardisk laptop yang rusak, hahaha.
Di foto-foto tersebut, kembali lagi memori lama berjalan di pikiran saya, betapa masa itu saya amat sangat menikmati jadi seorang ibu yang fokus.

Nggak heran ya, si Kakak dulu tumbuh jadi anak yang manis sebelum si Adik lahir.
Beda banget sama si Adik, yang meski lebih aktif, tapi juga lebih keras kepala dibanding kakaknya dulu.

Sejak bayi, si Kakak hanya mengkonsumsi makanan yang sehat, nggak mau makan makanan instan. pertama kali kenal MPASI, dia sering sarapan dengan buah atau olahan buah aja.

Si kakak juga tumbuh jadi anak yang sopan, nggak pernah coret-coret dinding, nggak berani banting ponsel saya, ke masjid nggak berani lari-lari, karena saya sangat tegas untuk hal tersebut.
Intinya, si kakak adalah gambaran anak-anak yang terdidik dan terasuh dengan baik.

Karena saya mengasuhnya dengan lebih fokus, dibanding mengasuh si Adik.

Bukan hanya si kakak yang bisa tumbuh dengan baik dan terurus, tapi saya juga sama sekali nggak merasa stres menjadi seorang ibu.
Nggak pernah percaya yang namanya depresi, ya karena merasa nggak punya beban berlebih dalam mengasuh anak.

Bahkan, saya menganggap, si Kakak adalah anugerah terindah yang dikirim Tuhan untuk saya, yang mengajarkan saya untuk menjadi seorang wanita dan ibu seutuhnya.

Si kakaklah yang memaksa saya bisa masak, bukan hanya masak makanan biasa, saya bahkan bisa bikin cake sampai cookies sehat, padahal sebelumnya boro-boro ya, hahaha.  

Intinya, saya baru menyadari, kalau the best feeling as a mom itu, ya ketika si kakak baru lahir dan menikmati masa tumbuh kembangnya bersama itu.


Ketika Menjadi Ibu Dua Anak


Seiring waktu, saya bisa melihat melalui tulisan beberapa orang, betapa nambah anak itu, mengubah mindset mereka.

Waktu Terbaik Menikmati Peran Ibu
Berdamai ketika melihat si Kakak bawa masuk kucing tetangga, lalu kucingnya pipis dan pup, hahaha

Dari yang awalnya terbaca kaku banget pola asuhnya, harus begini, harus begitu.
Harus ikut pola parenting dari pakar yang terkenal.

Sampai akhirnya, berangsur-angsur semua idealisme tersebut runtuh bersama tubuh yang gempor mengurus anak lebih dari satu, hahaha.

Ketika itulah, mindset mulai berubah, pelan-pelan mulai menurunkan standar masing-masing, lalu membagikan hal tersebut, dengan alasan kewarasan.

Dan saya yang membacanya cuman senyum-senyum aja.
Karena teringat, saya juga ya gitu, hahaha.

Ketika menjadi ibu lebih dari satu anak, saya akhirnya mengenal yang namanya stres hingga baby blues.
Itupun salah satu penyebabnya karena saya harus menyusui.
Sungguh ya, perjuangan seorang ibu menyusui itu luar biasa berat, karena nggak semua ibu beruntung punya suami siaga.

Bagi yang nggak punya suami siaga, siap-siap aja kena baby blues, terutama ketika ngantuk tak terhingga di tengah malam, tapi si bayi rewel, dan karena hanya sang ibu yang bisa menyusui, jadilah hanya sang ibu yang harus begadang sendiri, ditemani suara ngorok membahana dari suaminya.

Itu rasanya, tiba-tiba kesedihan yang menyesakan dada muncul, sampai dulu saya pernah lempar si bayi ketika rasa depresi itu muncul, beruntung saya lemparnya nggak kencang, dan masih di kasur, hiks.

Punya 2 anak, juga memaksa saya untuk menjadi ibu yang bukan saya banget.
Saya yang idealis, terpaksa harus menurunkan ekspektasi diri untuk mau hidup di alam nyata (emang selama ini hidup di alam apa Rey? hahaha).

I mean, saya jadi belajar banyak banget hakikat menjadi seorang ibu.
Bahwa menjadi ibu itu, merupakan anugerah terbesar dalam hidup.

Menjadikan kita, manusia kepercayaan dan pilihan Tuhan dalam mengasuh titipan-Nya.
Namun, hal itu tidak serta merta membuat kita menjadi malaikat.

Kita tetaplah menjadi seorang manusia.
Karenanya kita nggak akan mampu menjadi idealis, layaknya menjadi ibu satu orang anak.

Dan kita harus merelakan, masa-masa yang kita pikir terindah, menjadi seorang ibu, ketika baru punya satu anak saja.

Karena, masa terindah menikmati peran seorang ibu adalah ketika baru punya satu anak saja.
Namun, masa terbaik menjadi seroang ibu adalah, ketika akhirnya punya anak lebih dari satu, dan masih tetap semangat belajar menerima keadaan yang baru, yang tentunya beda dengan masa di mana baru punya anak satu doang.

Dan kita akhirnya bisa menikmati, masa indah menjadi ibu 2 anak atau lebih.
Karena anak-anak, adalah semacam malaikat kecil, yang mendorong kita menjadi manusia yang lebih baik, insha Allah.

How about you, Parents?

Sidoarjo, 14 April 2022


Sumber: pengalaman pribadi
Gambar: Canva edit by Rey dan dokumen pribadi

Post a Comment for "Waktu Terbaik Menikmati Peran Ibu adalah, Ketika Baru Punya Satu Anak Saja"