Ketika Si Adik Dilaporkan Mukul Teman Sekolahnya
Beberapa waktu lalu, hampir pukul 1 siang, saya baru aja duduk di kursi kantor, selepas menjemput si Adik di sekolahnya.
Tiba-tiba sebuah pesan WA masuk, dari sebuah nomor asing.
"Assalamualaikum bu, dengan mamanya Dayyan? Maaf mengganggu sebelumnya bu, sudah sering anak saya Fa***n H****i setiap hari mengadu, ....."
Intinya, dalam pesan tersebut, si ibu melaporkan bahwa anaknya dipukul bagian dadanya, bahkan ini yang kedua kalinya dan sampai berbekas.
Tidak lupa si ibu mengirimkan foto dada anak yang ada bekas memerah, namun ketika saya amati, bekas tersebut seperti cakaran.
Saya nge-freeze sejenak, nggak berani bertindak apa-apa, karena paham betul akan karakter saya yang panikan dan seringnya jadi lebih lebih emosional.
___________________
Btw, ini tulisan dan kejadian di beberapa waktu lalu, di tanggal 27 bulan April lalu, dan saya baru bisa meneruskan tulisannya, sekarang, hahaha.
Lanjut,....
____________________
Setelah beberapa menit, perasaan berkecamuk di dada saya sudah sedikit mereda, saya pun perlahan bertanya kepada si Adik.
"Adek, tadi kenapa pukul teman?"
Si Adik cuman terdiam, dan saya putuskan untuk tidak menanyakan lebih lanjut, setidaknya untuk saat itu.
Saya putuskan untuk chat kakak saya aja, dan dikasih masukan untuk minta maaf ke ibunya si anak yang dipukul itu, dan menjelaskan sesuai pengakuan versi si Adik.
Jadi mau nggak mau saya harus 'mengademkan' hati, untuk bisa lebih lembut bertanya ke si Adik.
Mengapa Si Adik Memukul Temannya?
Setelah saya merenung agak lama, saya jadi memahami apa yang sedang terjadi pada si Adik. Sepertinya dia memang sedang nggak baik-baik saja, dan saya sebagai ibu, tak atau belum bisa hadir memenuhi kekosongan hatinya.
Si Adik memang tumbuh jadi anak yang sensitif banget, dan sedikit temperamen. Maklum dah dia fatherless dan sering menyaksikan perjuangan maminya menghadapi penelantaran sejak di Surabaya.
Baca juga : Mendampingi Anak Lelaki Fatherless, Ini yang Saya Lakukan
Jangankan mendapatkan perlakuan yang kasar, bahkan nada bicara saya berubah dikit aja, bisa bikin dia kesal, manyun dan nangis.
Nah, pagi itu saya memang kesal sama si Adik yang kelakuannya bikin naik darah pagi-pagi. Udahlah slow motion banget, banyak omong plus banyak tingkah pula.
Udah gitu, ketika nada bicara saya berubah, dia langsung marah dan banting-banting kaki. Langsung aja saya kesal dan ninggalin dia ketika di kos.
Meskipun akhirnya saya nunggu dia juga, tapi ternyata suasana hatinya tak juga membaik, karena saya juga masih kesal. Jadi saya nggak mau ngomong sama dia, tentu saja nggak peluk dia ketika sampai di sekolahnya.
Sementara, memeluk si Adik adalah kegiatan wajib kami setiap hari, dan ternyata itu mempengaruhi mood-nya sepanjang hari.
Di sisi lain, si Adik memang sudah sering cerita kalau dia nggak suka sama temannya (yang dilaporkan kena pukul si Adik) karena sering mengejek dia.
Entah diejek cengeng, diejek memakai kacamata, hingga hal-hal lain yang sebenarnya menurut orang Buton itu biasa, tapi tidak buat si Adik yang terbiasa hidup di Jawa, sebelumnya.
Misal, logat Buton seperti,
"Yang itu, bodoh!"
"Ih sini mi, bodoh!"
Dan semacamnya, yang sebenarnya udah menjadi obrolan biasa buat orang Buton.
Tapi, si Adik menanggapi lain, dia merasa dikatakan 'bodoh', hehehe.
Karena itulah, dia jadi sering berantem dengan teman-temannya, meskipun setelahnya baikan lagi. Tapi karena hari itu mood-nya lagi buruk, jadinya ya gitu.
Meski demikian, saya sangat tidak membenarkan sikap si Adik yang duluan memukul temannya.
Tips Menghadapi Anak Yang Dilaporkan Memukul Teman Sekolahnya Ala MamiRey
Sejujurnya kalau ditanya gimana cara menghadapi anak yang dilaporkan memukul temannya di sekolah, saya pengennya sih menghindar saja. Minta papinya yang hadapi saja.
Sayangnya kan papinya nggak jelas, nggak ada komunikasi sama sekali. Jadinya mau nggak mau saya hadapi sendiri aja. Meskipun, ya... bentar, saya minum air putih dulu *eh, hahaha.
Jadi, begini kira-kira yang saya lakukan ketika menghadapi momen atau situasi di mana ada yang melaporkan bahwa anak memukul temannya di sekolah.
1. Tenangkan Diri
Ini penting buat saya (buat saya yang memang sering panikan ya), karena ketika panik saya bisa jadi temperamen ke anak.
Jadi yang saya lakukan ketika mendengar hal demikian, ya saya harus menjauh sejenak dari anak, lalu melakukan apa saja yang bisa bikin kepala dingin dan hati jadi lebih tenang.
Bisa dengan minum dulu, istigfar pelan dulu, curhat dulu baik ke teman/orang yang dipercayai, atau bisa juga dengan curhat melalui tulisan.
Intinya gimana caranya biar saya bisa lebih tenang, agar enggak cuman ngamuk aja ke anak, hehehe.
2. Konfirmasi Ke Anak
Setelah tenang, saya coba konfirmasi ke anak dengan cara yang bikin anak nyaman. Untuk cara ini, tentunya setiap parents/ibu punya caranya masing-masing disesuaikan dengan kenyamanan anak.
Kalau si Adik, akan lebih terbuka bercerita, kalau saya nanyanya dengan cara bercerita. Karena dia memang sangat suka bercerita.
Jadi ya, sebisa mungkin saya ajak dia bercerita dulu.
Meskipun, off course nggak selalu bisa berjalan dengan baik, kadang saya juga nggak sabaran, jadinya bertanya dengan cara interogasi, yang berujung si Adik nggak bisa jujur malah mewek dan nangis.
Ujung-ujungnya saya makin kesal, dan buyar sudah momen menyelesaikan masalahnya, hahaha.
Tapi sebisa mungkin, ketika ada momen parents lain mengadu tentang anak-anak, saya usahakan untuk bisa segera tenang, bertanya dengan baik, agar bisa tau masalahnya dari versi anak sendiri.
Dan setelah saya tanya dengan baik melalui bercerita, si Adik akhirnya mau menceritakan, kalau ternyata dia kesal karena temannya mengejeknya hampir setiap hari.
Kadang juga mereka bercanda, tapi ada teman yang bercanda berlebihan, demikian juga teman yang dia pukul tersebut.
Karena si Adik memang sedang kesal, terus dibercandai dengan ejekan, akhirnya dia nggak bisa menahan kesal dan memukul temannya tersebut.
Dan teman tersebut juga membalas pukul ke si Adik.
3. Hubungi Parents Teman Anak
Setelah mendapatkan cerita dari si Adik, dan menasihatinya untuk mau meminta maaf keesokan harinya, saya pun baru membalas chat dari parents yang melaporkan tindakan si Adik tersebut.
Dengan hati-hati menyusun kata, dimulai dengan meminta maaf yang sebesar-besarnya, lalu memberitahukan kalau sudah berbicara dengan si Adik dan dia ngaku kalau memukul temannya.
Lalu, memberikan alasannya dengan bahasa yang sangat sopan dan mudah dimengerti.
Dan tak lupa ditutup dengan pernyataan, bahwa saya sebagai parents sangat tidak membenarkan si Adik bertindak kasar, dan meminta si Adik untuk minta maaf ke temannya keesokan harinya.
Lalu ditutup dengan permohonan maaf kembali.
Awalnya, ibu si anak yang dipukul tersebut masih denial dan mungkin karena kesal. Dia mengatakan bahwa anaknya bilang kalau si Adik duluan yang sering mengganggunya.
Dan menanggapi hal tersebut, saya memilih untuk menjelaskan kalau anak-anak seringnya saling tuduh, tapi tetap menitik beratkan pada permohonan maaf.
Tak lupa juga saya sampaikan hal apa yang sudah saya lakukan ke anak agar tak mengulangi perbuatan kasarnya. Mulai dari meminta si Adik minta maaf ke temannya, lalu meminta tolong ke wali kelas untuk tak masalah kasih sangsi jika si Adik masih berani main fisik.
Dan diakhiri dengan tulisan kepedulian atas kondisi teman si Adik tersebut, ditambah doa agar tetap sehat dan kuat.
Alhamdulillah setelah membaca tulisan saya, si ibu jadi lebih calm down, dan ikut berterima kasih serta meminta maaf.
Tips Agar Anak Tidak Temperamental dan Memukul Teman Sekolahnya Ala MamiRey
Setelah menyelesaikan masalah hati parents yang kesal dengan tindakan si Adik kepada anaknya. Langkah berikutnya adalah memastikan si Adik untuk tak mengulangi perilaku kasarnya tersebut. Dengan cara:
1. Lebih Peduli Dengan Kondisi Psikologis Anak, Terutama Sebelum Berangkat Sekolah
Saya pernah membaca di mana gitu, tentang bagaimana pentingnya kita sebagai parents khususnya ibu, untuk menjaga mood anak tetap baik di pagi hari, terutama ketika hendak berangkat sekolah.
Sebenarnya bukan hanya mood anak sih, kita sebagai orang dewasa juga perlu menjaga mood agar tetap baik di pagi hari, karena akan mempengaruhi seharian kita.
Terutama ketika anak hendak berangkat sekolah, setidaknya saya tidak melupakan ritual kami, yang ada cium tangan dan pelukan.
Memang sih sejak dulu anak-anak tuh saya biasakan untuk cium tangan dan pelukan. Anak-anak semacam memahami indikasi maminya nggak marah lagi, kalau udah memeluk.
Dan perasaan mereka pun jadi lebih tenang.
Apalagi si Adik khususnya, jadi sensitif karena tumbuh kembangnya tidak di suasana parents yang harmonis, huhuhu.
Dengan pelukan, si Adik jadi lebih tenang dan bisa memahami nasihat serta pesan maminya untuk lebih sabar dan tidak memukul temannya.
Baca juga : Cerita Menghadapi Pertengkaran Anak
2. Menasihati Anak Sesuai Kenyamanan Anak
Langkah berikutnya adalah, sering-sering menasihati si Adik melalui story telling, karena si Adik memang sangat suka bercerita.
Jadi di antara ceritanya, saya bisa menyelipkan nasihat untuk lebih sabar, juga mengajarinya mengontrol emosi, mengajarinya bagaimana menghadapi teman yang usil, dan lainnya.
Dengan cara demikian si Adik lebih memahami nasihat maminya, ketimbang melalui cara dikasih tahu layaknya diinterogasi.
Kesimpulan dan Penutup
Being a mom, terlebih menjadi single fighter mom dari anak-anak lelaki yang fatherless. Tentunya dibutuhkan hati dan mental yang kuat, terutama ketika menghadapi masalah anak dilaporkan memukul teman sekolahnya.
Kunci utamanya adalah, ibu harus tenang dulu, jangan langsung bereaksi terhadap anak. Segera menjauh dari anak untuk bisa lebih tenang.
Setelah tenang, barulah mulai menghadapi masalah tersebut, dengan menanyakan kejadiannya pada anak secara baik dan anak tetap nyaman.
Setelah mendapatkan cerita versi anak sendiri, barulah menyelesaikan dengan parents lain.
Kunci penyelesaiannya pun terletak dari caranya yang baik. Jika melalui tulisan (via chat), pastikan untuk menulis dengan sebaik dan sesopan mungkin, pakai lebih banyak gaya asertif (fokus ke diri anak, tidak menyerang anak orang).
Hindari denial terlalu keras, untuk meminimalisir permusuhan di antara sesama parents. Lalu arahkan anak untuk minta maaf.
Karena pada akhirnya, anak-anak mah bakalan baikan lagi, melupakan permusuhan mereka. Karenanya parents harus benar-benar bijak dalam bertindak, agar tak menimbulkan permusuhan dan dendam.
Baubau, 21-05-2026



Post a Comment for "Ketika Si Adik Dilaporkan Mukul Teman Sekolahnya"
Link profil komen saya matikan ya Temans.
Agar pembaca lain tetap bisa berkunjung ke blog masing-masing, gunakan alamat blog di kolom nama profil, terima kasih :)